Malam Pertama di Wonosobo

Selepas Subuh, aku dan Pakde bersiap untuk bepergian ke suatu kota di Jawa Tengah, Wonosobo. Ceritanya, kali ini ada sesuatu yang harus didatangi terkait dengan urusan bisnis. Setelah semua tools, gadget, dan logistik disiapkan dengan matang, kami meluncur ke terminal Cicaheum.

Setiba di terminal, kami langsung menuju Bus antar kota antar propinsi, Budiman, dengan jurusan Bandung-Wonosobo. Ambil tempat duduk di belakang, dan yeah, aku bersantai sambil bbm-an dengan teman-teman. hehe..

“drrtt… drrtt..”, blackberryku bergetar.

Seperti ada sms masuk. Ternyata benar, dari seseorang panitia DP2Q Mata’ Salman.

“Assalamualaikum. Kang Armi, ini Reza dari Mata’. Mata’ insyallah tidak lama lagi akan ada daurah dan masih kekurangan sejumlah dana. Apakah bersedia untuk membantu panitia dalam bidang pendanaan dan kira-kira kapan kami bisa menemui akang untuk menunjukkan proposal.. Hatur nuhun”

“Waalaikumsalam. 🙂 Dikirm saja akh, ke : masarmy@gmail.com”

Hm. Rupanya sekarang memang sedang hectic-hecticnya dauroh. Setidaknya ada beberapa dauroh yang akan diselenggarakan oleh aktivis dakwah itb. Salah satunya ya DP2Q ini. Yah, semoga lancar semua saja acaranya ya. Sejenak, aku sishkan fokus pada sms ini dan berlanjut sms-an dengan seorang teman.

Hari masih sangat panjang. Aku beradu diantara bangun, tidur, bangun lagi, beli donat, sms-an, bbm-an, dan akhrinya tidur lagi. Pusing banget, belum makan pagi soalnya. Bus berjalan lancar di perjalanan yang melalui kota-kota kecil seperti Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dlsb.

Beberapa teman, ada yang berhahhihi dengan diskusinya tentang kebangsaan dan kebermanfaatan tentang umat. Ada yang curhat karena temannya suka dengan seorang ikhwan, tapi ikhwan itu tidak merespon, ada juga curhat masalah bisnis tentang bagaimana meminjam uang banyak dari Bank tapi tanpa jaminan, bahkan sampe mau jalan-jalan di Mall pun bingungnya ditransfer ke saya, mall A lebih baik dari mall B atau tidak. Ada yang nanya lg ngajak rekaman nasyid. Sibuk lah isi hape. Pokoknya ketika Bandung saya tinggalkan, semakin banyak yang merindukan.. (halahh.. hehe.. apa coba?)

Sore menjelang. Budiman mulai memasuki wilayah hutan. Banyak penumpang yang turun di Banjarnegara. Sebelumnya juga banyak yang berkemas dan turun di Purwokerto. tinggallah beberapa gelintir orang dalam bis. Langit semakin gelap, angin semakin dingin. Jalanan pun mulai sepi dari mobil. Dari kejauhan, tampak plang “Selamat datang di Wonosobo”.

Wonosobo ini, dulunya hutan, dan sampai sekarang kalau menurutku masih hutan. Bayangkan, masuk kota saja kita melintasi hutan dan banyak penggergajian kayu. Suasana yang sangat asri dan adem, curah hujan tinggi, orangnya khusyuk-khusyuk (banyak pesantren disini). Dan hadirnya bus ketika memasuki kota ini ibarat raksasa jalanan ditengah sepinya jalan. Menghabiskan separuh jalan, dan bahkan menyingkirkan motor-motor yang hendak memuju luar kota.

Beberapa saat, kami akhirnya tiba di mulut terminal. Beberapa gelintir penumpang akhirnya turun. Termasuk kami. Saat itu suasana agak sedikit gerimis, ditemani sayup-sayup suara adzan maghrib. Kami segera turun dan berlari kecil menepi, untuk menuju warung makan dan sedikit mengganjal perut yang sudah sangat lapar.

Sampailah di warung. Aku pesan nasi goreng. Pakdeku ke toilet. Aku duduk, meyusun tas disamping, dan mengambil blackberry lagi. Tentu, masih melanjutkan diskusi yang semakin memanas tentang cream de la cream of generasi muda itb. Asyik berhahahihi, nasi goreng datang. Nikmat betul rasanya setelah seharian tak makan. Nasi goreng panas dengan krupuk upil.

Tibalah waktu untuk membayar. Dan…

“Masya Allah. Tas kecil abang dimana pakwo?”

“Lho, bukannya tadi diselempangkan?”

Aku sejenak tersentak. Dompet, handphone, buku-buku saku, sejumlah uang, dll. Duh Gusti, kacau ini. Mana nomor kontak semua orang yang akan dihubungi ada di dalam tas itu. Aku agak limbung, tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Hmm.. Sabar..

aku langsung berlari menuju terminal. Untung, masih ada tukang sapu dan ibu-ibu penjaga tiket.

“Pak, nuwun sewu, lihat tas yang tertinggal ga? Tadi sepertinya tas saya ketinggalan. Sebetulnya lupa antara ketinggalan di bis atau di rumah makan.”

“Wah, ndak ada dik. Bener, tadi saya sendiri yang nyapu-nyapu dalam mobil. Coba kita liat lagi.”

Aku teliti satu-satu bangku demi bangku. Duh, tidak ada! Mulai pikiran-pikiran tidak karuan muncul. Ah, sudahlah ini ujian dari Allah mungkin.

Aku kembali ke rumah makan dengan tatapan hampa. Untung kamera, binocular, kompas dlsb masih ada di koper. Alhamdulillah lasih diberi kenikmatan yang lain dari sekedar dompet dan hp. Aku mengabsen semua nikmat yang ada saat ini untuk menenangkan perasaan. Alhamdulillah..

Sudah, setelah itu kami mencari penginapan saja lah untuk bersih-bersih, istirahat, dan sholat. Aku mau istikharah dulu, jangan-jangan kali ini Allah mau memberikan suatu sign negatif tentang apa yang akan aku lakukan disini. Kalau menurut ilmu kejawen kan begitu. Aku masih berkeras saja melawan perasaan sendiri, biar Allah saja yang jawab, apa harus diteruskan apa kita hentikan sampai disini. Istikharah.

Sebelum berbenah, setelah membuka koper dan mengeluarkan laptop, aku sempatkan tilawah tadabbur sejenak. Setelahnya, kubuka laptop dan mulai cek email dari seorang kawan, serta mengecek saldo tabungan, bisi ada yang jahat sudah meng-hack isi tabungan dan kartu kredit.

Mataku tercekat pada suatu email yang sejenak masuk. Ternyata dari DP2Q Mata’. Hmm.. Pikiranku mulai melayang ke ingatan-ingatan tentang ceramah ustad Yusuf Mansur, bahwa sedekah itu bisa menjauhkan kita dari bala, memperlancar rezeki, dlsb kelebihannya. Mungkin aku kurang zakat, ya, sampai harus kehilangan dompet dan hp. Apa ini ada rahasia dari Allah?

“Ri, tolong cekkan saldo tabunganku pakai token mandiri. Ada berapa?”

“Ada sekian rupiah, my. Piye?”

“Yoweis, amankan dulu, dompetku ilang, pak. Transferno nang rekening mu sek yo..”

“Ok”

Hape kututup. Aku mulai browsing lagi. Oya, mungkin ini rahasia Allah, aku disuruh bersedekah. Jika dikala senggang kita sedekah, apakah kita bisa sedekah dikala sempit? Itu pikiranku. Kuangkat hapeku lagi.

“Ri, aku inget ada tadi pagi yang minta donasi. Tolong transferno sejumlah sekian rupiah ke orangnya. Kayaknya aku mesti banyak-banyak zakat dan sodaqoh ni.”

“Oke, tak transfer, pakde..”

Klik.

Tiba-tiba handphoneku berdering lagi.

“Dengan pak Army Alghifari?”

“Ya, pak, dengan siapa?”

“Saya dari Saiful pak. Tadi naik bis bareng bapak. Saya yang bawa tasnya pak. Mohon maaf, tadi tasnya saya bongkar-bongkar, mau tahu siapa yang punya. KEbetulan ada kartu nama bapak, jadi saya telepon ke nomor ini.”

“Alhamdulillaaahh..!! Posisi bapak dimana sekarang?”

“Saya di wonosobo, pak. tapi saya juga bukan orang sini. Kalau mau diambil sekarang ya mangga, tapi sebaiknya besok pagi, sudah malam dan gelap. Saya di dekat Alun-alun lapangan bola pak. Besok pagi ketemu disana saja, nanti nomor saya jangan dihilangkan. Insyallah aman.”

“Baik pak. Terima kasih banyak sekali lagi, pak saiful ya..”

“Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam..”

Deg. Aku kagum dengan semua rencana Allah untuk memberiku pelajaran. Tidak butuh waktu lama bagi Allah untuk membuktikan kalimat-kalimat-Nya. Tidak ada yang sulit bagi-Nya untuk memudahkan dan menyempitkan urusan. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illa-Allah, Allahu akbar..”

-Wonosobo, Hotel Petra, 27 mei 2010, 9.30 pm-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s