#2 Berantem dan Diinterogasi

Kami masih di Bandara Soekarno Hatta, tengah mengantri di pintu imigrasi. Bersama kami, ada seorang professor, seorang polisi, dan beberapa karyawan swasta biasa.Sang polisi merupakan putra dari professor. Dan professor ini merupakan guru besar dari sebuah universitas kedokteran negeri yang terbesar di Surabaya: Universitas Airlangga.

Nampak beberapa orang mengantri di hadapanku. Tak terlalu banyak pastinya, dan tidak akan terlalu lama, hanya mengecek paspor, visa, lalu pembuatan kartu imigrasi yang harus kita isi dan ditunjukkan kembali saat pulang dari luar negeri.

Beres urusan imigrasi, kami menuju ke screening barang bawaan lagi. Ini dimaksudkan agar penumpang tidak membawa bahan berbahaya atau senjata tajam yang bisa menjadi ancaman bagi penerbangan yang akan dilakukan.

Satu demi satu kami memasukkan tas jinjing, koper kecil, atau plastik-plastik bawaan. Aku sendiri hanya membawa tas punggung dan satu tas jinjing yang berisi beberapa buku untuk mengisi waktu selama 8 jam berada di perjalanan.

“Maaf, bu tolong dibuka tasnya.”Kata petugas pemeriksaan kepada seseorang di belakangku.Aku menoleh, ternyata istri professor.

Ibu berjilbab merah muda itu membuka tas kecilnya. Tampak disana beberapa botol lotion, minyak wangi, dan bedak-bedak khas wanita.

Petugas bertubuh tambun itu melihat dan memilah-milah sambil membaca tulisan yang tercantum di botol tersebut.

“Bu, yang ini ga boleh di bawa masuk ya.”Kata petugas itu kepada ibu dengan nada tak bersahabat.

Sang anak tiba-tiba berkomentar,

“Kenapa pak? Ngga ngga, ngga akan kita jual di Arab kok lotionnya..”

Rupanya maksud komentar yang sedikit bercanda itu memantik sedikit silang pendapat.

“Mas, siapa yang bilang situ mau jual?! Ini peraturan, tidak boleh membawa cairan lebih dari 20 ml ke dalam pesawat!”

Trak..!!

Bapak bertubuh tambun berkumis tebal itu melempar botol tersebut tanpa kompromi ke dalam tempat sampah.

“Heh, pak, sampeyan jangan mentang-mentang ya! Ambil lagi itu botolnya..!! Jadi petugas jangan kurang ajar!!”

Rupanya sang anak emosi melihat petugas tersebut membuang botol lotion milik ibunya tanpa menyertakan kesopanan.

“Sampeyan siapa namanya?!! Berani seperti itu sama pelanggan. Ayo ambil lagi!!”

“Pak, ini sudah peraturan tidak boleh membawa cairan lebih dari 20 mL ke dalam pesawat!Bapak mau menentang peraturan?!”

“Lho, ngelawan ya?! Sampeyan apa ngga tau tata krama. Ngomong baik-baik kan bisa, ngga perlu asal lempar! Asal bapak tau, itu belinya pakai duit pak, duit ibu saya, bukan duit Bapak..!! Siapa namanya! Tak laporkan ke komandanmu!!”

Si anak tampak emosi tak tertahankan.Pak professor tampak tak enak hati.Lalu beliau menyela perdebatan sengit itu.

“Pak petugas, sampeyan kan bisa ngomong baik-baik, ngga perlu asal lempar seperti barang sendiri ke tempat sampah.Saya yang lihat juga emosi, kok sampeyan seperti ga punya tata krama.Gimana kalau itu obat penting istri saya?”

Petugas itu diam saja, seakan angin lalu semua pembicaraan yang sudah terjadi.Ia seperti tak menghiraukan kami bicara.

Sejurus kemudian, si anak berjalan cepat mendekat kepada si petugas lalu hendak dipukulkannya tas jinjingnya kepada pria berbaju biru tua itu.

“Hey..hey..!!! nak, nak!!” Si ibu mencegah dengan memegangi tubuhnya.Aku dan satu orang lagi juga ikut berusaha mencegah pak polisi yang sudah gelap mata itu.

“Sudah, nak. Sudah… Ini kita kan perjalanan ibadah. Sudah ndak apa-apa..Ibu bisa beli lagi kok.Lotion biasa itu, lotion murah. Sudah, ndak usah rame disini, malu sama jamaah umroh yang lain..”

Aku mengedarkan pandangan.Puluhan mata sudah menatap kami seakan sirkus di tengah bandara.

Sang anak melunak, ditunjuk-tunjuknya petugas itu.

“Awas sampeyan kayak gitu lagi. Tak laporkan nggak takut saya. Kalau anak buahku sudah tak gampar kamu, dasar petugas ngga tahu sopan santun..!!” digebraknya meja stainless di hadapan kami.

Aku menghela nafas. Yang lain curi-curi pandang memperhatikan saksama gerak-gerik anak professor yang masih merah mukanya menumpahkan amarah.

Sejenak, akhirnya kami semua meninggalkan pria tambun itu.Tampak si ibu berbicara dengan anak dan suaminya.Mungkin hanya mennyalurkan ketenangan, agar si anak melunak dan tak lagi emosi.Mereka bicara sambil jalan, sesekali tangan ibu menepuk-nepuk punggung anaknya. Alhamdulillah, tidak sampai terjadi baku hantam.

Fiuhhh…

Akhirnya, nampak dihadapan kami Pak Idris, pendamping rombongan dari travel, berlari tergopoh-gopoh dari ruang tunggu boarding menuju kepada beberapa orang termasuk saya yang masih berada di luar ruang tunggu.

“Bapak-bapak ibu-ibu, ayo segera masuk.Sudah mau boarding.Kalau ga masuk awal-awal nanti antrinya panjang. Monggo langsung aja masuk ruang tunggu..”

“Oke pak, ini sudah menuju semua ke dalam..” kataku mewakili beberapa orang yang masih ada diluar.

Perjalanan ini akan segera dimulai, ya Rabb.. Berikan keberkahan bagi kami semua dalam memenuhi panggilan-Mu ini..

™˜

Sembilan jam kemudian.

Dok!

Petugas imigrasi berkulit hitam negro itu membolak-balik dan menanda paspor seseorang di barisanku dengan stempel.

“Syukron.. “, katanya sambil tersenyum. Namun petugas itu diam saja.

Sekarang giliran seorang ibu yang berdiri persis didepanku untuk maju dan memenuhi apa yang diminta petugas berwajah sinis itu. Ibu ini satu rombongan denganku dan beberapa jamaah umrah yang lain.

“Paspor?”, Tanya petugas itu datar. Si ibu memberikan dua buah buku berwarna hijau dan kuning serta beberapa lembar kertas yang terselip diantaranya.

Sesaat kemudian petugas itu bertanya kepada si ibu dengan nada berubah.Kendala bahasa membuat situasi ini menjadi tidak mudah.Ia menunjuk-nunjuk paspor dan bertanya dengan gaya khas arab. Si ibu ketakutan dan gelagapan, menggeleng-geleng tampak tak paham.Naluri kemanusiaanku terpanggil.

“I am sorry, mister. What’s wrong?”

“La engglisi. Arabiyah?”

“um.. just a little. So, madza musykilah?”

Aku merecik-recik kosakata arab sekenanya, entah benar entah tidak. Sedikit bahasa tubuhnya kubaca. Orang itu lalu meracau dalam bahasa arab dan dialeknya yang akhirnya membuatku menyerah, tak paham dengan maksudnya. Sedikit kemampuan beradaptasi kugunakan.Aku berpikir keras membaca bahasa naturalnya. Ia menunjuk-nunjuk satu item dalam paspor yang akhirnya aku paham.

“Mahram?”Tanyaku pada petugas itu.Ia mengangguk.

Ya Tuhan.Perkara itu ternyata.Kutanyakan kepada ibu itu.

“Bu, orang arab ini minta paspor mahram yang tertulis di paspor ibu.Mana orangnya?”

“Hah? Mahram apa mas? Saya ngga tau apa-apa..”

Waduh gawat. Yang ditanya dan yang bertanya sama-sama tidak tahu rupanya. Aku eja perlahan tulisan dalam visanya. Ah, Amir Syarifuddin.

“Bu, ibu umroh sama pak Amir. Mana Pak Amir-nya?”

“Pak Amir siapa mas? Ibu ngga tahu, mas..”Tampak matanya mulai berair.Gugup dan tak menentu perasaannya.

“Mas, tolong.. Masak saya nanti ditinggal di bandara sendirian ga bisa masuk..Saya umroh Cuma berdua dengan anak saya, itu juga perempuan. Ga ada Pak Amir siapa itu..”

Situasi makin rumit.

Aku akhirnya ingat, mungkin travel ini membuat “fake connection” di visa agar semua jamaah perempuan yang umroh tanpa mahram, bisa masuk Saudi. Maksudnya, setiap perempuan jika ia umroh tanpa mahram, dalam visa ia “dimahramkan” dengan salah satu jamaah laki-laki yang ikut umrah dalam satu travel yang sama. Itulah model keimigrasian di Arab Saudi.Visitor laki-laki bisa jauh lebih mudah masuk Saudi Arabia ketimbang visitor perempuan, yang harus menggunakan mahram.

Kacau ini.Pendamping umrohnya malah sudah masuk duluan.

Tapi tak kurang akal, aku persilakan jamaah di belakangku untuk masuk duluan.

“Pak. Saya minta tolong, nanti kalau Bapak sudah masuk, tolong cari orang yang pakai baju batik sama seperti yang saya pakai ini, terus bilang ke mereka, kalau masih ada rombongan yang tertinggal di belakang. Sekalian bilangi juga, tolong orang yang bernama Amir Syarifudin untuk kesini..”

“Baik mas..” orang itu bersedia membantu.

Dan finally, ternyata benar.Sesosok tua tergopoh-gopoh kembali menuju ke arahku sambil membawa dokumen paspornya.

“Ada apa mas?”Tanya pria tua itu.

Tanpa banyak tanya kuminta paspornya.

“Pak, pinjam paspornya sebentar..”

Diberikannya padaku.Langsung kuserahkan kepada petugas imigrasi yang sudah cukup kesal tampaknya melihat jamaah umroh yang tak pergi-pergi dari depannya.

“Hadza Amir Syarifuddin..”Ujarku pada petugas imigrasi.

Sejenak diamat-amatinya kedua paspor itu. Tapi mungkin sudah terbunuh rasa bosan, ia pun langsung membubuhkan stempel ke paspor si ibu.

Dok!!

Tertulis disana : 28 Sya’ban 1431 H, yang tentunya dalam bahasa Arab. Seiring dengan itu, resmilah kami semua berada dalam bumi Saudi Arabia.Labbaikallahumma labbaik..!!!

Advertisements

One thought on “#2 Berantem dan Diinterogasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s