#1 Mahasiswa Baru

Bangunan itu nampak tua. Besar. Berwibawa.  Tudungnya melancip-lancip dari bahan organik. Hitam kusam gelap. Di bagian tepinya tampak seperti ijuk melambai-lambai, berderet memanjang menghiasi seluruh tepian gentengnya. Pilar-pilar tersusun rapi menyisihi koridor pejalan kaki. Di sampingnya padang hijau membentang luas dengan tulisan “Dilarang menginjak rumput”. Ini gedung tua, menir-menir Belanda pernah main bola dan main kelereng disini. Pak Presiden Soekarno pernah begadang sambil ngopi, atau bahkan mungkin pernah merayu salah seorang mahasiswi disini. Pun, mereka yang bersepatu lars tinggi juga pernah menghentak-hentak tanahnya, dan menghantamkan senapannya di rusuk dan kepala penghuninya. Ini gedung tua penyimpan sejarah peradaban manusia, banyak kisah cinta lahir disini, tak sedikit juga yang menghadap Ilahi ketika masih menjadi penghuni disini. Ini gedung istimewa, tak pernah jelas kapan lahirnya, kadang tahun 1920, kadang tahun 1958, tergantung suka-suka penghuninya. Ini gedung, sebagian orang sedih dan miris jika mendengar namanya, terutama yang sudah terlalu lama melapuk tak lulus-lulus. Sebagian yang lain berkebalikannya, saking bangganya, dari ujung rambut hingga ujung kaki dihiasi produk kokesma. Sebut saja topi, tas, kaos, celana, jaket, sepatu, pin. Bahkan buku tulis dan ballpoint-nya. Untung saja kokesma tak menjual celana dalam. Mungkin kalau dijual, akan habis dibeli juga. Gedung ini sering disebut : ITB.

Ya, ini hari pertama aku akan memasuki secara resmi gedung nan megah itu. Teringat masa-masa lalu dimana aku begitu inginnya menjadi bagian dari sejarahnya. Sejak ketika aku menyadari bahwa dari gedung ini pernah lahir banyak pemimpin bangsa, maka aku bertekad bulat sebulat-bulatnya untuk masuk. Tapi yang jelas bukan hanya masuk gedung saja lho, tukang gorengan juga sering kalau hanya masuk. Maksudku, aku bertekad untuk bisa menjadi bagian dari 3000 mahasiswa baru yang diterima oleh gedung ini setiap tahunnya. Dan hari ini, Alhamdulillah, takdir itu milikku.

Dulu aku sering aku berkhayal-khayal sendiri, betapa indahnya jika aku masuk menjadi mahasiswa disana. Namun di kemudian hari setelah aku renung-renungkan, ini tergolong dari lima penyakit yang harus dijauhi, kawan. Aku terus terang saja. Karena ketika sudah masuk menjadi bagian gedung ini, khayalanmu akan buyar seketika. Yang tersisa sebagian besar adalah deraan 99 rintangan dan 33 ujian demi mencari angka keramat dan lembar suci. Begitu banyak mahasiwa yang masuk membusungkan dada, bergaya karena dia raja di sekolahnya. Setelah masuk di gedung perkabungan ini, teman-temannya terpaksa harus mengheningkan cipta karena ianya syahid diatas kertas ujian kimia tanpa ampun. Ini aku sebut ia telah menderita lost-world syndrome. Mereka ini seperti orang yang  jalan adem-ayem, tiba-tiba… Dhuar!! Ia ditabrak dari belakang karena salah memilih jalan, ternyata ia sedang bersepeda fixie di jalur busway. Dikira tanah ini masih tanah jajahannya yang ia masih bisa berhaha-hihi. Padahal disini sudah bersemayam raja-raja bumi yang tak kenal ampun. Apalagi nanti kau akan kuceritakan, sebuah kerajaan kecil yang melegenda, yang doyan menghukumi para mahasiswa penderita lost-world syndrome.

Oya, sebetulnya hari ini bukanlah hari pertama sekali. Beberapa hari yang lalu aku melalui sebuah momen unik yang disebut OSKM. Entah kenapa banyak orang memandang negatif OSKM. Bayangannya mungkin ada pemukulan, penyiksaan, pembantaian, atau bahkan penindasan. Padahal memang iya. Hehe.. bercanda. Jauh, jauh panggang dari api jika ada yang mengatakan demikian. OSKM kemarin adalah momen pembelajaran yang unik. Kami angkatan baru ITB, diberi nama Satria – Srikandi. Satria adalah julukan untuk peserta OSKM laki-laki, dan Srikandi adalah peserta OSKM perempuan. Dari panggilan itu, penanaman moralitas dari mahasiswa baru dibentuk (ciee bahasanya..)

Satria dan Srikandi ini adalah sebuah penanaman sikap mental yang mendalam. Mungkin kita harus melakukan riset pendahuluan terlebih dulu jika kau bertanya sampai sejauh mana outcome dari nama julukan tersebut. Tapi yang jelas, kami sebagai mahasiswa baru, bangga dengan sebutan itu, dan kami terpacu untuk mewujudkan kalimat itu, hingga menjadi bukan sekedar kata-kata.

Rajawali

WS. Rendra

sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

 

satu bait pertama dari puisi WS Rendra itu sering dirapalkan sebagai mantera oleh danlap kami. Berbuih-buih dan sampai memerah mukanya menjeritkan kalimat itu dihadapan mahasiswa baru. Jika danlap sudah bertitah, kami ribuan mahasiswa baru ini sontak terdiam. Doktrinasi dimulai. Titah-titah danlap meluncur menggerus emosi, membangkitkan kebanggaan, dan menyempurnakan penantian panjang kami demi menjadi mahasiswa baru di kampus penuh misteri ini.

Danlap  : Siapa kalian????

Kami      : DUA RIBU EMPAATT!!!!

Danlap  : Dua Ribu Empaaaaatttt ?!!

Kami      : IIIIITEBEEEEE..!!!!!

Danlap  : ITEBEEE…?!!!

Kami      : ITEBE ITEBE ITEBEE..!!!!

Dialog kolosal ini terus menggema dalam setiap jejak OSKM. Ini membuat kami mahasiswa baru selalu mengenangkannya sebagai momen penuh semangat. Tentu sebagian besar mahasiswa baru ini masih menderita lost-world syndrome, yang sebagiannya akan tersentak dan tersadar ketika menyentuh lembar ujian pertama kali dan menderita tiada akhir di lembar-lembar berikutnya.

Dialog ini biasanya ditutup dengan satu salam :

Danlap  : Demi Tuhan Bangsa dan Almamater, Salam GANESHAAAAAAAA MULAI!!!!

Kami      : SALAM GANESHA, BAKTI KAMI UNTUKMU TUHAN, BANGSA, DAN ALMAMATER !!!!!

Seketika bergetar Bumi Ganesha 10 itu menyambut teriakan segerombolan mahasiswa-mahasiswa culun tersebut.

Sesi bersama danlap itu sebetulnya singkat, namun dalam hati aku melabrak-labrak Einstein, mengapa ia bisa-bisanya menemukan teori relativitas?? Dan teori itu menemukan medannya ketika sang Rahwana bergerak.

“Rahwana… kondisikaannn…!!!!” Jerit sang danlap.

Seketika, manusia-manusia berwajah angker bergerak seperti serombongan pelahap maut dalam fiksi Harry Potter. Waktu seakan berhenti berdetak. Para mahasiswa yang menderita sial karena sepatunya basah akibat hujan kemarin dan akhirnya terlambat makin menjadi-jadi saja umpatannya. Kalau ia mahasiswa dari Jawa Barat, mungkin ia akan mengumpat dalam hati “Anying siah..!!” Kalau ia mahasiswa dari Jawa Tengah, mungkin akan berseru “Bajigur..!!” Kalau ia mahasiswa Jawa Timur, pasti akan berkata “jancokk..!!”

Manusia-manusia ini berusaha menciptakan agitasi untuk meningkatkan alur suasana agar mahasiswa baru seperti mahasiswa Teknik Mesin yang berada di belakang  dan tengah menggoda mahasiswi baru Biologi dalam satu kelompok OSKM-nya itu kembali fokus pada acara. Agar mahasiswa Teknik Elektro dan Teknik Perminyakan yang ada di ujung sana tersentak dari lirikan-lirikannya kepada mahasiswa Teknik Lingkungan atau Teknik Industri. Ini semua jelas dilakukan demi kesempurnaan acara, kawan. Agar WS Rendra tak menangis sia-sia, puisinya dibaca dihadapan mahasiswa-mahasiswa baru tak tahu diri seperti kami, sedang kami malah asyik main tebak-tebakan atau malah tertidur ayam.

“Ngapain kamu terlambat?!!” Teriak seorang Rahwana kepada mahasiswa.

“Ngg.. Nganu mbak.. nganu..” Tak jelas bicara mahasiswa ini. Gemeringging kakinya.

“Nganu.. nganu..!! Nganu apa?!” Teriak si mbak ini sambil menahan tawa.

“Nganu mbak.. Wes mbak saya pasrah aja mbak, mau dihukum apa wis monggo..”  Kata si Jawa ini memelas sambil siap-siap untuk push-up.

Si mbak Rahwana terkesima. Entah sedih entah bahagia. Sebegitunya sampai si mahasiswa baru ini pasrah dihukum padahal belum jelas salahnya apa. Akhirnya mbak Rahwana pun pasrah juga. Ditinggal lah mahasiswa ini. Inilah kekuatan mahasiswa Jawa, nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake. Menang tanpa bala bantuan, menang tanpa merendahkan.

“Yess..!!” Kata si mahasiswa. Tidak sadar dia, ternyata si mbak sempat melihat kebahagiaan lelaki sial itu.

“Turun kamu satu seri sekarang..!!!”

Tampaknya peribahasa tadi kurang tepat diterapkan untuk lelaki jawa bernasib sial itu.

Momen OSKM lainnya adalah kebahagiaan semua. Banyak agenda, mulai dari talkshow dengan tokoh-tokoh bisnis yang ber-almamater kampus ini, sampai tokoh politik yang belakangan senyuman penuh arti-nya sering muncul di TV. Senyum kemenangan atau senyum kelicikan aku tak tahu. Tapi hampir semua tokoh politik senyumnya mirip-mirip semua.

Juga kami dipertemukan dengan tokoh gerakan mahasiswa dulu yang sempat dipenjara dan menyelesaikan kuliahnya selama 11 tahun. Mengarungi UTS dan UAS-nya di penjara, sambil ditemani sang pacar yang membawa kunci jawaban dari dosennya. Mungkin kasihan si dosen dengan mahasiswa ini, sehingga diberikanlah ujian + kuncinya. Ini perjuangan mahasiswa zaman baheula yang membuat kami terenyuh.

“Namun ini bukan berarti zaman sekarang kamu juga harus ikut-ikutan dipenjara! Itu ngawur namanya. Tugas kalian sekarang adalah mengisi perjuangan lalu. Catat, semangat perjuangan menentang kezhaliman itu harus tetap ada, tapi sekarang sudah beda masa. Perjuangan itu harus kalian isi dengan karya nyata, menentang penjajah ekonomi bangsa kita, menentang koruptor bangsa kita yang tidak tahu diri, menentang antek kapitalis itu dengan otak kita..” Seru si Abang tersebut. Kami akrab memanggilnya dengan kalimat “bang” ketimbang “pak” atau “mas”, meskipun kami sudah pantas untuk menjadi anak bungsunya. Tapi jangan coba-coba memanggil bapak dosen di kelas – meski umurnya relatif tak jauh dengan abang aktivis itu – dengan panggilan “bang dosen”. Bisa langsung DO nanti. Hehe..

Demikian OSKM itu berlalu, banyak kenangan yang masih menyisakan senyuman. Mungkin inilah yang membuat OSKM terus langgeng. Menjadi satu tradisi penerimaan mahasiswa baru, yang selalu menggugah dengan jiwa besarnya, menyentuh kami the freshmen dengan slogan, “Selamat datang wahai calon pemimpin bangsa!”

 

 

Advertisements

4 thoughts on “#1 Mahasiswa Baru

  1. “pegang tas temannyaaaaaa..!!!”
    dan sialnya saya waktu itu, menjadi yang terpendek di barisan kelompok, berdiri tepat di belakang ketua kelompok yang berpostur paling tinggi. mungkin biar papan kelompoknya mudah terlihat.. -__-”

    like this My..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s