#3 Tragedi Hwang Ho

“Ilham…!! Kamu bawa kompor listrik ya?!!”

Tiba-tiba suara seperti nenek sihir menggelegar bak petir di malam hari itu, sedikit mengolengkan panciku yang masih mengepul-ngepulkan uapnya. Bagiku, kadang-kadang uap tersebut seringkali terlihat seperti tangan manusia tengah tertangkup, seolah-olah sedang menghormati Anders Celcius dan Daniel Fahreinheit yang telah berjasa menisbahkan angka-angka yang dapat meloncat setiap ia kegerahan.

Gawat.

Tanpa pikir panjang, kumatikan kompor dan langsung kutindihkan saja tumpukan baju kotor yang menggunung di sampingnya persis. Bluk! Sempurna, tak kelihatan. Dan tiba-tiba nenek sihir itu seketika muncul meraksasa di hadapanku. Sepertinya ia punya indera keenam yang mampu melihat setiap gerak-gerik anak kosnya yang tak sesuai aturan.

“Mana kompor listrikmu?!!”

“Nggak ada, bu. Tuh.. ga ada..”

“Itu kata Bik Puji?! Katanya tadi kamu diam-diam ambil panci dibawa keatas..”

“Ah nggak bu.. itu mungkin perasaan Bik Puji aja..”

Pandangan ibu kos menyelidik.

“Awas ya kalau ketahuan masak…!”

Aku diam saja menunduk. Si nenek sihir keluar. Aku tersenyum penuh kemenangan. Yes..!!

Sesaat. Gila.

Tercium bau hangus.

Dan benar, Kawan-kawan. Bajuku gosong dan berasap dimana-mana!

“Ilhaammmm………….!!!!!”

***

Jo podo nelongso..

Jamane jaman rekoso..

Urip pancen angel..

Kudune ra usah ngomel..

Ati kudu tentrem..

Nyambut gawe karo seneng..

Ulat ojo peteng..

Nek dikongkon yo sing temen..

La’o podo konco..

ati kerep loro..

ra gelem rekoso..

mbudidoyo..

Pancen kabeh podo, pingin urip mulyo

Wiwitan rekoso..

pancen nyoto..

(koes plus)


Irama pop Jawa ’70-an itu berdendang-dendang menembus pintu kamarku. Menderit-derit merana dari sebuah Sony Compo.

Jujur saja, sebagai rakyat jelata yang lahir dari rahim orang Jawa, aku terlahir untuk takzim pada lagu-lagu beraroma Jawa yang hingga kini mulai langka. Oleh karena itu penyanyi kesayanganku bukanlah sejenis Michael Learns to Rock atau Air Supply, tapi genre Didi Kempot dengan Kutha Solo, Koes Plus, and all that Jazz. Aku tak tahu kenapa, tapi rasanya bersemangat saja, aura proletar yang setiap hari harus memanggul pacul ke sawah atau berjibaku di pasar-pasar tradisional demi mengais rupiah demi rupiah mengalir membanjiri otakku. Budaya masyarakat Jawa yang Jer Basuki Mawa Beya rasanya menyuntikkan beberapa cc adrenalin yang membuat aku senantiasa gerah jika harus terdiam dalam waktu yang lama.

Tapi jika mengingat bahwa tak 100% aku berdarah Jawa, bangkit naluri dan gairahku bersastra merangkai-rangkai kata. Tak boleh aku mengkhianati darah moyangku yang pernah menjadi ketua rombongan orkes melayu abdi kumpeni. Maka pemusik idolaku adalah Iyeth Bustami dalam Laksamana Raja di Laut, atau Alfian dalam Sebiduk Sungai Musi, meskipun disekitarku hadir musisi-musisi progressif semacam Sheila on 7 dan Padi.

Orangtuaku pernah bercerita, bahwa dulu di kota kami, ketika zaman belum sekejam hari ini, di Palembang ada sebuah acara radio yang disiarkan dengan judul Batanghari 9. Jika sudah tiba saat Batanghari 9 berputar di pangkal jam 21.30 hingga usai di 23.30, berratus-ratus telinga anak muda usia yang tengah merantau dari kampung-kampung kabupaten Sumatera Selatan macam Ogan Komering Ilir dan Ulu, Sekayu, Muaro Enim, terpicing di radio. Bak masyarakat melayu pada umumnya yang status quo, mereka berkumpul di malam hari dan cukup bahagia ditemani sebuah gitar dan bercangkir-cangkir kopi hitam. Sambil mendengarkan Batanghari 9 mereka berdendang, menari, bercerita, berleha-leha menikmati hidup. Beberapa mereka yang trance akibat kerinduan akan kampung halaman akan berteriak-teriak“Umaakkk…!!” atau “Indoookkk…!!” dengan mata terpejam-pejam menahan beban kerinduan yang sangat akan kampung halaman.

Satu lagi kelebihan orang Palembang, mereka pandai sekali berkelakar. Istilah mereka adalah besak kelakar. Sepertinya mereka memang ditakdirkan hidup di dunia dengan potensi itu. Bahkan konon diksi “kelakar” sendiri diserap dari budaya mereka. Satu contoh, jika kau berkunjung ke Palembang, sangat mungkin kau akan bertemu dengan diskusi-diskusi seperti ini:

Darimano, Mangcik?”

Biaso lah, ini dari pasar Cinde..”

Ngapo beli palak iwak galo tu?”

“Aii.. iyoo.. ini, buat makanan kucing..”

Dan ternyata kucing di rumah itu dirinya sendiri. Yang mengesankan, baik yang bertanya maupun yang ditanya sama-sama mafhum akan hal itu. Tapi demi menjaga harga diri saudaranya, diiyakan saja dengan takzim, karena si pembeli tak mampu merendahkan harkatnya demi membeli kepala ikan karena saking terbelit ekonomi yang tak kunjung pasti.

“Ilham, kecilkan sedikit radiomu… Aku ga iso sinau, iki. Aku mau quiz nanti jam 9. Butuh ketenangan..” kata Raga, mahasiswa Elektro, pembelajar sejati tak kenal putus asa. Tak bosan-bosan ia menatap buku dan layar komputernya demi menderas angka-angka. Hampir tiap menit tak ingin ia sia-siakan dalam ketiadaan ilmu. Tapi ada yang unik, selain hobi belajar, ia memiliki satu hobi lagi, menonton film. Film idolanya: Malena. Bintang film idolanya: Monica Belluci. Raga, seangkatan denganku.

Nanti jika tiba saatnya, akan aku ceritakan tentang sahabatku yang satu ini.

“Oke, bro.. Aku pergi dulu ya ke kampus..”

“Lho, ngapain kok pagi-pagi?” sejenak terganggu konsentrasinya.

“Ndak, apa-apa.. lagi pengen aja..” Jawabku sambil tersenyum simpul.

***

“Hei.. Sudahlah.. Dikosanku aja. Enak, lho. Kamarnya bersih, bangunannya masih baru. Ngapain kamu cari-cari kosan lagi…” ujarku pada Raga waktu itu.

Dan sekarang ia menagih janjiku.

“Mana katamu nyaman? Aku tinggal di gua kegelapan. Kalian enak di lantai dua. Kalau malam seperti ada hantunya berderik-derik di atas loteng..”

Aku hanya menggigil menahan tawa melihat ekspresinya yang menggabungkan keseriusan, kecemasan, dan ketakutan.

Dan seringkali juga kejadiannya seperti ini:

“Anjriitt….!!!” Terdengar umpatan dari dalam kamar mandi.

Aku sebagai orang dengan kamar terdekat dari kamar mandi sontak merespon.

“Kenapa, Ga??”

“Anjrit, ini air mandi apa comberan?! Kayak sungai Hwang-Ho gini warnanya…”

Kali ini aku yang tertawa berderai-derai mengucurkan air mata.

Sebenarnya kosan ini cukup baik dari segi bangunan; langsung menghadap jalan dengan tangga yang berada di luar rumah. Jadi jika kami hendak pulang malam atau keluar pagi, akses tak terbatas. Masing-masing penghuni kosan punya kunci pintu utama. Kalau digambarkan secara sederhana, begitu kau memasuki pintu utama dari luar, kau langsung akan menemukan jalan lurus berkeramik dengan kamar-kamar di sisi kanan dan kiri.Seluruh lantai baru dan bersih. Kamar-kamar pun baru di cat semua. Tidak ada pintu yang rusak, ventilasi nyaman –ya, kecuali kamar Raga – udara bersih. Jika kau bangun pagi, cahaya matahari memasuki hampir setiap kamar – lagi-lagi, kecuali kamar Raga – dan sore hari menjelang maghrib udara sejuk melambai-lambaikan korden menyelinap masuk menyapa setiap menghuninya dengan lembut. Furnitur di kamar cukup lengkap dan tidak terlalu buruk. Sederhana dan baik. Di luar kamar terdapat ruang bersama yang biasa kami gunakan untuk menonton televisi atau berdiskusi. Tentang banyak hal.

Jika berjalan terus tanpa memasuki kamar atau berhenti di ruang bersama, kau akan langsung menemukan tangga ke bawah, dan itu satu-satunya jalan untuk menuju kamar Raga, kamar mandi bawah, dapur, dan gudang. Satu kamar mandi lagi ada di lantai 2, persis sebelum kau menemukan tangga untuk turun ke kamar Raga.

Bersama kami semua ada mata-mata ibu kos yang selalu jadi telik sandi bhayangkara dalam mengamati setiap kegiatan kami di atas. Namun selain tugas telik sandi, Bik Puji juga bertugas sebagai pencuci baju kotor kami. Namun, tentu saja, tidak gratis.

“Bik.. Cuciin baju saya dong..” kata Kalces suatu ketika.

“Boleh, cep…”

Sore harinya, tertempel tagihan di pintu kamar Kalces.

Dan seperti yang sudah kubilang di awal tadi, airnya memang naudzubillahi min dzalik, kuning dan kotor. Sering kami mengingatkan kepada ibu kos, tapi lagi-lagi, tak pernah ada jawaban yang betul selain “Kamu ini protes saja..! Saya sudah keluar uang banyak tau untuk pasang Jet-Pump.!!

Rasanya aku ingin berteriak “Ya itu urusan ibu! Mau jet-pump kek, maupun jet-lag kek, mau jet-ski kek, masak saya harus kena panu setiap minggu hanya gara-gara mandi disini? Masak saya harus pergi ke mushola terdekat setiap jam 3 pagi untuk sembunyi-sembunyi mandi di kamar mandi mushola kalau sudah ga betah lagi mandi pakai air sungai Hwang-Ho ini?”

Yang paling mencekam adalah prahara jam 3 pagi, ketika kami semua baru meniti hari ke-60 di Bandung.

Malam itu aku dan Fendra sedang tidur di kamarku, ketiduran setelah ngobrol bertiga ngalor ngidul tentang apapun. Raga cukup tertib, ia tidak asal meluruskan kaki dan langsung tidur, tapi cuci kaki dulu, sikat gigi, turun ke gua-nya, mematikan lampu, baru tidur dengan indah. Berbeda dengan aku dan Fendra, yang asal ketemu guling, bantal, dan kasur, bisa langsung tidur. Raga bukan pria yang seperti itu. Dan kami bukan pria seperti Raga.

Sekitar pukul 3 pagi. Ketika itu lautan kabut sedang merendam kota Bandung, dedaunan sedang dalam posisi puncak meditasinya, dan burung-burung pipit entah pergi kemana. Rembulan sedang awas-awasnya mengamati bintang-bintang. Bintang-bintang pun sedang dalam kondisi primanya memancarkan cahaya untuk menuntun para nelayan di laut menjaring ikan. Udara pun juga sedang melompat-lompat menuruni garis skala celcius yang cukup untuk menggemeletukkan gigi-gigi manusia dan monyet.

Ketika itulah aku terbangun.

Terbangun dari mimpi mengejar-ngejar ular. Ada-ada saja.

Tiba-tiba..

“tok… tok…tok….tok…..” ketukan dengan ritme selambat lagu Mengheningkan Cipta itu membangunkan aku. Terdengar seperti jauh sekali. Aku bangkit.

Kunyalakan lampu kamar. Kunyalakan lampu lorong luar.

Aku amati lagi. Suara itu tenggelam. Kali ini seperti ada seseorang yang menangis.

“huuuu….. huuuuu….. huuuu….”

Suara itu benar-benar mencekam. Aku lihat jam. Masih jam 3 lewat 10. Aku ikuti suara itu. Sepertinya dari bawah, di sekitar kamar Raga.

Mencekam sekali malam itu. Udara dingin, dan muncul suara-suara aneh dari sekitar kamar Raga. Benar berarti apa kata Raga: kamar bawah memang angker!

Aku mengumpulkan segenap keberanian untuk menantang takut. Aku turuni tangga itu lamt-lamat.

“Tolooong…. tolong….. tolong…. ”

Aku terkesiap. Kali ini seperti suara tercekik. Freak.

Aku tetap tabah. Tidak boleh mundur. Ini maslaah aqidah. Masak sama jin-jin aja takut? Rencanaku jika terjadi apa-apa: berteriak – lari masuk ke ruang utama bawah yang tak lain ruang utama nenek sihir – pasrah digebukin oleh nenek sihir karena lancang masuk kedalam.

Sepertinya ini rencana yang baik, karena akan menimbulkan kegaduhan, sehingga setan, tuyul, kuntilanak, pocong perawan, atau apalah yang sedang mengganggu di bawah sana tidak akan muncul lagi.

Tapi bagaimana kalau aku dicengkram dibawah nanti?

Hmm.. Rencana B-ku: pura pura mati atau pingsan. Pasti hantu-hantu itu ga akan ganggu lagi. Lalu kalau sudah lengah, aku langsung lari masuk ke dalam ruang utama lantai 1, membuat kegaduhan, nenek sihir bangun, selesai.

Ah.. rencana yang aneh.

Setiba dibawah, suara-suara itu hilang.

“Tok…. Tok….. tok…..”

Suara itu muncul lagi! Ternyata berasal dari kamar mandi.

“Tolong…. Tolong…. Huuu….. Huuu….. “

Lamat-lamat kuperhatikan. Kudekati kamar mandi itu.

Bulu kudukku berdiri. Kucoba untuk mengetuk dari luar.

“tok..tok…”

“HUAAA….!!!! HUAAA….!!!! Tolong…. Huuu…. Huu….”

Terdengar jeritan histeris. Aku kaget. Tak salah lagi. Itu RAGA ternyata.

“Raga!! kamu kenapa di kamar mandi malem-malem kayak jin lagi buang aer??”

“Kamu Ilham kan? Bukan pocong perawan?? Bang, tolong aku.. bukain dulu deh.. Oiya sebelum bukain dari luar, tolong ambilin dulu air sama gayung dari musholla depan kosan… aernya mati, bang… aku lagi boker disini…” pinta Raga dengan suara yang menyedihkan. Sedih, mengiris-iris hati. Sampai aku tak tega.

Akhirnya aku membangunkan Fendra. Memberitahu dan mengajaknya untuk membantu Raga yang sepertinya sudah keracunan aroma feses-nya sendiri.

Setelah 30 menit berselang, akhirnya Raga berhasil keluar dari kurungannya. Begitu pintu kamar mandi bawah terbuka, langsung muncul wajah Raga yang sumringah. Sepintas mirip aktor-aktor India yang baru dibebaskan dari penjara oleh Inspektur Raja. Menari-nari melenggak-lenggok. Tapi setelah itu Raga langsung koma tiga minggu karena ternyata memang benar, ia lebih tampak seperti orang habis terbekap tinja selama berjam-jam.

Advertisements

2 thoughts on “#3 Tragedi Hwang Ho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s