Mencari Tuhan yang Hilang

Pagi-pagi Yai Salim sudah membara.

“Hei.. Bangun!! Kamu bukannya berangkat kuliah malah terus molor di kamar. Tidur jam berapa tadi malam, hah? Sudah sholat Subuh belum?”

Seperti biasa, lelaki kurus kering ini tak bergeming mendengar ada suara seperti sambaran petir tanpa hujan. Sedikit bergerak, itu pun hanya menggeser guling yang menimpa pahanya.

Melihat tidak ada respon, Yai Salim semakin jengkel. Bergegas ia ke kamar mandi mengambil segayung air dan..

Byurr!!!

Aku hanya terpana takjub dari atas meja menyaksikan pemuda ini bahkan tak bangun bahkan setelah tersiram air. Woi.. Dasar pemalas!

Yai Salim kehabisan akal. Waktu terus berlalu. Akhirnya ditinggalkannya pemuda residu zaman ini di kamarnya yang rapi seperti tempat pembuangan akhir.

“Terserah kamu mau jadi apa!”, Yai Salim merutuk.

***

“Anton bukannya malas, nyai.. Cuma Anton sudah capek setiap hari dimarahin. Ngerjakan ini salah, itu salah, sepertinya Anton gak ada bagus-bagusnya..

Anton juga nggak mau terus-terusan begini. Sudah melamar kerja kesana kemari, tapi belum ada hasil. Ini sudah hampir setahun Anton gak tau harus ngapain. Mau usaha apa juga nggak ada modal.

Anton juga minder kalau ketemu teman-teman. Semua sudah bekerja, berpenghasilan, dan bahkan ada yang sudah menikah. Hhhh…”

Pemuda ini terisak-isak dalam semilir angin sore. Suara sumbang bercampur pilek, desau angin, dan aroma mekar kamboja rasanya semakin menambah kelam suasana. Aku hanya bisa mendengar dari balik tas sambil memikirkan, betapa gelisah perasaan Anton.

“Nak sudah menjelang malam. Pulanglah.. Mbah mau membersihkan rumputnya dan ingin segera pulang juga..”

“Iya mbah. Ini sekalian nitip 5000 mbah, buat belikan air mawar. Tolong nanti sekalian dikasih ya mbak..”

Mbah Sarto mengangguk. Anton mengusap air matanya, merapikan bajunya, dan segera meninggalkan tempat bersemayamnya kenangan, cinta, dan masa lalu.

***

“Kamu nggak pulang, Ton?”

“Nggak mas. Di rumah gak ada yang dikerjakan. Males pulang.”

“Kamu sudah sholat belum?”

Anton menggeleng.

“Sholat dulu sana. Ini kunci kamar mandi tempat wudhu. Jangan lupa dikunci lagi, sering banyak orang buang air sembarangan gak disiram kalau sudah tengah malam.”

Anton berjalan gontai. Diletakkannya tas di pintu samping mimbar. Aku hanya bisa memandang dari kejauhan. Andai aku bisa memeluknya..

Sekitar lima belas menit kemudian anak ini kembali.

“Mas Hasan, aku sudah sholat. Numpang tidur disini malem ini boleh ya?”

“Lho kenapa kok nggak pulang?”

“Capek mas, Yai Salim marah-marah terus..”

Mas Hasan terdiam. Sejenak ia menghadap notebook, lalu ditutupnya. Mas Hasan beranjak dari kursi dan menuju ke lemari.

“Kamu sudah makan? Ayo makan sama mas. Ini ada jajanan pasar, tadi dikasih sama jamaah. Kalau mau minum, itu dispenser sudah mas nyalakan juga. Tapi itu cuma air panas sama air biasa, nggak ada air dinginnya.”

“Nah ini mas yang ditunggu.. hehehe..”

Dua anak manusia ini makan dengan nikmat. Mungkin zaman sudah mengajarinya bahwa kebahagiaan itu bukan lagi tentang makan apa, tapi tentang bagaimana. Meski hanya sepotong pisang goreng, combro, dan singkong rebus, kadar kenikmatannya melebihi dari makannya orang di gedung-gedung restoran yang sering makan bersisa atas nama table manner.

“Anton..”, ujar Mas Hasan membuka topik baru.

“Kamu ada masalah apa sama Yai Salim?”

Anton terdiam sejenak.

“Nggak ada apa-apa mas. Biasa aja, Yai Salim sering marah kalau aku nganggur di rumah. Nyari kerjaan sulit mas.. Aku sudah putus asa. Harus kemana lagi masukkan lamaran kerja..”

Sekarang giliran Mas Hasan yang terdiam.

“Kenapa kamu nggak buka usaha sendiri aja?”

“Mau usaha apa? Dimana-mana butuh modal mas..”

“Banyak. Kamu aja yang mungkin nggak tau. Hari ini kamu bisa bisnis dari rumah, lewat sosial media, internet. Coba kamu tanya temen-temenmu di Facebook, mungkin mereka sudah ada yang mulai berbisnis duluan.”

Anton hanya diam sambil mengunyah potongan terakhir pisang gorengnya. Mungkin sambil membayangkan betapa ngerinya ia membuka Facebook dan melihat teman-temannya sibuk memamerkan kesuksesan pekerjaan dan anak-anak mereka.

“Sebentar, kalau mas lihat, masalahmu bukan itu sih kayaknya.. Mas kenal kamu sejak lama. Kamu berprestasi dan cerdas. Tapi sepertinya ada satu yang kurang..”

“Apa mas?”

“Kapan kamu terakhir sholat Tahajud?”

Anton tak menjawab dan tampak tak ingin menjawab,

“Seminggu lalu Yai Salim sebetulnya sempat ngobrol sama mas cukup lama. Beliau menceritakan tentang kamu, Ton. Yai Salim resah kamu berubah. Yai Salim merawat kamu sejak kecil, sejak kamu diambil dari panti asuhan, tidak untuk seperti sekarang..”

Mas Hasan mengambil cangkir di sampingnya dan berdiri menuju ke arah dispenser.

“Ini kamu minum dulu nanti keselek..”

Anton mengulurkan tangannya dan masih dalam diam. Tersentak.

“Yai Salim sebetulnya tidak pernah mempermasalahkan tentang pekerjaanmu. Yang beliau permasalahkan adalah tentang iman. Sejak kamu lulus sampai sekarang, Yai Salim bilang kalau kamu sudah gak pernah lagi berjamaah ke masjid, sholat tepat waktu, bahkan seringkali sholat isya di waktu subuh dan sholat subuh menjelang dhuhur..”

Anton kelihatan mulai gelisah. Dipeluknya kedua lututnya sambil bersandar di pilar kayu.

“Rejeki itu Allah yang punya, Anton. Segalanya. Seutuhnya. Ini ilmu paling mendasar tentang rezeki, kata Pak Kyai. Mas bukannya ingin menggurui, tapi mas ingin berbagi ilmu yang dulu pernah mas dapat waktu mondok di pesantren.

Dulu.. Pak Kyai sering bilang kalau ilmu hidup di dunia itu ada 2, syukur dan sabar. Tanpa syukur, kesabaran hanya akan berakhir pada kesombongan. Tanpa sabar, kesyukuran hanya akan menjadi fatamorgana. Bagian dari kesabaran adalah tidak pernah euforia menghadapi gejolak dunia dan tetap ingat bahwa tujuan akhir kita memberi manfaat sebesar amanah Allah untuk dipertanggungjawabkan di hari akhir.

Menjadi apapun itu tidak pernah dipaksakan dalam agama kita. “Menjadi apa” hanya masalah pilihan pengabdian. Ada yang menjadi pedagang, menjadi birokrat, menjadi dokter, nelayan, petani, dan segala macamnya.

Jadi logikanya nggak nyambung kalau kamu merasakan himpitan kehidupan, lalu lupa bahwa pemilik segala di bumi ini adalah Allah dan tugas kita hanya tinggal ikhtiar. Bukannya malah semakin merapat kepada Allah malah semakin entah kemana. Itu namanya tiada syukur dan sabar sama sekali dalam jiwa kita..”

Anton mulai menerawang. Aku masih ingat satu setengah yang lalu sebelum lulus Anton masih ikut jadi panitia pengajian akbar di kampusnya.

“Coba kamu lihat kembali ke dalam dirimu sendiri. Bersyukurlah Allah memberi ujian dengan himpitan, karena ujian yang lebih berat adalah kelapangan. Coba nikmati setiap himpitan yang kita alami dengan kesabaran demi kesabaran. Mungkin Allah ingin kita menjadi matang dalam kehidupan. Mungkin Allah malah ingin kamu jadi pebisnis. Kan kalau dilihat-lihat itu biografi orang sukses dalam bisnis, susah semua kan awalnya? Hehehe..”

“Mas Hasan.. Mas bener. Aku sudah terlalu disibukkan dengan ketakutan akan masa depan..”

“Nah itu yang mas maksudkan. Tidak pantas kita ini takut akan masa depan sementara kita memiliki senjata yang diberi oleh berupa pengetahuan tentang syukur dan sabar. Kamu tidak bisa melarikan diri dari dunia dengan tidur dan begadang. Lebih parah lagi kalau kamu disibukkan dengan meratap dan menyendiri. Mendekatlah kepada Allah Azza wa jalla dengan berjalan, Allah akan mendekat kepadamu dengan berlari..”

Anton menundukkan kepalanya, wajahnya tersembunyi di balik kedua lututnya. Suaranya bergetar. Punggungnya naik turun. Tangannya mendekap erat tungkai, dan.. terdengarlah isak lirih..

Mas Hasan bergeser merapat ke tubuh Anton. Dipeluknya orang yang sudah dianggapnya sebagai adik itu dari samping. Ruangan terasa makin hangat di bawah temaram lampu 5 watt.

“Ya sudah.. Kamu istirahat aja dulu sekarang. Itu kasur gulung pake aja. Nanti malam mas bangunkan, kita sholat tahajud bareng.. Sudah.. Nggak apa-apa.. Kita sekarang berubah, rezeki iman itu jauh lebih baik dari rezeki apapun..”

Anton mengangguk, menyeka air matanya, dan menarik nafas panjang.

“Makasih Mas Hasan..” Dipeluk kembali sahabatnya dalam iman itu. Mas Hasan hanya tersenyum sambil menepuk ringan bahu dan punggung adiknya.

Sejenak kemudian Anton tampak bergegas keluar.

“Eh, Kamu mau kemana?”

“Mau wudhu dulu mas!” Kata Anton sambil berlari kecil keluar dari bilik takmir.

Sekembalinya, tampak Anton membawa sesuatu. Digelarnya sajadah, ia duduk dan membuka sesuatu yang ternyata Quran, yang diambilnya dari lemari dekat tempat wudhu.

Dan hari ini ternyata adalah hari kebahagiaanku. Setelah sekian lama sejak entah kapan, Anton kembali memakaiku untuk sebuah perubahan. Betapa sebuah hidayah dan iman sangat mahal harganya. Tak semua jiwa dapat terselamatkan dari badai dan arus kehidupan seperti ini. Ia datang hanya kepada jiwa-jiwa yang siap berubah dan menjadi pribadi yang lebih tangguh, kuat, dan tenang menantang zaman.

Diletakkannya aku diantara kedua matanya. Dibukanya halaman pertama dari kitab yang agung itu. Dan terdengarlah.. “Bismillahirrahmanirrahim…”

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s