#1 Sim salabim!

“Kriiiiinnnggg…..”

“Ya Assalamualaikum.. ”

Suara di seberang telepon menjawab,

“Waalaikumsalam.Dengan Mas Army?”

“Ya, benar. Dengan travel umrah ya?”

“Iya. Ini mau konfirmasi, mas, jadi fix berangkat umroh tanggal 9 Agustus? Kalau fix, kami mau segera issue tiket dan mengurus visanya. Soalnya sudah mepet sekali.. Beberapa hari lagi kantor kedutaan Arab Saudi sudah tidak melayani pembuatan visa umrah..”

Aku melirik jam tangan. Sudah akhir Juli ternyata.

“Bismillah. Jadi mbak. Besok semua dokumen insya Allah dikirimkan ke Surabaya. Ini masih ada yang harus diurus di Bandung.. Emm..Apa aja? Foto berwarna 4×6 sama scan paspor aja kan?”

“Alhamdulillah. Iya, itu saja. Tambah satu lagi NPWP kalau ada..”

“Sip. Ada mbak. Sudah itu aja ya?”

“Iya. Nanti kirim lewat email aja ya.. Ya sudah, gitu aja mas Army. Mudah-mudahan diperlancar urusannya.”

“Iya, terima kasih, mbak. Oke, Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam..”

Klik.

™˜Cuaca Bandung sore hari itu masih tak bosan bergerimis ria. Namun para penjual makanan, es shanghai, roti bakar, dan bakso Solo di sekitar tempat tinggalku masih tetap saja sibuk dengan dagangannya masing-masing, seakan tak kenal dengan selimut yang hangat dan secangkir kopi panas. Maklum, mungkin semua orang sudah mulai berjuang semenjak sebelum Ramadhan untuk menumpuk tabungan mudik di menjelang lebaran nanti. Ahh.. Ramadhan yang sebentar lagi menjelang. Selalu menimbulkan kesan tersendiri bagi umat muslim di seluruh penjuru Indonesia. Tak terkecuali juga diriku, seorang muslim rata-rata jebolan institut negeri di kota Kembang ini.

Duapuluh tiga kali sudah aku menjalani Ramadhan di tiga kota, yakni Madiun, Surabaya, dan Bandung, lengkap dengan seluruh ritme kehidupannya, kecuali di Madiun. Bukan karena apa-apa, karena usiaku masih tak lebih dari 2 tahun ketika meninggalkan kota tenang itu. Satu-satunya kenangan hanyalah foto dengan wajah datar bersama satu orang perempuan cantik anak tetangga yang sudah lebih besar dariku beserta sebuah boneka jerapah yang tingginya melebihi kami berdua. Katanya dulu foto itu diambil saat Ramadhan.

Lain dengan Surabaya. Setiap Ramadhan selalu memberiku kenangan yang mendalam. Mulai dari mengaji di masjid setiap ba’da tarawih dengan semua teman sekampung, sepakbola sebelum sahur, main sembunyi-sembunyian jam 12 malam, cerita-cerita hantu kala berdesak-desakan dengan kawan-kawan saat tidur di masjid sambil menunggu jadwal “kelothekan”, hingga lari terbirit-birit ketakutan ke rumah masing-masing karena mercon yang digulung sendiri hingga menyerupai gentong kecil tak hanya sukses membangunkan orang untuk sahur, tapi juga berhasil memecahkan kaca tetangga tak jauh dari rumah. Sampai tiga hari setelah itu kami tak berani muncul di masjid untuk sekedar ngaji atau mencuri jatah nasi berbuka penjaga masjid yang kemarin-kemarin sering kami lakukan.

Dulu juga, saat Ramadhan kampung kami sering mengikuti lomba mengaji qiroat dan tartil Qur’an tingkat kecamatan.Ada juga lomba cerdas cermat, qasidahan, dll. Beberapa kali aku pernah menyumbangkan medali, piala, dan piagam untuk hiasan masjid kami yang dulu tak sebagus seperti sekarang. Rasanya Ramadhan di kampungku selalu meriah. Kami, anak-anak kecil seperti saya dan beberapa teman-teman yang lain, begitu menikmati. Ramadhan is ours. Lebaran? Lebih-lebih. Keliling kampung, mengumpulkan uang lebaran, banyak-banyakan dengan teman-teman, bahkan hingga “nggondok” kalau dapat yang paling sedikit daripada yang lain. Yaa, bukan cuma anggota DPR saja yang doyan duit, anak kecil juga ternyata.

Seiring berjalannya waktu, ketika usia sudah menginjak SMP dan SMA, aku lebih sering menghabiskan Ramadhan di sekolah dengan mengikuti banyak kegiatan, mulai dari pesantren kilat, hingga lomba-lomba antar sekolah. Kegiatannya berkembang mulai dari mencatat setiap ceramah tarawih dalam buku LKS Ramadhan yang pada akhir ceramah kami berebutan untuk minta tanda-tangan khatibnya hingga terjebak di Purwodadi bersama empat kawanku karena mobil yang kami kendarai dalam rangka survey lokasi wisata Ramadhan mogok. Hehehe.. Rasanya lucu kalau mengenang hal-hal itu.

Ketika kuliah di Bandung rasanya tak kalah romantis juga. Kami pernah iktikaf di masjid Habiburrahman, yang ujung-ujungnya malah sakit. Berangkat malam hari di malam-malam ganjil, kami bertekad untuk merobohkan malam dengan sujud-sujud panjang dan derasan Qur’an. Namun malang tak dapat ditolak, hujan mendera kami selama perjalanan menuju masjid. Jadilah kami bagai kucing sakit terpuruk di sudut masjid dengan bersin silih berganti menggenapi orkes binatang malam bersama jangkrik, kodok, dan nyamuk.

Pernah juga kami sengaja mengadakan perjalanan Ramadhan, bahkan aku pernah menikmati kemping Ramadhan di Sumedang sekitar tahun lalu, tepatnya di pesantren Ustad Habib. Di pesantren itu, setiap pagi kami harus berjibaku dengan bukit. Melintasi jalanan terjal di pagi hari sebelum matahari tak malu muncul ternyata bukan pekerjaan mudah. Terlebih lagi bagi kami orang kota yang belum terbiasa hidup di desa. Tapi, itu semua penuh kenikmatan.

Bagiku, bulan suci Ramadhan harus berkesan mendalam, agar membuatku selalu ingat, bahwa Ramadhan pernah menyapa dengan hangat, memberi kesempatan bagi pecinta malam, dan aku harus mengisinya dengan ibadah-ibadah terbaik.

Tapi, itu terjadi terakhir dua tahun yang lalu.

Hari ini? Hari ini aku merasa kehilangan diriku selama hampir dua tahun. Terasa kekeruhan luar biasa dalam jiwa, kepenatan tak kunjung usai, dan kegalauan dalam menapaki jalan hidup. Aku merasa merindukan Tuhan luar biasa setelah dua tahun jelas-jelas kutinggalkan. Masalah demi masalah mendera, seakan Allah Rabbul Izzati ingin mendekapku dengan mesra namun ku meronta. Kali ini, kerinduan sudah membuncah, meluap menganak sungai di sela pori-pori. Aku ingin pergi kepada Tuhan.

Aku masih terpekur dalam diam. Dalam hati aku berpikir mendalam, rasanya Ramadhan kali ini aku harus membuat sebuah lompatan keimanan. Setelah jatuh dalam titik terendah absolut, aku ingin merasakan lagi halawatul iman, lezatnya iman, yang mungkin, entah itu atau bukan, sudah pernah sedikit kucicipi. Dalam keheningan kontemplasi, Tuhan mengelus-elus dadaku dengan kalimah-kalimah yang aku sudah tak ingat lagi, surah apa dan ayat berapa, mungkin saking kotornya diri ini. Rasanya dadaku ingin meledak. Menggelegak dalam gelombang tangis dan rindu, yang akhirnya kuputuskan, aku harus segera melakukan pertaubatan di negeri Rasulullah SAW.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda,” Satu umrah sampai umrah yang lain menjadi kafarah (penghapus dosa yang dikerjakan) di antara keduanya.” (Hadits Riwayat Muttafaq ‘alaih, Misykat)

Kuangkat lagi telepon genggamku.

“Halo.. Assalamu’alaikum, sama mbak yang tadi?”

“Iya.. Ada apa mas Army? Sudah dikirim?”

“Oh, belum mbak, cuma mau ngasihtau saja, saya inginnya satu bulan disana. Tapi tidak usah nambah hotel dan biaya lain, ga ada uangnya..”

“Oh gitu? Bisa, mas.Tapi nanti diurus di Mekkah saja ya tiketnya. Soalnya sudah terlanjur di issued. Lha terus nanti tinggal dimana?”

“Yaa.. Ada lah mbak banyak temen kok disana. Tidur di masjid juga gak apa-apa..”

Tiba-tiba ada rasa yang demikian luas menyergap di ujung kalimatku.

“Oo.. ya sudah kalo gitu. Mudah-mudahan berkah. Senangnya bisa umroh disana sebulan..”

“Iya, mbak amiin.. Mudah-mudahan lancar. Terima kasih lagi mbak, Assalamu’alaikum..”

“Waalaikumsalam..”

Advertisements

One thought on “#1 Sim salabim!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s