#2 Kalkulus

Sampailah aku di kelas. Cukup surprise juga melihat wajah-wajah membara dan mata yang berkilat-kilat dari setiap manusia yang duduk di kelas ini. Aku pikir, aku akan bertemu orang-orang yang ketawa haha-hihi di sudut kelas atau bergerombol diluar saat guru belum tiba – seperti masa SMA dulu. Namun kali ini tidak. Tampak barisan wajah-wajah yang seolah akan meraih IP-4 semua. Jujur aku terintimidasi. Muka-muka yang seperti lapar dan siap menerkam setiap lembar halaman buku kuliah. Entah faham entah tidak, wajah-wajah ini nampak serius sekali membaca dan menenteng buku putih nan sakral yang termasyhur itu. Bagian depannya tertulis huruf kapital tegas : KALKULUS. Di tepi bagian bawah tertulis siapa komposer barisan melodi angka-angka dan kalimat -kalimat matematika di dalamnya : Edwin J. Purcell. Nanti kau akan tahu, Purcell, adalah idola bagi mahasiswa teladan. Namun ianya juga bencana bagi mahasiswa gadungan.

Beberapa menit sebelum bapak dosen masuk, Purcell dan Calvin-Klein ini sepertinya sejajar dalam hal mode bagi mahasiswa baru. Ibarat pelengkap trend dan mode berpakaian yang paling mutakhir, belum lengkap jika hanya mengenakan kacamata Oakley, baju kaos polos Giordano, celana jeans belel, dan sepatu Nike atau Adidas, jika belum menenteng maha karya seni Pak Purcell. Nemun seiring berjalannya waktu, Purcell perlahan-lahan menjadi nama yang paling dikutuk, khususnya bagi para mahasiswa ITB yang kebetulan secara tak sengaja benar semua jawaban SPMB-nya. Aku tak main-main, jangan dirimu cepat bangga masuk ITB. Jangan-jangan jatah keberuntunganmu sudah kau habiskan untuk masuk, dan tinggal jatah deritamu yang harus kau nikmati dalam deraian peluh dan air mata selama 6 tahun ke depan untuk bisa lolos dengan selamat. Nanti, nanti ada saatnya aku akan bercerita tentang kutukan paling sempurna bagi Purcell, manusia pencipta buku Kalkulus dan Geometri Analitik bagi mahasiswa tingkat awal seperti kami ini.

Oya, ruangan kelas kami ini cukup unik. Gedung kelas ini mirip tempat duduk bioskop. Makin ke belakang, makin meninggi. Sehingga setiap mahasiswa yang mencoba untuk meletakkan kepalanya di meja akibat malamnya sibuk main Football Manager pasti akan segera tertangkap mata. Beberapa dosen yang cukup ekstrim sering memanfaatkan posisi kursi tribun ini untuk menjerat mahasiswa-mahasiswa yang tak bisa diharapkan. Ini salah satu momen yang paling ekstrim yang pernah saya rasakan di beberapa tahun mendatang: Continue reading

#1 Mahasiswa Baru

Bangunan itu nampak tua. Besar. Berwibawa.  Tudungnya melancip-lancip dari bahan organik. Hitam kusam gelap. Di bagian tepinya tampak seperti ijuk melambai-lambai, berderet memanjang menghiasi seluruh tepian gentengnya. Pilar-pilar tersusun rapi menyisihi koridor pejalan kaki. Di sampingnya padang hijau membentang luas dengan tulisan “Dilarang menginjak rumput”. Ini gedung tua, menir-menir Belanda pernah main bola dan main kelereng disini. Pak Presiden Soekarno pernah begadang sambil ngopi, atau bahkan mungkin pernah merayu salah seorang mahasiswi disini. Pun, mereka yang bersepatu lars tinggi juga pernah menghentak-hentak tanahnya, dan menghantamkan senapannya di rusuk dan kepala penghuninya. Ini gedung tua penyimpan sejarah peradaban manusia, banyak kisah cinta lahir disini, tak sedikit juga yang menghadap Ilahi ketika masih menjadi penghuni disini. Ini gedung istimewa, tak pernah jelas kapan lahirnya, kadang tahun 1920, kadang tahun 1958, tergantung suka-suka penghuninya. Ini gedung, sebagian orang sedih dan miris jika mendengar namanya, terutama yang sudah terlalu lama melapuk tak lulus-lulus. Sebagian yang lain berkebalikannya, saking bangganya, dari ujung rambut hingga ujung kaki dihiasi produk kokesma. Sebut saja topi, tas, kaos, celana, jaket, sepatu, pin. Bahkan buku tulis dan ballpoint-nya. Untung saja kokesma tak menjual celana dalam. Mungkin kalau dijual, akan habis dibeli juga. Gedung ini sering disebut : ITB.

Ya, ini hari pertama aku akan memasuki secara resmi gedung nan megah itu. Teringat masa-masa lalu dimana aku begitu inginnya menjadi bagian dari sejarahnya. Sejak ketika aku menyadari bahwa dari gedung ini pernah lahir banyak pemimpin bangsa, maka aku bertekad bulat sebulat-bulatnya untuk masuk. Tapi yang jelas bukan hanya masuk gedung saja lho, tukang gorengan juga sering kalau hanya masuk. Maksudku, aku bertekad untuk bisa menjadi bagian dari 3000 mahasiswa baru yang diterima oleh gedung ini setiap tahunnya. Dan hari ini, Alhamdulillah, takdir itu milikku.

Dulu aku sering aku berkhayal-khayal sendiri, betapa indahnya jika aku masuk menjadi mahasiswa disana. Namun di kemudian hari setelah aku renung-renungkan, ini tergolong dari lima penyakit yang harus dijauhi, kawan. Aku terus terang saja. Karena ketika sudah masuk menjadi bagian gedung ini, khayalanmu akan buyar seketika. Yang tersisa sebagian besar adalah deraan 99 rintangan dan 33 ujian demi mencari angka keramat dan lembar suci. Begitu banyak mahasiwa yang masuk membusungkan dada, bergaya karena dia raja di sekolahnya. Setelah masuk di gedung perkabungan ini, teman-temannya terpaksa harus mengheningkan cipta karena ianya syahid diatas kertas ujian kimia tanpa ampun. Ini aku sebut ia telah menderita lost-world syndrome. Mereka ini seperti orang yang  jalan adem-ayem, tiba-tiba… Dhuar!! Ia ditabrak dari belakang karena salah memilih jalan, ternyata ia sedang bersepeda fixie di jalur busway. Dikira tanah ini masih tanah jajahannya yang ia masih bisa berhaha-hihi. Padahal disini sudah bersemayam raja-raja bumi yang tak kenal ampun. Apalagi nanti kau akan kuceritakan, sebuah kerajaan kecil yang melegenda, yang doyan menghukumi para mahasiswa penderita lost-world syndrome. Continue reading