#3 Mantu..?!!

Siang itu pendopo kami terlihat ramai. Banyak santri-santri yang leyeh-leyeh dan berbincang satu sama lain dalam nada isu yang sama: katanya ada yang mau nikah sama putri Pak Kyai, ning Lia!

Aku terlibat dalam perbincangan seru itu pula. Karena banyak sekali isu-isu yang beredar, simpang siur seperti tentara nyamuk yang sering menyerang istirahat para santri di penghujung malam. Ada yang bilang si Priyono, santri asal tegal itu, soalnya dia yang paling sering bolak-balik ke rumah pak Kyai. Ada yang bilang Aro, santri mbeling asal Jogja yang di kala memasuki pesantren ini ia masih berkeyakinan kalau Tuhan itu tidak ada. Untungnya sekarang sudah tobat. Dia jadi santri paling rajin saat ini versi majalah pesantren kita: Furqon Week. Ada juga yang bilang katanya sama anak baru yang kemarin jadi santri. Isu-isu yang berkembang rupanya ada beberapa santri yang mencurigai bahwa anak baru yang nyantri dan pak Kyai mensyaratkan agar si calon istri dari anak beliau harus mondok dulu disini.

“Tenan lho. Bocah anyar kuwi sing arep dadi mantu pak kyai..”, tegas Suroso.

“Ah yang bener, cak Roso. Masak kita yang sudah tahunan nyantri disini dikalahin sama santri baru sih..?”, kata Joko yang tampak tidak ikhlas. Maklum, Joko sudah memendam rasa dengan anak Pak Kyai yang pernah tak sengaja dilihatnya 3 tahun lalu di rumah pak kyai waktu sowan dengan kedua orangtuanya, menyatakan minat untuk ndherek nyantri di Pesantren Darul Furqon ini.

“Sumpah, Cak. Ayu tenan putrine pak Kyai..!! Ora mbujuk aku! Tenan..!!”, kata Indro yang dengan semangat mendeskripsikan anak pak Kyai. Maklumlah, aku dan dia sama-sama masih baru juga masuk pesantren ini.

“Iyo.. iyo.. percoyo. Wes tha ndak usah terobsesi koyo ngono awakmu. Anake bakul sayur yo ra pantes entuk ning..”

“Ojo ngono tha, cak..”, wajah Suroso memelas.

“Hehe.. Nyuwun pangapuro yo.. Wes.. wes, ojo ngimpi, ndhang resik-resik kandhang kono. Giliran awakmu tho? Cepetan…”, kataku mendhelik pada Indro.

Ada-ada saja. Tapi siapa yang jadi mantu sih sebenarnya? Hanya Allah dan Pak Kyai yang tahu.

Prahara ini dimulai ketika suatu malam, menjelang kajian umum Hikam usai. Semua santri tampak tertunduk khusyu’. Ya, hanya tampak. Karena yang terjadi sesungguhnya adalah tertidur. Lelah setelah seharian belajar.

“Ehemm..”, Pak Kyai berdehem.

“Nak.. Sebentar lagi pak kyai akan berbesan. Mohon doanya mudah-mudahan semua berjalan lancar..”, kata pak Kyai ketika itu.

Semua santri terbangun ayam berpura-pura memperhatikan Pak Kyai. Cak Joko tampak mengusap air liurnya yang sudah membentuk pulau-pulau di lembaran buku Al hikam-nya yang lecek. Nggilani. Tapi masih ada yang lebih parah.

“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh…!!”, teriak Indro kencang, sambil membenahi kopyahnya.

Suasana langsung senyap. Semua pasang mata tertuju ke Indro. Ada yang melihat dengan pandangan ngeri ketakutan. Ada yang melihat seperti sedang ketemu hantu. Ada pula yang terkikik-kikik, tertawa ditahan seperti kambing kena flu. Sedetik kemudian Indro dengan lugunya, cengengas-cengenges melihat seluruh penjuru masjid yang tiba-tiba dalam pandangannya menjadi seluas lapangan bola piala dunia.

“Ehh.. belum beres ya.. Ngapunten, pak kyai..”, ujar Indro tersipu. Rasa malu menjalar seketika.

Seketika seluruh kelas meledakkan tawa mengguncang dunia. Dasar Indro.

Tapi kejadian itu tetap tidak mengalihkan isu yang sejak saat itu menjadi trending topic di Pesantren Darul Furqon: Pak Kyai mau mantu.

***

Malam itu disaat semua mata terlelap tidur, sepasang mata masih terjaga. Tak bisa tidur. Bolak-balik, tengkurap, telentang, hadap kiri, hadap kanan. Kepalanya pusing, perasaannya tidak karuan, seperti pedagang di pasar pecinan yang kehilangan sempoa.

Pikirannya galau, segalau Suara Persaudaraan yang mendendangkan nasyid Galau. Tak habis pikir dirinya, putri pak kyai yang masih muda belia, yang sepertinya masih Aliyah itu, tak ada petir tak ada hujan tiba-tiba akan dinikahkan.

Masih ingat dirinya ketika hari itu. Ketika gejolak masa muda meluluhlantakkan harapan orangtuanya akan masa depan, ketika keluarganya seakan sudah menolak kehadirannya di rumah karena kenakalannya yang sudah kelewat batas, ketika orangtuanya memaksa menyeretnya ke pesantren Darul Furqon, ketika itu pula ia terpana akan seorang putri bidadari nan bermata jeli yang berbalut jubah panjang rapi di kediaman pak kyai sore itu. Nampaknya, pandangan pertama itulah yang membuat hidayah itu turun pada dirinya. Entah karena apa ia berhijrah, tapi yang pasti, sejak hari itu ia seolah-olah menjadi sebuah sosok lain dari yang lain.

“Joko, kamu berubah cepat sekali, nak..”, belai ibunya lembut penuh kasih sayang pada putra bungsunya itu ketika musim libur lebaran tiba.

“Ibu bangga dengan kamu, le. Jadi santri yang tekun, sekolah agama saja, sepertinya memang jalan hidupmu disana. Sekolahlah sampai ke Mesir atau Madinah, belajar agama, lalu ajari masyarakat kita disini yang baca Qur’an saja masih banyak yang ndak bisa..”

“Nggih, bu.. Doakan anakmu ini sukses dunia akhirat..”

Angin malam sepoi-sepoi menyelusup melalui celah-celah jendela kayu barak santri. Dingin. Cukup dingin untuk membuat beku perasaan seorang santri pertobatan dari lembah nista kelakuan masa muda yang tengah merasakan sebuah perasaan, entah apa namanya, tapi biasa orang menyebutnya : kasmaran! Semoga tidak keliru menikmati tai kucing yang dikira coklat.

Semakin malam, perasaan itu bukan semakin menghilang, tapi makin menjadi-jadi.

Duh Gusti..

***

“Anak-anak, siapa yang masih ingat doa dari Sulthanul Awliya’, syaikhuna Abdul Qadir Al-Jilani dalam kitab Fuyudhat Ar-Rabbaniyah fii Al-Maatsir wa Al-Awrad Al-Qadariyyah tentang doa penjagaan diri?”, Tanya ustadz Naim pagi itu dalam sebuah pengajaran.

Berebut para santri mengacungkan tangan mencoba menjawab. Namun sepasang telinga lain seakan kedap, dalam bilik tanpa udara. Dalam kelam malam ia terlelap, tapi itu hanya sebuah pelarian perasaan yang selalu menghantuinya di kala terjaga. Dewa 19 menyebut perasaan itu dengan kata cemburu. Tapi ia lebih suka jika orang menyebut perasaan yang sedang ia rasakan itu dengan ungkapan : resah. Resah karena sebentar lagi seseorang yang selalu ia temui sejak ia masih kanak-kanak, ternyata harus berjodoh dengan yang lain.

Pak kyai ndak pernah manggil saya untuk ngobrol ini. Bicara tentang nikah saja yang ndak pernah. Masak sih, pak kyai ndak bisa liat seseorang yang selalu ada di kala pesantren sedang membutuhkan seorang sukarelawan untuk pergi belanja ke kota?

Masak sih pak kyai ndak pernah liat satu orang santri yang mungkin paling lama ikut beliau sejak masih kecil? Apa karena saya yatim piatu?

Pikiran pemuda itu berkecamuk. Antara bimbang dan senang, bahagia dan nestapa, campur aduk. Yang jelas lebih bingung dari sebaiknya mendukung Spanyol atau Jerman di piala dunia yang sama-sama tampil luar biasa. Tapi mungkin tampaknya Jerman lebih unggul karena punya sejarah kemenangan.

“Suroso, kamu kenapa?”, sebuah tepukan di bahu nampaknya berhasil mengempas lamunannya, mengembalikan kesadaran jiwa.

“Emmm.. Ndak ustad, cuma agak pening saja..”

“Mau istirahat dulu? Berobat ke puskesmas?”

“Oh, ndak usah ustad, cukup dipijat-pijat ringan saja..”

Pemuda ini pun gundah gulana.

Wes.. wes.. mosok aku beribadah karena pak kyai? Tobatt, ya Allah.. Tapi kalau bisa mbok ya si Ning jangan dijodohkan sama yang lain, gusti.. Ndak enak tibake rasanya hati ini, ya Allah..

***

“Dok..dok..dok..!!!”

“Woi, rek, cepetann… Wes kebelet iki..!!”

“Ojo dientekno banyune, ngko aku ga keumanan..!!”

“Sak karepku..!!!”, balas suara dibalik pintu kamar mandi itu.

“Ooo.. bocah gebleg..!!”, Sambung suara lain di sisi sebaliknya.

Pagi itu memang hingar bingar rutin yang biasa kami nikmati. Pokoknya kalau mau mandi, mesti balapan. Beberapa santri yang rajin biasa mandi sebelum tahajjud. Tapi kalau seperti kami santri mbeling ini, mandi paling sip ya pas mepet-mepet begini. Rame, lucu, dan asyik! Biasanya mereka yang sudah mandi berolahraga atau memurajaah hafalan sebelum masuk kelas. Kesempatan menunggu ini sebenarnya seperti pisau bermata ganda. Di sisi lain kami berpura-pura untuk buru-buru, tapi di sisi lain sebenarnya kami hanya ingin merebut hak tidur malam kami yang senantiasa disita untuk tahajjud. Biasanya ada yang sambil tidur-tiduran di kursi panjang sebelah dapur yang cukup dekat dengan kamar mandi, atau di kamar Mas yono yang dekat dapur juga, mumpung Mas Yono sedang ke kota, belanja ditemani salah seorang santri yang tentu sudah mandi.

Pernah suatu hari kami santri yang menunggu giliran tertidur semua, sampai kelas dimulai. Ustad pengajar tampak bingung melihat seperempat isi kelas kosong. Pas ditengok, Ya Salaam, kami semua sedang tidur berjamaah di kamar mas Yono dan di kursi panjang samping dapur. Walhasil, langsung kami semua detensi dan menjalani hukuman untuk menambah jumlah hafalan wajib kami dalam satu semester. Hahaha. Masa yang bahagia.

“Rek…”, sapaku pada teman-teman. Sambil menunggu giliran, kami berempat, berjejalan merebahkan diri di kamar Mas Yono yang dipannya bertingkat.

“Opo, mri..”, jawab Cak Joko sambil sibuk mencari posisi yang enak untuk berguling. Joko berbaring di sebelahku. Dua santri lain yang kebetulan ikut mengantri mengambil posisi di dipan atas, dan mungkin mereka salah satu oknum yang berpeluang untuk tidak masuk kelas. Dengkurannya saja sudah seperti vuvuzuela piala dunia. Mengantuk sekali tampaknya.

“Ga percoyo yo.. ternyata ning mau dinikahkan..”, aku mengawali pembicaraan.

“Iyo, mri. Aku isih bingung, kok iso yo..”

“Lho, awakmu wis pernah ndelok ning ta?”, sambung Cak Joko sambil kriyep-kriyep mengantuk. Matanya ditutup dengan selembar handuk yang dililitkan hingga ke belakang leher.

Durung, cak.. Ayu yo?”

“Ooo.. pancene. Tak kiro wis ngerti. Lagakmu koyo sok-sok prihatin banget ngono, tibake durung ngerti wong’e sing endi.. Iku lho, ono foto keluarga besar pak kyai nang aula..”

Aku terkekeh saja mendengar komentarnya. Ada satu hal unik tentang Cak Joko. Cak Joko punya handuk yang setia menemaninya mandi dari dulu, katanya sudah bertahun-tahun handuk itu membawa berkah. Dengan handuk berbordirkan “Welcome” itu, tadinya, sumpah, aku pikir itu keset. Dekil dan menghitam gitu handuknya. Apalagi ada tulisannya “Welcome”, semakin menguatkan keyakinanku. Pernah aku tanyakan ke Cak Joko, kenapa kok handuknya unik gitu. “Ibu di kampung n dak tau artinya, biar keren-kerenan aja kata ibu..”, kata Cak Joko ketika itu. Hehehe.. Dasar Cak Joko.

Aku penasaran. Yang mana sih ning?

***

Satu bulan sudah berlalu. Tapi tidak ada tanda-tanda akan dilangsungkannya pernikahan oleh pak Kyai. Apa aku yang ga update ya? Aku terus terang tidak ambil pusing. Wong ndak tau yang mana anak pak kyai. Ndak pernah ketemu langsung maksudnya. Maklum baru beberapa minggu disini.

Aku lebih memilih untuk disibukkan dengan kembali memurajaah hafalan, membuka lagi kitab Sayyid Alawi Al Maliki, dan tentu saja hobi baruku, berlatih beternak sapi pak kyai. Mengasyikkan sekali, ternyata!

By the way, aku ingin sedikit membagi suasana di pesantren kami. Disini sangatlah asri. Dari utara ke selatan tampak membentang sawah. Aku sampai terkaget-kaget, ternyata masih ada sawah seluas ini di Jawa Timur. Pernah suatu waktu aku sengaja menyempatkan berjalan-jalan di pagi hari sendirian saat senggang tiba, menyapa penggarap-penggarap sawah, dan mencoba untuk memahami kerja mereka. Ternyata menanam padi itu sulit, lho! Tak terbayang, betapa besar daya yang dikeluarkan untuk memenuhi hajat pangan umat manusia ini. Subhanallah. Kalau ada orang yang paling ingin saya ucapkan terima kasih atas setiap suap nasi yang saya nikmati, pastilah mereka adalah petani.

Tempat favoritku disini ada satu lagi selain jalan-jalan keliling sawah: jemuran! Jemuran di pesantren ini terletak di lantai tiga. Dari jemuran, pemandangan yang biasa menjadi luar biasa, mulai dari sawah, sungai, lereng gunung, semua kelihatan jelas. Apalagi waktu menjelang matahari terbit dan terbenam. Pokoknya indah sekali. Dari sini juga tampak kolam-kolam lele, kandang sapi, dan kandang bebek punya pesantren. Rapi berjajar, kalau siang bisa kita lihat kerumunan bebek yang tengah mencari makan dan bergembira ria.

Sore itu, ba’da kajian ashar dan rapat santri, aku langsung menuju kamar untuk merapikan dan menyeterika pakaian yang baru saja mentas dari jemuran. Tiba-tiba sebuah suara memanggil.

“Amri.. hoi.. rek.. sini.. sini..”

Aku celingak-celinguk mencari arah suara tersebut. Oh, ternyata dari balik jendela ujung. Aku mendekat.

“Kenapa? Kok koyo maling ngene to..”

“Ayo, melu rapat terbatas..”

“Hah? Rapat opo? Opo seh awakmu, ra jelas..”

“Iki, arek-arek arep mengadakan rencana brilian..”

“Opo?”

“Makane, ayo melu rapat..!!”

Aku penasaran. Segera kulipat baju-baju yang belum diseterika ke dalam lemari. Secepat kilat langsung mengikuti Indro yang memanggil seperti maling itu.

Indro ini sudah seperti saudaraku sendiri. Anaknya lucu, meskipun agak sedikit lambat dalam berpikir. Masih ingat kejadian beberapa waktu lalu ketika ia berteriak salam dalam kuliah malam pak kyai? Nah, itu satu contoh kombinasi yang elegan antara kelucuan dan kelambanan berpikir. Indro.. indro.. hehe.. Tapi diantara yang lain, sepertinya Cuma Indro yang paling jujur dan amanah. Kalau menitipkan uang atau belanjaan pada dia, yakinlah bahwa kau menitipkan pada orang yang jujur. Tapi khawatirlah, ia mudah sekali ditipu orang. Maka dari itu Indro tidak pernah disuruh pak kyai belanja, tapi selalu dirindu pak kyai untuk menyiapkan pembagian jatah sarapan yang sering dimanipulasi oleh beberapa santri nakal.

Tampak 4 orang yang sudah berada disana duluan. Dan belakangan akhirnya kuketahui bahwa ternyata mereka termasuk orang yang tidak punya urat malu dan takut.

“Jadi begini. Aku berasumsi, semua orang yang hadir disini bukanlah calon mantu pak kyai. Benar kan? Soalnya, aku aja bukan, mosok seh kalian.. Hehe..”, kata Cak Joko memulai pembicaraan.

“Gayamu, cak.. cak..”, sambut yang lain bersama sambil senyum-senyum.

“Tapi sebentar, yang paling tak curigai ini kowe, Amri..”, Tanya cak Joko menatap lurus padaku.

“Masya Allah.. Ning Lia yang mana aja aku ndak tau kok.. Tenan lho, aku ini nyantri baru disini bukan apa-apa, cuma ingin belajar thok. Ibu ngirim kesini karena menurut Ibu pembelajaran di Pesantren lah yang paling integratif..”

“Sip lah kalau begitu..”, Joko tersenyum menang. Tampaknya Joko ndak ikhlas melihat teman-teman dekatnya ini berhasil mendapatkan anak pak Kyai.

“Misi kita adalah, kita harus mendapatkan informasi intelejen, siapakah calon suami ning lia yang sebenarnya.”

Yaopo carane?”

“Kita harus mendapatkan orang yang akan memberi kita informasi tervalid tentang hal ini, yang tentunya harus orang primer dalam kasus ini. Aku usul, bagaimana kalau kita menculik ..”

Belum selesai Joko bicara tiba-tiba Suroso angkat bicara.

“Gendheng. Ndak melu aku..!”, tegas Suroso. “Meskipun aku jatuh hati sekian lama, tapi aku ndak mau culik ning. Biarlah cinta ini tak harus memiliki..”

“Sek ta.. sampeyan sing gendheng iki. Pikiranmu ruwet, so. Sopo sing arep nyulik ning.. Iki lho, kita harus culik dia..”, tangan Joko menunjuk pada sebuah foto 3×4 diatas meja tempat kami rapat.

“Ooo..”

“Hmm..”

Kami saling berpandangan. Seketika tawa kami membahana, lepas bebas ke angkasa.

“Setuju?”,  Tanya cak Joko pada kami.

“Setuju..!!!!!!”

***

Aku, Indro, Cak Joko, dan Cak Roso sebenarnya berusia tak terlalu terpaut jauh, mungkin sekitar 2 tahun. Tapi khusus untuk cak Joko dan cak Roso, mereka sudah mengenyam pendidikan di pesantren ini sejak masih kecil. Kalau cak Roso sejak SD karena kedua orangtuanya sudah tidak ada alias yatim piatu. Cak Joko lain lagi, ia sengaja dititipkan orangtuanya sejak kelas 4 SD karena tidak ada sekolah yang sanggup mendidiknya lagi. Mungkin karena lingkungan yang membuatnya rusak, di usia yang dini itu ia sudah pernah merokok, minum-minuman keras, bahkan kejadian yang dianggap paling eksterim adalah Cak Joko pernah mencuri uang BP3 di sekolahnya. Tapi Alhamdulillah, sekarang mereka sudah soleh, hafalan Qur’annya banyak, dan banyak lagi kelebihan yang membuat aku semakin kagum pada sahabatku ini.

Kami sudah menyusun “rencana besar” itu. Waktu yang kami pilih adalah ba’da Ashar. Di waktu itulah semua santri yang pergi madrasah sudah pulang untuk bersiap dan berisitirahat menjelang kajian diniyah ba’da maghrib hingga larut malam.

“Mas Yono..!!! Tolong mas, Indro kecelakaan nang dalan ngarep..!!”, sambil terengah-engah aku berlari mencegat Mas Yono di dekat dapur. Tampaknya mas Yono baru saja pulang. Masih pakai ransel dan sepatu soalnya.

“Masya Allah..!! Nang ndhi, dik? Ayo kesana..!! Jangan ngomong-ngomong dulu sama santri yang lain, nanti ribut disini..!!”

Aku pontang-panting dengan Mas Yono berlari keluar pesantren. Berlari menuju jalan besar. Cukup jauh soalnya.

“huh..huh…hah… Nang ndi dik?”

“Kesini mas..!!”

“Lho kok kesana, sehh? Nang ndi?”

“Wes tha mas.. nang kene.. Ayo melu..!”

Tampak Mas Yono masih kelelahan. Nafasnya memburu.

Kami masuk ke sebuah rumah kosong di pinggir jalan besar itu. Rumah yang nampak sudah mau roboh, tak ada penghuninya. Disana sudah ada Indro, cak Roso, dan cak Joko.

“Lhoo, katanya Indro kecelakaan, lha ini masih sehat?? Ckckck.. kalian ini. Mau main-main tah?”, Mas Yono tampak kesal.

“Ngapunten, mas Yono.. Iki kulo sing duwe gawe.. Monggo, duduk dulu..”, kata cak Joko.

Mas Yono duduk sambil menyeka keringat yang membasahi dahi dan lehernya.

“Jadi, sebenarnya kami ini mau bertanya dari A sampai Z tentang sesuatu yang sangat menggelisahkan..”

“Cak, aku ra melu-melu gelisah lho.. Aku mung ngewangi wae..”, sergahku.

“Hehehe.. Iyo iyo, tepatnya aku dan Suroso, mas..”

Mas Yono masih terlihat kesal. Nafasnya masih memburu, meski  perlahan sudah mulai teratur. Dia meletakkan ransel di depannya.

“Hmm.. Opo kuwi..”, Jawab Mas Yono sambil meraih koran dari dalam tasnya dan mengipaskannya ke arah badannya yang penuh keringat. Jelas, Mas Yono tampak benar-benar kepanasan.

“Jadi saya ini mau menanyakan, siapa sebenarnya calon suami dari Ning, Mas..”

Seketika Mas Yono berhenti berkipas. Air mukanya berubah.

“Hah? Sing temen sampeyan? Ngerti darimana Ning mau nikah? Sama siapa?”

Kalau Mas Yono kaget, kami pun tak kalah kaget. Sekelas Mas Yono yang jadi ndalemnya kiai bertahun-tahun bisa tidak tahu.

“Lho yaopo Mas Yono iki.. Bukannya njenengan yang jadi ndalemnya pak kiai? Mestinya yo ngerti tho peristiwa gonjang-ganjing dalam keluarga..”

Tiba-tiba sepersekian detik kemudian Mas Yono tertawa terbahak-bahak. Terpingkal-pingkal.

“Hahahaha…!!!! Ealah, dik… dik…. Ternyata masalah itu tho…!! Cek nemene aku dibujuki sampe marathon ngene..”, Mas Yono tergelak.

Kami saling berpandangan.

Sesaat kemudian Mas Yono mengambil sesuatu dari ranselnya sambil tersenyum-senyum melihat tingkah kami.

“Iki.. Dibaca baik-baik..”, Mas Yono menyerahkan semacam kertas karton dengan desain bunga-bunga berwarna paduan coklat krem.

Sesaat kami berkerumun, ingin tahu apa yang tertera dalam kertas itu.

Ya Allah, berkahilah putra-putri kami untuk mengikuti Sunnah Rasul-Mu dalam membentuk dan membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Siti Khadijah (Siti)

Ahmad Naim AsSabiq (Naim)

Akad nikah:

Ahad, 11 Agustus 2010

Pukul 08.00 WIB

Masjid Darul Furqon – Jombang

“Ealaaahhhhh…….”, kami berteriak nyaris bersamaan. Saat itu juga akhirnya aku terpingkal-pingkal menyaksikan surat undangan itu.

“Jadi yang nikah bukan ning Lia, tho, Mas?”, tanyaku sambil mengatur nafas karena kebanyakan tertawa.

Mas Yono mengangguk penuh senyum.

“Sini kembalikan. Mas tadi hari ini disuruh Pak Kyai ke percetakan ngambil contoh undangan buat nikahannya ustad Naim. Pulang-pulang kok malah dikerjain sama kalian..”

“Ustad Naim itu sudah dianggap anak sendiri sama pak Kyai. Beliau dulu santri yang sangat pandai. Sempat disekolahkan pak Kyai ke Kairo, dan sekarang disuruh mengabdikan ilmunya disini. Wes… wes.. kalian ini ada-ada saja.. Makanya Mas kaget kok tiba-tiba membicarakan Ning Lia. Memangnya kalian ada yang menaruh hati ya?”, Mas Yono menyindir penuh arti.

“Dik, cinta itu jangan dimasukkan kedalam hati jika memang belum saatnya. Sakit. Serahkan pada Allah yang Maha Mencintai. Makanya Allah melarang kita untuk mendekati zina. Allah memberi sarana ibadah Shaum bagi kita yang punya masalah hati. Jika memang ada diantara kalian yang memang sudah tak kuat lagi menahan kesendirian, berlakulah gentleman seperti Ali bin Abi Thalib yang kemudian datang melamar Siti Fatimah. Semua kita tahu siapa Ali bin Abi Thalib. Sahabat Rasulullah yang secara kemapanan ekonomi jauh dibawah sahabat yang lain. Tapi Imam Ali berani menyongsong panggilan jiwa itu yang akhirnya dibalas Rasulullah dengan jawaban termanis bagi lelaki yang sedang kasmaran: Ahlan Wa Sahlan, Yaa ‘Ali.. Rasulullah menyambut niat baik itu hingga akhirnya Imam Ali menikah dengan Siti Fatimah..”

Kami terdiam. Entah perasaan apa yang timbul, antara malu, bahagia, bersalah terhadap Mas Yono, dan beribu perasaan lain yang campur aduk tak karuan.

“Ya sudah, Mas Yono balik dulu lah. Sudah ditunggu Pak Kyai. Untung belum santer isu Indro kecelakaan. Ati-ati mengko kecelakaan tenan lho..”, kata Mas Yono sambil memberesi tas yang dibawanya.

“Waa, ojo mas.. Ojo ngono tho..”, kata Indro memelas.

Kami tergelak kembali.

“Yo wis. Assalamualaikum…”

Sek mas bareng ae..!!”, Teriak Joko.

Akhirnya kami berhamburan membersamai Mas Yono kembali ke Pesantren Darul Furqon yang kami sayangi.

Hehehehe… Ada-ada saja..

Kamus:

Tenan = Sungguh

Mbujuk = bohong

Ngono = Begitu

Nyuwun = Minta

Pangapuro = Maaf

Ngapunten = Minta maaf

Mendhelik = melotot

Cengengas-cengenges = Senyum-senyum tidak jelas

Kebelet = Terburu-buru, tergesa-gesa ingin melakukan sesuatu (buang air)

Rek = Panggilan khas Surabaya

Dientekno = dihabiskan

Banyune = Airnya

Keumanan = Kebagian

Sak Karepku = Terserah aku

Ndelok = Melihat

Durung = Belum

Wong’e sing endi = Orangnya yang mana

Koyo = Seperti

Yaopo =Bagaimana

Temen =Serius, sungguh

Njenengan, sampeyan, kowe = kamu, anda

Cek nemene = kok segitunya

Sek = sebentar, tunggu

Advertisements

28 thoughts on “#3 Mantu..?!!

  1. “gud joobb i like it” (pake intonasinya Rianti Cartwright di IMB,,hehehe)

    ringan,,dr awal smpe akhr terkekeh2,,, tp ttp full hikmah^^

  2. intinya?, jangan mengira yang engga-engga… hehe
    hmm… simpulan yang keren (memang begitulah seharusnya). be gentlemen atau shaum.

    sip!
    saya baru 3 hari lalu bikin blog baru juga, masih belum diapa-apa-in.

  3. hahahahaha,,, menikmati banget bacanya 😀
    ternyata diantara para santri ikhwan bisa ada cerita kayak gini ya,, apa versi ini terinspirasi dari kisah nyata seorang amri :D??

  4. hahahahaha,,, menikmati banget bacanya 😀
    ternyata diantara para santri ikhwan bisa ada cerita kayak gini ya,, apa versi ini terinspirasi dari kisah nyata seorang amri :D??

    nb: sy nyaris mau ganti dg theme ini jg my,, untung gak jd ya 😀

  5. Sejak Kapan Seorang Army bisa menjadi penulis hebat…. perasaan dulu saat masih SMA, gak seperti ini.. jangan2 kena ……

  6. Ah.. memang yaa..
    Pengalaman pribadi akan selalu jadi inspirasi terbaik dari sebuah tulisan.. =)))
    Ternyata, setelah rame di twitter dengan #wisdombujang si bujang ceria ini juga menumpahkan “kegelisahan”nya pada bbrp cerita pendek. hihihi..

    Tadi di awal sempat bingung sih.. sebenarnya “aku” disini tuh siapa? Yg pasti bukan Suroso, bukan Joko, juga bukan Indro.. hihihihi.. Baru di segmen 4 (duhh kalo di program tv bilangnya segmen, kalo di cerpen apa tuh? haha) aku bisa nemu kata “mri” utk si “aku” ini. Dan baru nyadar bahwa “aku” disini “Amri” toh.. hahahahha ampuunnn 😛

    Eniwei, diluar itu.. ceritanya sangat menghibur! Good job, army! Oya, ‘pesantren’nya ngingetin saya pd negeri 5 menara. hehe.. kasih tau lagi kalo ada cerpen lain yaa! 😉

  7. Nice short story, ringan, kaya humor, menghibur, mampu menyampaikan ‘pesan cerita’ dgn baik..
    Keep on writing, dtunggu karya selanjutnya

    • Jazakumullah khair.. Makasih ya..

      Pesantrennya? Ada deehh.. kan pasti ada lokasi risetnya. Nanti kapan-kapan diposting behind the scene-nya.. haha..

      Sip!

  8. ayo nulis terus bang, kalo perlu jadiin novel n kirim ke penerbit, kalo udah terbit, janji deh bakal tak beli n tak promosiin sama dulur2 kito disini, pasti laku deh di keluarga besar Basuni hehehehe….keep on writing amri, eh army…:P

  9. Kalo bisa Bang Army selipin dunk nilai2 Nasionalisme & Marhaenisme (Sosialisme Indonesia) di dlm novelmu ini.. biar jd beda dan penyempurna dari mainstream novel2 religi lainnya yg umumnya ke-TimurTengah2an atwpun novel2 sekuler yg pd ke-Barat2an.

    Btw, novelmu apik seru. Bang Army sangarrrrhh.

    • Sori pakde, sedikit diedit.. ada yang bahaya.. 😀

      Woo, bener juga. Nasionalis-relijius yo. Atau kapitalis-relijius? Wakakaka.. 😀 Insyallah..

      Sip. Suwun pakde.

      (btw iki Gama ta? Pangeran Pelesiran 61 dari Kerajaan Kegelapan.. hahaha…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s