#1 Amri, inilah hal terberat itu..

Di pesantren itu.

“Banguun..! Bangun..! Tahajjud! Wayahe sholat..!!”

Seorang senior membangunkanku.

Males ah.

“Amri, ayo bangun.. Jamnya Shalat ini. Ayo, ndhang tangi..“, suara Ustadz Naim membangunkanku lagi.

Duh gusti.. Jam brapa ini? Wow! masih jam satu pagi..

Kedua kelopak kedua mataku masih saling merindu, seperti tak ingin berpisah walau hanya sedetik. Huh, selalu. Nderes Qur’an tadi malem kan sampai jam 11, masak jam segini sudah dibangukan lagi?

Gemericik air wudhu mulai terdengar di jejaran tempat wudhu samping masjid. Aku berjalan terhuyung lemas, seperti ayam kena sakit tetelo. Cuma dua jam. Dan ini hari ketiga.

Ya, pesantren ini kejam sekali. Setidaknya menurutku. Baru tiga hari disini, tapi sudah seperti penjara saja. Semua harus diatur. Tidak ada lagi kesempatan untuk kongkow-kongkow, santai, bahkan malam minggu? Lupakan tidak ada kamus malam minggu.

Kuambil air wudhu. Lamat-lamat kurasakan sejuknya air membasahi muka dan mengalir menetes menganak sungai di tepian alis, sampai akhirnya menitik di ujung dagu. Pagi ini.. Pagi ketiga seperti ini.

“Allahu akbar”
“Bismillahirrahmaanirrahim.. Alhamdulillahirabbil alamiin..”

Sang imam memulai rakaat pertamanya. Kudengarkan, walau sambil terkantuk-kantuk, nada-nada minor dan merdu melantun dari pita suara jernih Ustad Kholil. Iya, ustad Kholil merupakan salah satu ustadz yang diminta Gus Ghofar untuk menjadi tim imam Qiyamul lail. Suaranya? Subhanallah, seperti Syaikh Hani ar Rifai. Tahu kan? Mudah-mudahan tau.

20 menit kemudian.

“Allahu akbar”

Rabbanaa walakal hamd..

“Duh ustadzzzzz… Santrimu ini, baru 3 hari disini. Latihan dulu kek, apa kek, jangan langsung jebrat-jebret kayak gini..”

10 menit.
20 menit.
30 menit.

“Assalamualaikum warahmatullah… Assalamualaikum warahmatullah”

Fiuuhhhh… Hampir satu jam untuk 2 rakaat. Masya Allah.. Ngantuk. Kakiku geringgingen. Pengen balik rasanya.. Pulang… Pulang… ke Surabaya tercinta. Ya Allahh..

Rasanya aku heran campur bingung. Kenapa kok santri yang lain ndhak ada keluhan apa-apa? Padahal sudah tahunan itungannya mondok. Mas Akbar, Mas Fais, Kang Cecep, semua kok rasanya santai saja..

Haduh. Dah mau mulai lagi.

“Amri..”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakangku. Sambil mulet, aku menoleh.

“Wah.. Pak Ustadz Naim..”, Aku melanjutkan dengan sungkem sujud.

“Hehehe.. Kamu kenapa? kok seperti penuh tekanan gitu..”

“Kenapa ustadz?”

“Lha itu kamu ngaca dulu, tho, le. Liat, sarungmu..”

Masya Allah! Sobek! Mana cuma pake celana dalem thok.. Haduh. Gawatt. Untung santri putri di lokasi lain. Ya iyalah, wong ini pesantren.

“Barusan ustad sobeknya?”

“Ya ndhak tau. Wong ustadz juga pas lewat mau wudhu lagi. Batal tadi. Yoweis, ndhang salin.. Ayo bareng ustadz, sekalian ambil wudhu. Kamu ganti sarung punya ustadz kalo ndhak ada lagi.”

Yes! Ndhak ikut sholat kedua.. hehe..

Sambil membersamai ustadz ke tempat wudhu, aku berbincang kecil dengan beliau.

“Ustadz, kok capeek banget ya rasanya di pesantren?”

“Sek sebentar. Ustadz wudhu dulu..”

Aku terdiam. Kutunggu ustadz berwudhu. Teduh sekali wajah ustadz Naim. Seperti memancarkan cahaya. Mungkin karena rajin Shalat Tahajjud ya..

“Kenapa? Kamu capek ya?”, tanya ustadz naim sambil menyeka air wudhu dan merapikan kopyahnya.

“Iya, ustadz. Masak saya nanti terus-terusan kayak gini selama 3 tahun? Tidur malem cuma 2 jam-an, aktivitas padat. Adduhh, ndhak kebayang ustadz..”

Ustadz masih sibuk merapikan baju dan bercermin. Kutatap lekat-lekat wajahnya dari samping.

“Le, tau ndhak, apa hal terberat dalam hidup?”

Suara ustadz membuyarkan tidur ayamku.

“hmm.. Apa ustadz ya?”

Aku sudah males berpikir.

“Hal terberat dalam hidup ini adalah pasrah”

“kok bisa ustadz? Pasrah yo enak no, ustad. Ndhak usah ngapa-ngapain”

“Amri, Ketika kowe pasrah, artinya kowe siap dengan segala apa yang sudah Allah tetapkan padamu. Menjalani dengan sepenuh hati, tiada susah, tiada senang. Bekerja saja untuk Allah. Mintakan perasaan tenteram pada-Nya, karena hanya Allah yang menguasai perasaan-perasaan ini.

Kita ini.. masih suka berpikir sesuatu dengan njelimet tentang apa yang akan terjadi, seolah kita ini Tuhan. Wong tinggal sami’na waatho’na aja lho. Tapi justru itu yang berat. Kita terlalu bermain-main dengan pikiran sendiri. Lepaskan saja. Serahkan saja pada Allah. Jalani takdir kemanusiaanmu, le. Diminta berdiri sama Allah, ya berdiri. Disuruh ruku’ ya ruku’. Disuruh njengkingya njengking. Yang membuat itu terasa berat, ya karena kita berpikir. Sudah, ndhak usah dipikir. Jalani saja hari ini. Titik.”

Aku tercenung. Ingat kalo terlalu banyak mengeluh. Ingat kalo terlalu banyak minta. Terlalu banyak nuntut. Allah Maha Baik ternyata, masih sayang sama diri ini yang bahkan ndhak pantes disebut ngajeni Gusti Allah. Seperti rasanya cinta bertepuk sebelah tangan.

Wis ayo le. Kedalem. Kita ganti sarungmu. Sarung elek kok digawe.. Wis.. wis. Anake wong sugih kok sarung aja sampe suwek-suwek..”

Aku tersenyum.

“Tunggu ustadz. Jangan cepet-cepet. Tambah suwek nanti..!!”

Advertisements

2 thoughts on “#1 Amri, inilah hal terberat itu..

  1. cerita renyah penuh hikmah. ampek keram ne gigi, karna kekeringan air ludah. cengengesan.
    i will read your note, and be your stative reader in your note. kayaknya punya nasib ampir mepet ke Kang Abik–>Kang Army’k (Beti-kan?…beda tipis) jadi penulis.
    salam kenal dari Yucha di Medan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s