#4 Bidadari.. [1]

[1]

Sore hari di kota Jombang memang sungguh indah. Suasana syahdu dalam keragaman alam, nuansa cahaya cinta Tuhan dalam setiap detiknya, seakan menerbangkanku melintasi ruang dan waktu. Di seberang sana, kulihat rombongan ibu-ibu penggarap sawah yang mengayuh sepeda jengki sambil tersenyum riang. Mereka tertawa lepas, bercanda, beriringan di tepi jalan menuju kampung masing-masing setelah lelah seharian bekerja di sawah garapan. Sekeliaran burung-burung ber cicit-cuit, seakan rindu pada manisnya bulir padi yang hendak menguning.

Di seberang yang lain, tampak beberapa bapak tani yang sambil bersenandung gending jawa, menaburkan pupuk dan racun hama. Meski dalam guratan wajahnya tampak begitu keras kehidupan yang ia alami, namun itu semua tak membuatnya berhenti beribadah untuk kebaikan ribuan manusia di alam raya ini. Aku tersenyum saja saat melihat bapak tani yang kekar itu berkelakar dengan burung-burung pipit itu yang hendak mencuri sebulir dua bulir padi miliknya.

Aku terus terang, begitu menikmati alam raya kota agropolitan Jawa Timur ini. Satu kota dengan kehidupan kota yang statis, namun penuh keriangan dalam nuansa kehidupan desa. Kota dengan puluhan ribu hektar sawah membentang, kota yang, mau tidak mau, kita harus berterima kasih karena mungkin saja nasi yang kita rasakan saat ini berasal dari jemari petani yang menari-nari di lahan subur ini.

Kota ini ramai dalam kesederhanaanya. Pun ketika di pasar, tidak banyak aktivitas luar biasa yang terjadi. Paling-paling jualan makanan, kebutuhan hari-hari, dan yang cukup umum di lingkungan pedesaa adalah, kios alat-alat pertanian. Beberapa di warung nasi ketika jam-jam istirahat dan makan siang. Ditemani segelas kopi dan sebungkus kretek, para pedagang kelontong, tukang bakso, beberapa penjaja jajanan desa, dan tukang becak berkumpul sambil membicarakan politik ala warung kopi. Sesekali mereka serius sambil memukul meja mengkritisi koruptor yang merajalela, tapi sesaat kemudian tertawa terbahak-bahak membahas video luna maya dan ariel yang sampai juga pembahasannya ke gang-gang dan ke telinga pedagang kaki lima.

Continue reading

#3 Mantu..?!!

Siang itu pendopo kami terlihat ramai. Banyak santri-santri yang leyeh-leyeh dan berbincang satu sama lain dalam nada isu yang sama: katanya ada yang mau nikah sama putri Pak Kyai, ning Lia!

Aku terlibat dalam perbincangan seru itu pula. Karena banyak sekali isu-isu yang beredar, simpang siur seperti tentara nyamuk yang sering menyerang istirahat para santri di penghujung malam. Ada yang bilang si Priyono, santri asal tegal itu, soalnya dia yang paling sering bolak-balik ke rumah pak Kyai. Ada yang bilang Aro, santri mbeling asal Jogja yang di kala memasuki pesantren ini ia masih berkeyakinan kalau Tuhan itu tidak ada. Untungnya sekarang sudah tobat. Dia jadi santri paling rajin saat ini versi majalah pesantren kita: Furqon Week. Ada juga yang bilang katanya sama anak baru yang kemarin jadi santri. Isu-isu yang berkembang rupanya ada beberapa santri yang mencurigai bahwa anak baru yang nyantri dan pak Kyai mensyaratkan agar si calon istri dari anak beliau harus mondok dulu disini.

“Tenan lho. Bocah anyar kuwi sing arep dadi mantu pak kyai..”, tegas Suroso. Continue reading