#001 It’s all About Bucks

Sebuah pohon akasia malam itu tegak berdiri seperti benteng. Besar menjulang, bersaing tinggi dengan pohon beton di sampingnya yang tak mau kalah memancarkan keangkuhan. Sebuah bangunan hotel tak bersudut bermandi cahaya temaram menyapa perjalananku memasuki kawasan bisnis ternama di kota kembang ini.

Dua orang satpam memberi hormat dan memeragakan isyarat kepadaku untuk berhenti sejenak dan menjalankan prosedur keamanan kawasan tersebut. Yah, formalitas saja menurutku. Setelahnya, mobilku langsung meluncur menuju area parkir lantai 3.

Area bisnis ini memiliki boulevard dan ruang publik yang sangat luas. Biasanya di area tengah, sering dipakai untuk konser, launching produk, atau lomba berbagai macam kegiatan.Kadang break dance, kadang modern dance, atau festival musik eropa, launching community program, kompetisi grup band, dan banyak lagi.

Pusat perbelanjaan berada di bagian timur dengan desain elegan, simpel, dan memukau. Jika ingin berwisata kuliner, kau bisa memasuki pusat perbelanjaan dari sisi kiri dan kanannya, karena disana, di sebelah selatan dan utaranya, semua bercerita tentang makanan. Masakan Jepang, Thailand, Cina, Indonesia, tenants makanan cepat saji, Starbucks Coffee, J-Co, bahkan hingga makanan-makanan kecil seperti stan gula-gula dan booth teh gelas  ada semua. Tak hanya berada di tepi utara dan selatan perbelanjaan, hingga ke barat area publik utama, stan makanan daerah pun bertebaran dengan berbagai konsep penyajian, termasuk restoran dengan harga selangit hingga makanan murah meriah.

Masuklah hingga ke lantai 3 dalam pusat perbelanjaan, salah satu bioskop yang paling besar di kota Bandung ada di sini. Dengan delapan teater yang aktif bersamaan, bioskop ini mampu menampung ribuan anak muda yang menghabiskan malam minggunya dengan menonton film. Karaoke dan pub? Jangan tanya. Dentum-dentum musiknya saja sudah bisa kau dengar lamat-lamat meski kau tak berada di dalamnya. Hotel? Di kawasan ini setidaknya sudah ada satu hotel yang di klaim sebagai hotel paling ramah lingkungan dan hemat energi. Belum yang di luar kawasan ini namun masih terjangkau dalam radius tak lebih dari 2 kilometer. Pokoknya, bisa dibilang, kawasan bisnis ini adalah salah satu sentra kegiatan yang paling aktif dan memberikan keuntungan ekonomi bagi pelaku bisnis industri kreatif dan pemerintah. Kami biasa menyebut kawasan bisnis ini dengan nama : Cihampelas Walk, yang memang terletak di Jalan Cihampelas Bandung.

Aku menyegera langkahku berjalan. Dari lantai tiga, aku harus memasuki department store terlebih dahulu untuk mencapai lift terdekat. Pas, lift sedang terbuka dengan segerombolan cewek-cewek ber-hot pants sambil haha-hihi asyik chatting dengan blackberry sambil sesekali bergosip tak jelas. Dengan tanpa tentengan kantong plastik besar-besar bermerk pakaian terkenal, aku tahu mereka pasti akan shopping semalaman sampai gedung pencakar dompet dan kartu ATM ini tutup. Aku langsung masuk. Masih tersisa aroma parfum berbagai merek yang hanya bisa kusimpulkan satu hal saja dari hal itu: pening alang kepalang. Segera kutekan tombol G. Pintu tertutup. Lift meluncur.

Ting.

Pintu lift terbuka. Langsung tampak dihadapanku seorang anak muda berpakaian kaos polos dengan jeans butut tampak masih asyik memeluk pacarnya sambil saling berpandangan penuh arti. Hah, seperti tidak ada tempat lain saja. Aku langsung menuju restoran internasional yang sudah tampak mengundang sejak lift itu terbuka.

By the way, restoran ini tak besar, namun cukup elegan. Suasana lampu temaram dengan cahaya lampu-lampu halogen yang membilas tiap meja satu demi satu. Lukisan-lukisan abstrak tampak di dindingnya dengan ukuran yang tak bisa disebut kecil..

Setiap pengunjungnya akan dijamu dengan meja bulat berkursi empat. Semua meja tampak seragam warna, coklat pekat plitur, dengan kursi berwarna selaras seirama. Pelayan-pelayannya tampak terlalu serius menurutku, hingga berjalan seperti robot saja. Mereka menggunakan topi khas yang aku pun tak tahu, bagaimana perancang mode pakaian restoran ini bisa menemukan bentuk ide topi seperti itu, gepeng seperti kantong kertas yang terlindas kaki.

Aku naik ke lantai dua. Dari pertengahan tangga, sudah kulihat seseorang yang telah menunggu dan memesan makanan.

“Selamat malam, pak..”, Sapaku. Aku langsung menarik kursi jati yang terletak persis di depannya.

“Malam, mas. Monggo duduk.. Maaf saya datang duluan, ya. Saya sudah pesankan makanannya” katanya sambil menyalamiku.

Aku mengedarkan pandang. Biasanya ia dengan istrinya. Tapi sepertinya kali ini ia sendiri.

“Sendiri?” Tanyaku.

“Iya, mas. Anak-anak di rumah ga ada yang nunggu. Pembantu pada pulang kampung semua.”

Aku pandang selintas lelaki itu. Seorang laki-laki berperawakan kecil kurus, bermuka segitiga dengan potongan rambut belah pinggir. Lelaki yang sudah 2 tahun aku bisnis bersama dengannya.

“Pelayan, minta menu!” Aku memanggil pelayan yang sedang berdiri terpekur di samping kasir. Si pelayan tampak tergesa-gesa mencari menu dan berjalan menuju ke meja kami.

“Tadi bapak ini pesan apa saja?”

Pelayan itu tampak memencet-mencet gadget berbentuk notes.

“Dua Bistecca di Fusione Piazza, dan Vino Rosso

“Vino Rosso?”

“Yak..”

“Ok. Saya tambah salad yang ini saja..” kataku sambil menunjuk satu buah gambar berwarna-warni kepada si pelayan.

“Baik pak. Segera, Italiano Insalata segera kami hadirkan”

Si pelayan bergegas pergi meninggalkan meja kami.

“Jadi bagaimana perkembangan terkait pembayaran Pak Yusuf?”, tanyaku menyambung pembicaraan.

Laki-laki muda usia itu diam sejenak. Ia mengambil tisu lalu menyeka mulutnya.

“Baik pak. Semua baik. Kemarin saya sudah bertemu lagi dengan beliau. Tapi dasar memang semua BUMN menengah sedang masa-masa suramnya sekarang. Pak Yusuf sudah bisa memastikan jadwal pembayaran minggu depan akanoverdue sekitar 2 bulan.”

Aku diam. Barisan nada Chopin, Waltz in A minor, mengalun indah, merendam telinga semua pengunjung restoran ini dalam euforia klasik abad pertengahan.

Sepotong daging merah yang dilelehi saus hangat di hadapan mataku tampak demikian menggoda. Kuambil sepotong. Kukunyah pelan-pelan.

“Pak..” aku memulai nada serius tanpa mimik dengan lawan bicaraku ini.

“Bapak tahu kan, apa yang akan terjadi kalau jadwal pembayaran overdue lebih dari 1 bulan?”

Aku lirik wajahnya sekilas.

“Iya, mas. Tapi memang kita mau apalagi. Pergantian direksi dan ditambah dengan adanya merger membuat kita hanya bisa menunggu. Lagipula saya dan akunting kita bu Vera sudah membuat beberapa strategi untuk mengatasi jadwal-jadwal expenses kita di bulan depan. Rasanya sedikit waktu yang kita beri kepada Pak Yusuf cukup realistis, mengingat perusahaannya sudah banyak memberi profit pada kita”

Aku mengambil tisu disamping piring. Kuusapkan di bibir dan samping pipiku yang sedikit kotor oleh saus steak.

“Oke. Saya bisa percayakan ke Pak Tony untuk masalah ini?”

“Sure. You can count on me.”

“Ok, I count on you. Let’s see then. Don’t forget. It’s all about this: Kill, or be killed.”

***

Bandung masih gerimis malam itu. Pun dengan hatiku. Ada jenak resah jiwa yang menggelayutiku sepertinya. Entah apa. Mungkin karena terlalu buramnya hati, tak mampu lagi ia membaca redup dan terangnya.

Aku berjalan kembali dari restoran Italia tadi menuju parkir mobil lantai tiga. Kususuri gelap malam menuju Honda Jazz hitam yang selalu menemani perjalananku malang melintang menderu malam dan siang. Aku masuki jazz kesayanganku. Kupantik starter. Kujalankan mobil meninggalkan malam gelap yang makin gulita. Ya, seperti hatiku.

Kriiing….!!

Sebuah suara nyaring menembus alam mimpiku.Seorang gadis muda belia yang tengah bercengkrama denganku tiba-tiba berganti dengan silaunya cahaya matahari menembus retina dan jerit alarm handphone yang menggetarkan dinding gendang telingaku.

Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit.

Gawatt..! Terlambat..!!!!

Hari ini sepertinya hari kesekian kalinya dimana aku tertidur kecapaian di waktu menjelang Subuh, kemudian bangun telat di 4 jam setelah itu. Sholat Subuh di waktu seperti hari ini sudah menjadi kebiasaan baruku. Ah, masih untung sholat, pikirku. Kuambil wudhu, shalat Subuh, lalu bergegas mengguyur tubuh dengan siraman air hangat. Setengah jam kemudian, aku sudah siap dengan pakaian casual dan aroma Terre de Hermes menyelimuti tubuh.

Dan pagi ini aku harus menghadap dosen untuk menyerahkan draf tugas akhir yang terbengkalai sejak 1 tahun lalu. Seharusnya, aku sudah harus lulus sejak dulu. Tapi entah kenapa, sudah satu tahun berselang rasanya aku tak kunjung nafsu untuk berjumpa dengan puluhan lembar kertas yang aku pun tak tahu apa isinya. Belum lagi kalau harus berjumpa dengan dosen pembimbing yang hobi berkelana ke ujung dunia, hingga lupa mungkin masih ada anak bimbingannya yang terseok-seok.

Menunda tugas akhir ternyata tak malah membuat bahagia. Detik demi detik yang berlalu tak terasa berkumpul, menggunung, bersiap untuk berubah menjadi raksasa DO seperti Rahwana yang dilahirkan Dewi Sukesi. Rahwana ini mengejar-ngejarku, setiap saat mengayunkan cakarnya dan menghancurkan keping-keping hidupku, satu demi satu. Aku selalu mencari akal untuk melawannya, namun semakin banyak akal yang kutemukan, tak membuat ia lemah, malah makin kuat. Oh, ternyata ia mengkonsumsi waktu lengangku. Artinya aku harus membuatnya takluk dengan mencuri makanan-makanannya. Jika ia tak makan barang sebulan pastilah lemah. Dalam kelemahan itu harusnya kuhunjamkan pisau sidang yang baru akan membuatnya mati ketika pimpinan sidang tugas akhir menyelamatiku atas gelar yang akan kusanding. Tapi itu kapan, ya Tuhan..??

Ah, sudahlah, toh ditikam Rahwana tak akan membuatku mati. Luka bisa sembuh. Mungkin aku bisa minta tolong pada Resi Wisrawa, ayah Rahwana untuk memenjara anaknya yang tak tahu budi pekerti ini. Tak lulus, bukan berarti mampus. Toh sekarang juga aku sudah bisa menikmati hasil usahaku sendiri.

Tak perlu makan pagi, aku langsung menuju parkir mobil kosan dan melesat menuju kampus yang aku sudah bosan menyebut-nyebut namanya.

Beberapa saat kemudian, tiba aku di muka pintu bertuliskan nama dengan gelar berderet.

Prof. Dr. H. Nur Tirto Wibisono

Tok..tok..tok..

Tak terdengar jawaban.

Aku kembali mengetuk sambil menyapa.

“Assalamualaikumm…, pak prof..”

Tiba-tiba terdengar suara berat dari dalam ruangan.

“Waalaikumsalam..masuk.”

Aku membuka pintu kayu jati coklat berat itu.Sepertinya ruangan ini beserta propertinya tak mengalami pergantian sejak puluhan tahun silam. Gagang pintunya saja berderit-derit dan berwarna kuning kusam. Ruangan di dalamnya bau buku lama yang seakan tak pernah disentuh tangan manusia. Lemari tua penuh debu-debu halus, dan meja kerja yang bertumpuk kertas, makin menambah kesan suramnya ruangan ini. Satu-satunya yang membuatku masih ingat bahwa saat ini adalah abad 21 adalah sebuah computer desktop yang tampak tengah membuka halaman Google.

“Kamu yang sms kemarin?”

“Betul pak..”

“Oke ada apa?”

“Ini pak, saya ingin melanjutkan tugas akhir saya yang kemarin sempat terbengkalai beberapa bulan.”

“Oh..oke. Mana proposalnya?”

“Ini pak.”

Tampak wajah professor itu mengkerut sambil membolak-balik halaman proposal yang aku pun sudah lupa kapan membuatnya. Tangannya tampak sibuk membuat coretan-coretan, lalu mengambil buku biru di sebelahnya.

“Hmm..Nak, sayang sekali.”

Aku berdetak. Ada apa??

“Tugas akhir ini sudah ada yang mengambil beberapa bulan lalu. Entah siapa saya lupa ini namanya, tapi masih ada proposalnya.”

Aku mencelos.

“Lho pak, dulu kata Bapak belum ada yang mengambil? Saya kan fokus pada inovasi dryer conventional yang selama ini banyak digunakan di dunia pertanian secara statis. Saya berusaha membuat rancangan dryer yang dinamis, sehinggaapplicable pada sarana transportasi yang ada serta dapat menghemat waktu serta energi pengeringan. Rancangan yang saya berikan kepada bapak beberapa waktu lalu kan sudah membuktikan, bahwa tugas akhir saya ini orisinal dan belum ada yang mengerjakan..” bantahku.

Aku tidak terima, meski sudah hampir satu tahun aku tinggalkan, tugas ini tidak boleh berubah. Proposalku sudah disahkan oleh Profesor Nur. Ini harus diperjuangkan!

“Lho, iya. Tapi sudah ada yang mengambilnya ternyata. Kamu kok ngeyel. Ini lho kalau ga percaya. Dia sudah lebih dulu datang sebelum kamu.”

Aku ambil proposal yang ditaruh professor di depanku. Aku baca, siapa orang yang telah mencuri ideku diam-diam dan mengambilnya kepada Professor Nur.

Draft Tugas Akhir

Perancangan Awal Sistem Pengeringan Bawang Merah dengan Pemanfaatan Udara Panas Lingkungan Pendingin Mesin sebagai Sumber Kalor

Oleh : Satria Tegar

Tak kulanjutkan membacanya. Ya, Tuhan. Entah aku ingin tertawa, atau sedih. Sementara sang professor masih berdehem-dehem dengan menikmati teh panas kesukaannya, tanpa menyadari, makhluk didepannya ini sudah ingin mengatakan,

Ya Ampun, Pak. Itu saya.. Maafkan saya sudah berbulan-bulan tak hadir, hingga kau lupa bahwa saya mahasiswa bimbinganmu..

Jangan biarkan Rahwana menikamku, Ya Tuhan..

***

Advertisements

One thought on “#001 It’s all About Bucks

  1. 1. … Lelaki yang sudah 2 tahun aku bisnis bersama dengannya. >> rasanya agak aneh bahasanya. gimana kalo diganti: Lelaki yang sudah 2 tahun menjadi mitra bisnisku.
    2. Kujalankan mobil meninggalkan malam gelap yang makin gulita. Ya, seperti hatiku. ~ Kriiing….!! >> gimana kalo ada penanda/peralihan antara ‘menjalankan mobil’ dengan ‘bunyi alarm’ ? biar ngga bingung yg baca.. tadinya saya kira itu bunyi HP, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s