#2 Amri dan Ariel

Tak. Tik. Tak. Tik.

Jarum jam barak terasa sangat jelas di telingaku. Ya, entah kenapa, kala istirahat malam ini, mataku tak bisa terpejam.

Sebenarnya, hari ini aku sudah sangat lelah. Mulai pagi tadi yang kegiatan rutin berolahraga setelah kajian ba’da Subuh, lalu dilanjutkan dengan materi kuliyyah demi kuliyyah di kelas, dan belum tahfidz Qur’an di sore hari yang berakhir dengan sedikit materi tausiyah sebelum tidur. Belum termasuk kegiatan cuci baju dan membersihkan kandang sapi punya pak kyai yang ndak kira-kira besarnya.

Tapi sedikit kejadian di TV tadi sore di salah satu infotainment yang diputar di dapur pesantren terasa sedikit menghentakku.

“Mas Yono, jangan digeser sebentar channelnya..”

“Kamu itu, kok bawa-bawa sapu kerik ke dapur, bau tai sapi lagi.. sana, nanti didukani pak kyai lho..” Continue reading

Advertisements

Sobari

Sekali lagi, saya ingin membagi kisah nyata dari seorang guru dan mentor kehidupan, Pak Zeli, tentang seorang sahabatnya yang bernama Sobari. Terima kasih, Pak, sudah Bapak tunjukkan jalan terang itu. Kepada rekan-rekan, kubagi hikmah perjalanan hidup ini. Silakan menikmati.

====

Namanya Sobari. Singkat saja nama itu. Padahal banyak orang punya nama yang panjang atau setidaknya dua suku kata dengan tambahan nama orang tua atau family atau marga. Orang bilang nama itu lambang harapan. Banyak orang tua memberi nama anaknya nama tokoh sejarah , panglima perang, raja, intelektual, artis. Tentu ada kebanggaan ketika orang tua melahirkan anak dan sekaligus bermimpi kelak anaknya dapat meniru idolahnya atau sesuai apa yang mereka inginkan. Tapi Sobari adalah Sobari. Mungkin orang tuanya memberi nama itu hanya mengharapkan Sobari menjadi orang sabar. Tak penting mau jadi apa, yang penting Sabar. Cukup.
Continue reading

Malam Pertama di Wonosobo

Selepas Subuh, aku dan Pakde bersiap untuk bepergian ke suatu kota di Jawa Tengah, Wonosobo. Ceritanya, kali ini ada sesuatu yang harus didatangi terkait dengan urusan bisnis. Setelah semua tools, gadget, dan logistik disiapkan dengan matang, kami meluncur ke terminal Cicaheum.

Setiba di terminal, kami langsung menuju Bus antar kota antar propinsi, Budiman, dengan jurusan Bandung-Wonosobo. Ambil tempat duduk di belakang, dan yeah, aku bersantai sambil bbm-an dengan teman-teman. hehe..

“drrtt… drrtt..”, blackberryku bergetar.

Seperti ada sms masuk. Ternyata benar, dari seseorang panitia DP2Q Mata’ Salman. Continue reading

#1 Amri, inilah hal terberat itu..

Di pesantren itu.

“Banguun..! Bangun..! Tahajjud! Wayahe sholat..!!”

Seorang senior membangunkanku.

Males ah.

“Amri, ayo bangun.. Jamnya Shalat ini. Ayo, ndhang tangi..“, suara Ustadz Naim membangunkanku lagi.

Duh gusti.. Jam brapa ini? Wow! masih jam satu pagi..

Kedua kelopak kedua mataku masih saling merindu, seperti tak ingin berpisah walau hanya sedetik. Huh, selalu. Nderes Qur’an tadi malem kan sampai jam 11, masak jam segini sudah dibangukan lagi? Continue reading