Selamat Datang

Selamat Datang.

“Be the change that you wish to see in the world.”  - Mahatma Gandhi -

Seorang pejalan hidup yang baik selalu mempersiapkan. Mulai dari hendak kemana ia melangkah, hingga bersama siapa ia berjalan. Kadang kita sering melupakan, mengapa kita berjalan.

Sedikit kata dan makna disini, mungkin bisa membuat kita ingat itu semua.

Selamat mengembara dalam samudra kata saya.

Salam hangat,

Army Tetirah.

#2 Kalkulus

Sampailah aku di kelas. Cukup surprise juga melihat wajah-wajah membara dan mata yang berkilat-kilat dari setiap manusia yang duduk di kelas ini. Aku pikir, aku akan bertemu orang-orang yang ketawa haha-hihi di sudut kelas atau bergerombol diluar saat guru belum tiba – seperti masa SMA dulu. Namun kali ini tidak. Tampak barisan wajah-wajah yang seolah akan meraih IP-4 semua. Jujur aku terintimidasi. Muka-muka yang seperti lapar dan siap menerkam setiap lembar halaman buku kuliah. Entah faham entah tidak, wajah-wajah ini nampak serius sekali membaca dan menenteng buku putih nan sakral yang termasyhur itu. Bagian depannya tertulis huruf kapital tegas : KALKULUS. Di tepi bagian bawah tertulis siapa komposer barisan melodi angka-angka dan kalimat -kalimat matematika di dalamnya : Edwin J. Purcell. Nanti kau akan tahu, Purcell, adalah idola bagi mahasiswa teladan. Namun ianya juga bencana bagi mahasiswa gadungan.

Beberapa menit sebelum bapak dosen masuk, Purcell dan Calvin-Klein ini sepertinya sejajar dalam hal mode bagi mahasiswa baru. Ibarat pelengkap trend dan mode berpakaian yang paling mutakhir, belum lengkap jika hanya mengenakan kacamata Oakley, baju kaos polos Giordano, celana jeans belel, dan sepatu Nike atau Adidas, jika belum menenteng maha karya seni Pak Purcell. Nemun seiring berjalannya waktu, Purcell perlahan-lahan menjadi nama yang paling dikutuk, khususnya bagi para mahasiswa ITB yang kebetulan secara tak sengaja benar semua jawaban SPMB-nya. Aku tak main-main, jangan dirimu cepat bangga masuk ITB. Jangan-jangan jatah keberuntunganmu sudah kau habiskan untuk masuk, dan tinggal jatah deritamu yang harus kau nikmati dalam deraian peluh dan air mata selama 6 tahun ke depan untuk bisa lolos dengan selamat. Nanti, nanti ada saatnya aku akan bercerita tentang kutukan paling sempurna bagi Purcell, manusia pencipta buku Kalkulus dan Geometri Analitik bagi mahasiswa tingkat awal seperti kami ini.

Oya, ruangan kelas kami ini cukup unik. Gedung kelas ini mirip tempat duduk bioskop. Makin ke belakang, makin meninggi. Sehingga setiap mahasiswa yang mencoba untuk meletakkan kepalanya di meja akibat malamnya sibuk main Football Manager pasti akan segera tertangkap mata. Beberapa dosen yang cukup ekstrim sering memanfaatkan posisi kursi tribun ini untuk menjerat mahasiswa-mahasiswa yang tak bisa diharapkan. Ini salah satu momen yang paling ekstrim yang pernah saya rasakan di beberapa tahun mendatang: Continue reading

#1 Mahasiswa Baru

Bangunan itu nampak tua. Besar. Berwibawa.  Tudungnya melancip-lancip dari bahan organik. Hitam kusam gelap. Di bagian tepinya tampak seperti ijuk melambai-lambai, berderet memanjang menghiasi seluruh tepian gentengnya. Pilar-pilar tersusun rapi menyisihi koridor pejalan kaki. Di sampingnya padang hijau membentang luas dengan tulisan “Dilarang menginjak rumput”. Ini gedung tua, menir-menir Belanda pernah main bola dan main kelereng disini. Pak Presiden Soekarno pernah begadang sambil ngopi, atau bahkan mungkin pernah merayu salah seorang mahasiswi disini. Pun, mereka yang bersepatu lars tinggi juga pernah menghentak-hentak tanahnya, dan menghantamkan senapannya di rusuk dan kepala penghuninya. Ini gedung tua penyimpan sejarah peradaban manusia, banyak kisah cinta lahir disini, tak sedikit juga yang menghadap Ilahi ketika masih menjadi penghuni disini. Ini gedung istimewa, tak pernah jelas kapan lahirnya, kadang tahun 1920, kadang tahun 1958, tergantung suka-suka penghuninya. Ini gedung, sebagian orang sedih dan miris jika mendengar namanya, terutama yang sudah terlalu lama melapuk tak lulus-lulus. Sebagian yang lain berkebalikannya, saking bangganya, dari ujung rambut hingga ujung kaki dihiasi produk kokesma. Sebut saja topi, tas, kaos, celana, jaket, sepatu, pin. Bahkan buku tulis dan ballpoint-nya. Untung saja kokesma tak menjual celana dalam. Mungkin kalau dijual, akan habis dibeli juga. Gedung ini sering disebut : ITB.

Ya, ini hari pertama aku akan memasuki secara resmi gedung nan megah itu. Teringat masa-masa lalu dimana aku begitu inginnya menjadi bagian dari sejarahnya. Sejak ketika aku menyadari bahwa dari gedung ini pernah lahir banyak pemimpin bangsa, maka aku bertekad bulat sebulat-bulatnya untuk masuk. Tapi yang jelas bukan hanya masuk gedung saja lho, tukang gorengan juga sering kalau hanya masuk. Maksudku, aku bertekad untuk bisa menjadi bagian dari 3000 mahasiswa baru yang diterima oleh gedung ini setiap tahunnya. Dan hari ini, Alhamdulillah, takdir itu milikku.

Dulu aku sering aku berkhayal-khayal sendiri, betapa indahnya jika aku masuk menjadi mahasiswa disana. Namun di kemudian hari setelah aku renung-renungkan, ini tergolong dari lima penyakit yang harus dijauhi, kawan. Aku terus terang saja. Karena ketika sudah masuk menjadi bagian gedung ini, khayalanmu akan buyar seketika. Yang tersisa sebagian besar adalah deraan 99 rintangan dan 33 ujian demi mencari angka keramat dan lembar suci. Begitu banyak mahasiwa yang masuk membusungkan dada, bergaya karena dia raja di sekolahnya. Setelah masuk di gedung perkabungan ini, teman-temannya terpaksa harus mengheningkan cipta karena ianya syahid diatas kertas ujian kimia tanpa ampun. Ini aku sebut ia telah menderita lost-world syndrome. Mereka ini seperti orang yang  jalan adem-ayem, tiba-tiba… Dhuar!! Ia ditabrak dari belakang karena salah memilih jalan, ternyata ia sedang bersepeda fixie di jalur busway. Dikira tanah ini masih tanah jajahannya yang ia masih bisa berhaha-hihi. Padahal disini sudah bersemayam raja-raja bumi yang tak kenal ampun. Apalagi nanti kau akan kuceritakan, sebuah kerajaan kecil yang melegenda, yang doyan menghukumi para mahasiswa penderita lost-world syndrome. Continue reading

#3 Tragedi Hwang Ho

“Ilham…!! Kamu bawa kompor listrik ya?!!”

Tiba-tiba suara seperti nenek sihir menggelegar bak petir di malam hari itu, sedikit mengolengkan panciku yang masih mengepul-ngepulkan uapnya. Bagiku, kadang-kadang uap tersebut seringkali terlihat seperti tangan manusia tengah tertangkup, seolah-olah sedang menghormati Anders Celcius dan Daniel Fahreinheit yang telah berjasa menisbahkan angka-angka yang dapat meloncat setiap ia kegerahan.

Gawat.

Tanpa pikir panjang, kumatikan kompor dan langsung kutindihkan saja tumpukan baju kotor yang menggunung di sampingnya persis. Bluk! Sempurna, tak kelihatan. Dan tiba-tiba nenek sihir itu seketika muncul meraksasa di hadapanku. Sepertinya ia punya indera keenam yang mampu melihat setiap gerak-gerik anak kosnya yang tak sesuai aturan.

“Mana kompor listrikmu?!!”

“Nggak ada, bu. Tuh.. ga ada..”

“Itu kata Bik Puji?! Katanya tadi kamu diam-diam ambil panci dibawa keatas..”

“Ah nggak bu.. itu mungkin perasaan Bik Puji aja..”

Pandangan ibu kos menyelidik.

“Awas ya kalau ketahuan masak…!”

Aku diam saja menunduk. Si nenek sihir keluar. Aku tersenyum penuh kemenangan. Yes..!!

Sesaat. Gila.

Tercium bau hangus.

Dan benar, Kawan-kawan. Bajuku gosong dan berasap dimana-mana!

“Ilhaammmm………….!!!!!”

***

Jo podo nelongso..

Jamane jaman rekoso..

Urip pancen angel..

Kudune ra usah ngomel..

Ati kudu tentrem..

Nyambut gawe karo seneng..

Ulat ojo peteng..

Nek dikongkon yo sing temen..

La’o podo konco..

ati kerep loro..

ra gelem rekoso..

mbudidoyo..

Pancen kabeh podo, pingin urip mulyo

Wiwitan rekoso..

pancen nyoto..

(koes plus)

Continue reading

#001 It’s all About Bucks

Sebuah pohon akasia malam itu tegak berdiri seperti benteng. Besar menjulang, bersaing tinggi dengan pohon beton di sampingnya yang tak mau kalah memancarkan keangkuhan. Sebuah bangunan hotel tak bersudut bermandi cahaya temaram menyapa perjalananku memasuki kawasan bisnis ternama di kota kembang ini.

Dua orang satpam memberi hormat dan memeragakan isyarat kepadaku untuk berhenti sejenak dan menjalankan prosedur keamanan kawasan tersebut. Yah, formalitas saja menurutku. Setelahnya, mobilku langsung meluncur menuju area parkir lantai 3.

Area bisnis ini memiliki boulevard dan ruang publik yang sangat luas. Biasanya di area tengah, sering dipakai untuk konser, launching produk, atau lomba berbagai macam kegiatan.Kadang break dance, kadang modern dance, atau festival musik eropa, launching community program, kompetisi grup band, dan banyak lagi.

Pusat perbelanjaan berada di bagian timur dengan desain elegan, simpel, dan memukau. Jika ingin berwisata kuliner, kau bisa memasuki pusat perbelanjaan dari sisi kiri dan kanannya, karena disana, di sebelah selatan dan utaranya, semua bercerita tentang makanan. Masakan Jepang, Thailand, Cina, Indonesia, tenants makanan cepat saji, Starbucks Coffee, J-Co, bahkan hingga makanan-makanan kecil seperti stan gula-gula dan booth teh gelas  ada semua. Tak hanya berada di tepi utara dan selatan perbelanjaan, hingga ke barat area publik utama, stan makanan daerah pun bertebaran dengan berbagai konsep penyajian, termasuk restoran dengan harga selangit hingga makanan murah meriah.

Masuklah hingga ke lantai 3 dalam pusat perbelanjaan, salah satu bioskop yang paling besar di kota Bandung ada di sini. Dengan delapan teater yang aktif bersamaan, bioskop ini mampu menampung ribuan anak muda yang menghabiskan malam minggunya dengan menonton film. Karaoke dan pub? Jangan tanya. Dentum-dentum musiknya saja sudah bisa kau dengar lamat-lamat meski kau tak berada di dalamnya. Hotel? Di kawasan ini setidaknya sudah ada satu hotel yang di klaim sebagai hotel paling ramah lingkungan dan hemat energi. Belum yang di luar kawasan ini namun masih terjangkau dalam radius tak lebih dari 2 kilometer. Pokoknya, bisa dibilang, kawasan bisnis ini adalah salah satu sentra kegiatan yang paling aktif dan memberikan keuntungan ekonomi bagi pelaku bisnis industri kreatif dan pemerintah. Kami biasa menyebut kawasan bisnis ini dengan nama : Cihampelas Walk, yang memang terletak di Jalan Cihampelas Bandung.

Aku menyegera langkahku berjalan. Dari lantai tiga, aku harus memasuki department store terlebih dahulu untuk mencapai lift terdekat. Pas, lift sedang terbuka dengan segerombolan cewek-cewek ber-hot pants sambil haha-hihi asyik chatting dengan blackberry sambil sesekali bergosip tak jelas. Dengan tanpa tentengan kantong plastik besar-besar bermerk pakaian terkenal, aku tahu mereka pasti akan shopping semalaman sampai gedung pencakar dompet dan kartu ATM ini tutup. Aku langsung masuk. Masih tersisa aroma parfum berbagai merek yang hanya bisa kusimpulkan satu hal saja dari hal itu: pening alang kepalang. Segera kutekan tombol G. Pintu tertutup. Lift meluncur.

Ting.

Pintu lift terbuka. Langsung tampak dihadapanku seorang anak muda berpakaian kaos polos dengan jeans butut tampak masih asyik memeluk pacarnya sambil saling berpandangan penuh arti. Hah, seperti tidak ada tempat lain saja. Aku langsung menuju restoran internasional yang sudah tampak mengundang sejak lift itu terbuka.

By the way, restoran ini tak besar, namun cukup elegan. Suasana lampu temaram dengan cahaya lampu-lampu halogen yang membilas tiap meja satu demi satu. Lukisan-lukisan abstrak tampak di dindingnya dengan ukuran yang tak bisa disebut kecil..

Setiap pengunjungnya akan dijamu dengan meja bulat berkursi empat. Semua meja tampak seragam warna, coklat pekat plitur, dengan kursi berwarna selaras seirama. Pelayan-pelayannya tampak terlalu serius menurutku, hingga berjalan seperti robot saja. Mereka menggunakan topi khas yang aku pun tak tahu, bagaimana perancang mode pakaian restoran ini bisa menemukan bentuk ide topi seperti itu, gepeng seperti kantong kertas yang terlindas kaki.

Aku naik ke lantai dua. Dari pertengahan tangga, sudah kulihat seseorang yang telah menunggu dan memesan makanan.

“Selamat malam, pak..”, Sapaku. Aku langsung menarik kursi jati yang terletak persis di depannya.

“Malam, mas. Monggo duduk.. Maaf saya datang duluan, ya. Saya sudah pesankan makanannya” katanya sambil menyalamiku.

Aku mengedarkan pandang. Biasanya ia dengan istrinya. Tapi sepertinya kali ini ia sendiri.

“Sendiri?” Tanyaku.

“Iya, mas. Anak-anak di rumah ga ada yang nunggu. Pembantu pada pulang kampung semua.”

Aku pandang selintas lelaki itu. Seorang laki-laki berperawakan kecil kurus, bermuka segitiga dengan potongan rambut belah pinggir. Lelaki yang sudah 2 tahun aku bisnis bersama dengannya.

“Pelayan, minta menu!” Aku memanggil pelayan yang sedang berdiri terpekur di samping kasir. Si pelayan tampak tergesa-gesa mencari menu dan berjalan menuju ke meja kami.

“Tadi bapak ini pesan apa saja?”

Pelayan itu tampak memencet-mencet gadget berbentuk notes.

“Dua Bistecca di Fusione Piazza, dan Vino Rosso

“Vino Rosso?”

“Yak..”

“Ok. Saya tambah salad yang ini saja..” kataku sambil menunjuk satu buah gambar berwarna-warni kepada si pelayan.

“Baik pak. Segera, Italiano Insalata segera kami hadirkan”

Si pelayan bergegas pergi meninggalkan meja kami.

“Jadi bagaimana perkembangan terkait pembayaran Pak Yusuf?”, tanyaku menyambung pembicaraan.

Laki-laki muda usia itu diam sejenak. Ia mengambil tisu lalu menyeka mulutnya.

“Baik pak. Semua baik. Kemarin saya sudah bertemu lagi dengan beliau. Tapi dasar memang semua BUMN menengah sedang masa-masa suramnya sekarang. Pak Yusuf sudah bisa memastikan jadwal pembayaran minggu depan akanoverdue sekitar 2 bulan.”

Aku diam. Barisan nada Chopin, Waltz in A minor, mengalun indah, merendam telinga semua pengunjung restoran ini dalam euforia klasik abad pertengahan.

Sepotong daging merah yang dilelehi saus hangat di hadapan mataku tampak demikian menggoda. Kuambil sepotong. Kukunyah pelan-pelan.

“Pak..” aku memulai nada serius tanpa mimik dengan lawan bicaraku ini.

“Bapak tahu kan, apa yang akan terjadi kalau jadwal pembayaran overdue lebih dari 1 bulan?”

Aku lirik wajahnya sekilas.

“Iya, mas. Tapi memang kita mau apalagi. Pergantian direksi dan ditambah dengan adanya merger membuat kita hanya bisa menunggu. Lagipula saya dan akunting kita bu Vera sudah membuat beberapa strategi untuk mengatasi jadwal-jadwal expenses kita di bulan depan. Rasanya sedikit waktu yang kita beri kepada Pak Yusuf cukup realistis, mengingat perusahaannya sudah banyak memberi profit pada kita”

Aku mengambil tisu disamping piring. Kuusapkan di bibir dan samping pipiku yang sedikit kotor oleh saus steak.

“Oke. Saya bisa percayakan ke Pak Tony untuk masalah ini?”

“Sure. You can count on me.”

“Ok, I count on you. Let’s see then. Don’t forget. It’s all about this: Kill, or be killed.”

***

Bandung masih gerimis malam itu. Pun dengan hatiku. Ada jenak resah jiwa yang menggelayutiku sepertinya. Entah apa. Mungkin karena terlalu buramnya hati, tak mampu lagi ia membaca redup dan terangnya.

Aku berjalan kembali dari restoran Italia tadi menuju parkir mobil lantai tiga. Kususuri gelap malam menuju Honda Jazz hitam yang selalu menemani perjalananku malang melintang menderu malam dan siang. Aku masuki jazz kesayanganku. Kupantik starter. Kujalankan mobil meninggalkan malam gelap yang makin gulita. Ya, seperti hatiku.

Kriiing….!!

Sebuah suara nyaring menembus alam mimpiku.Seorang gadis muda belia yang tengah bercengkrama denganku tiba-tiba berganti dengan silaunya cahaya matahari menembus retina dan jerit alarm handphone yang menggetarkan dinding gendang telingaku.

Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit.

Gawatt..! Terlambat..!!!!

Hari ini sepertinya hari kesekian kalinya dimana aku tertidur kecapaian di waktu menjelang Subuh, kemudian bangun telat di 4 jam setelah itu. Sholat Subuh di waktu seperti hari ini sudah menjadi kebiasaan baruku. Ah, masih untung sholat, pikirku. Kuambil wudhu, shalat Subuh, lalu bergegas mengguyur tubuh dengan siraman air hangat. Setengah jam kemudian, aku sudah siap dengan pakaian casual dan aroma Terre de Hermes menyelimuti tubuh.

Dan pagi ini aku harus menghadap dosen untuk menyerahkan draf tugas akhir yang terbengkalai sejak 1 tahun lalu. Seharusnya, aku sudah harus lulus sejak dulu. Tapi entah kenapa, sudah satu tahun berselang rasanya aku tak kunjung nafsu untuk berjumpa dengan puluhan lembar kertas yang aku pun tak tahu apa isinya. Belum lagi kalau harus berjumpa dengan dosen pembimbing yang hobi berkelana ke ujung dunia, hingga lupa mungkin masih ada anak bimbingannya yang terseok-seok.

Menunda tugas akhir ternyata tak malah membuat bahagia. Detik demi detik yang berlalu tak terasa berkumpul, menggunung, bersiap untuk berubah menjadi raksasa DO seperti Rahwana yang dilahirkan Dewi Sukesi. Rahwana ini mengejar-ngejarku, setiap saat mengayunkan cakarnya dan menghancurkan keping-keping hidupku, satu demi satu. Aku selalu mencari akal untuk melawannya, namun semakin banyak akal yang kutemukan, tak membuat ia lemah, malah makin kuat. Oh, ternyata ia mengkonsumsi waktu lengangku. Artinya aku harus membuatnya takluk dengan mencuri makanan-makanannya. Jika ia tak makan barang sebulan pastilah lemah. Dalam kelemahan itu harusnya kuhunjamkan pisau sidang yang baru akan membuatnya mati ketika pimpinan sidang tugas akhir menyelamatiku atas gelar yang akan kusanding. Tapi itu kapan, ya Tuhan..??

Ah, sudahlah, toh ditikam Rahwana tak akan membuatku mati. Luka bisa sembuh. Mungkin aku bisa minta tolong pada Resi Wisrawa, ayah Rahwana untuk memenjara anaknya yang tak tahu budi pekerti ini. Tak lulus, bukan berarti mampus. Toh sekarang juga aku sudah bisa menikmati hasil usahaku sendiri.

Tak perlu makan pagi, aku langsung menuju parkir mobil kosan dan melesat menuju kampus yang aku sudah bosan menyebut-nyebut namanya.

Beberapa saat kemudian, tiba aku di muka pintu bertuliskan nama dengan gelar berderet.

Prof. Dr. H. Nur Tirto Wibisono

Tok..tok..tok..

Tak terdengar jawaban.

Aku kembali mengetuk sambil menyapa.

“Assalamualaikumm…, pak prof..”

Tiba-tiba terdengar suara berat dari dalam ruangan.

“Waalaikumsalam..masuk.”

Aku membuka pintu kayu jati coklat berat itu.Sepertinya ruangan ini beserta propertinya tak mengalami pergantian sejak puluhan tahun silam. Gagang pintunya saja berderit-derit dan berwarna kuning kusam. Ruangan di dalamnya bau buku lama yang seakan tak pernah disentuh tangan manusia. Lemari tua penuh debu-debu halus, dan meja kerja yang bertumpuk kertas, makin menambah kesan suramnya ruangan ini. Satu-satunya yang membuatku masih ingat bahwa saat ini adalah abad 21 adalah sebuah computer desktop yang tampak tengah membuka halaman Google.

“Kamu yang sms kemarin?”

“Betul pak..”

“Oke ada apa?”

“Ini pak, saya ingin melanjutkan tugas akhir saya yang kemarin sempat terbengkalai beberapa bulan.”

“Oh..oke. Mana proposalnya?”

“Ini pak.”

Tampak wajah professor itu mengkerut sambil membolak-balik halaman proposal yang aku pun sudah lupa kapan membuatnya. Tangannya tampak sibuk membuat coretan-coretan, lalu mengambil buku biru di sebelahnya.

“Hmm..Nak, sayang sekali.”

Aku berdetak. Ada apa??

“Tugas akhir ini sudah ada yang mengambil beberapa bulan lalu. Entah siapa saya lupa ini namanya, tapi masih ada proposalnya.”

Aku mencelos.

“Lho pak, dulu kata Bapak belum ada yang mengambil? Saya kan fokus pada inovasi dryer conventional yang selama ini banyak digunakan di dunia pertanian secara statis. Saya berusaha membuat rancangan dryer yang dinamis, sehinggaapplicable pada sarana transportasi yang ada serta dapat menghemat waktu serta energi pengeringan. Rancangan yang saya berikan kepada bapak beberapa waktu lalu kan sudah membuktikan, bahwa tugas akhir saya ini orisinal dan belum ada yang mengerjakan..” bantahku.

Aku tidak terima, meski sudah hampir satu tahun aku tinggalkan, tugas ini tidak boleh berubah. Proposalku sudah disahkan oleh Profesor Nur. Ini harus diperjuangkan!

“Lho, iya. Tapi sudah ada yang mengambilnya ternyata. Kamu kok ngeyel. Ini lho kalau ga percaya. Dia sudah lebih dulu datang sebelum kamu.”

Aku ambil proposal yang ditaruh professor di depanku. Aku baca, siapa orang yang telah mencuri ideku diam-diam dan mengambilnya kepada Professor Nur.

Draft Tugas Akhir

Perancangan Awal Sistem Pengeringan Bawang Merah dengan Pemanfaatan Udara Panas Lingkungan Pendingin Mesin sebagai Sumber Kalor

Oleh : Satria Tegar

Tak kulanjutkan membacanya. Ya, Tuhan. Entah aku ingin tertawa, atau sedih. Sementara sang professor masih berdehem-dehem dengan menikmati teh panas kesukaannya, tanpa menyadari, makhluk didepannya ini sudah ingin mengatakan,

Ya Ampun, Pak. Itu saya.. Maafkan saya sudah berbulan-bulan tak hadir, hingga kau lupa bahwa saya mahasiswa bimbinganmu..

Jangan biarkan Rahwana menikamku, Ya Tuhan..

***

#2 Berantem dan Diinterogasi

Kami masih di Bandara Soekarno Hatta, tengah mengantri di pintu imigrasi. Bersama kami, ada seorang professor, seorang polisi, dan beberapa karyawan swasta biasa.Sang polisi merupakan putra dari professor. Dan professor ini merupakan guru besar dari sebuah universitas kedokteran negeri yang terbesar di Surabaya: Universitas Airlangga.

Nampak beberapa orang mengantri di hadapanku. Tak terlalu banyak pastinya, dan tidak akan terlalu lama, hanya mengecek paspor, visa, lalu pembuatan kartu imigrasi yang harus kita isi dan ditunjukkan kembali saat pulang dari luar negeri.

Beres urusan imigrasi, kami menuju ke screening barang bawaan lagi. Ini dimaksudkan agar penumpang tidak membawa bahan berbahaya atau senjata tajam yang bisa menjadi ancaman bagi penerbangan yang akan dilakukan.

Satu demi satu kami memasukkan tas jinjing, koper kecil, atau plastik-plastik bawaan. Aku sendiri hanya membawa tas punggung dan satu tas jinjing yang berisi beberapa buku untuk mengisi waktu selama 8 jam berada di perjalanan.

“Maaf, bu tolong dibuka tasnya.”Kata petugas pemeriksaan kepada seseorang di belakangku.Aku menoleh, ternyata istri professor.

Ibu berjilbab merah muda itu membuka tas kecilnya. Tampak disana beberapa botol lotion, minyak wangi, dan bedak-bedak khas wanita.

Petugas bertubuh tambun itu melihat dan memilah-milah sambil membaca tulisan yang tercantum di botol tersebut.

“Bu, yang ini ga boleh di bawa masuk ya.”Kata petugas itu kepada ibu dengan nada tak bersahabat.

Sang anak tiba-tiba berkomentar,

“Kenapa pak? Ngga ngga, ngga akan kita jual di Arab kok lotionnya..”

Rupanya maksud komentar yang sedikit bercanda itu memantik sedikit silang pendapat.

“Mas, siapa yang bilang situ mau jual?! Ini peraturan, tidak boleh membawa cairan lebih dari 20 ml ke dalam pesawat!”

Trak..!!

Bapak bertubuh tambun berkumis tebal itu melempar botol tersebut tanpa kompromi ke dalam tempat sampah.

“Heh, pak, sampeyan jangan mentang-mentang ya! Ambil lagi itu botolnya..!! Jadi petugas jangan kurang ajar!!”

Rupanya sang anak emosi melihat petugas tersebut membuang botol lotion milik ibunya tanpa menyertakan kesopanan.

“Sampeyan siapa namanya?!! Berani seperti itu sama pelanggan. Ayo ambil lagi!!”

“Pak, ini sudah peraturan tidak boleh membawa cairan lebih dari 20 mL ke dalam pesawat!Bapak mau menentang peraturan?!”

“Lho, ngelawan ya?! Sampeyan apa ngga tau tata krama. Ngomong baik-baik kan bisa, ngga perlu asal lempar! Asal bapak tau, itu belinya pakai duit pak, duit ibu saya, bukan duit Bapak..!! Siapa namanya! Tak laporkan ke komandanmu!!”

Si anak tampak emosi tak tertahankan.Pak professor tampak tak enak hati.Lalu beliau menyela perdebatan sengit itu.

“Pak petugas, sampeyan kan bisa ngomong baik-baik, ngga perlu asal lempar seperti barang sendiri ke tempat sampah.Saya yang lihat juga emosi, kok sampeyan seperti ga punya tata krama.Gimana kalau itu obat penting istri saya?”

Petugas itu diam saja, seakan angin lalu semua pembicaraan yang sudah terjadi.Ia seperti tak menghiraukan kami bicara.

Sejurus kemudian, si anak berjalan cepat mendekat kepada si petugas lalu hendak dipukulkannya tas jinjingnya kepada pria berbaju biru tua itu.

“Hey..hey..!!! nak, nak!!” Si ibu mencegah dengan memegangi tubuhnya.Aku dan satu orang lagi juga ikut berusaha mencegah pak polisi yang sudah gelap mata itu.

“Sudah, nak. Sudah… Ini kita kan perjalanan ibadah. Sudah ndak apa-apa..Ibu bisa beli lagi kok.Lotion biasa itu, lotion murah. Sudah, ndak usah rame disini, malu sama jamaah umroh yang lain..”

Aku mengedarkan pandangan.Puluhan mata sudah menatap kami seakan sirkus di tengah bandara.

Sang anak melunak, ditunjuk-tunjuknya petugas itu.

“Awas sampeyan kayak gitu lagi. Tak laporkan nggak takut saya. Kalau anak buahku sudah tak gampar kamu, dasar petugas ngga tahu sopan santun..!!” digebraknya meja stainless di hadapan kami.

Aku menghela nafas. Yang lain curi-curi pandang memperhatikan saksama gerak-gerik anak professor yang masih merah mukanya menumpahkan amarah.

Sejenak, akhirnya kami semua meninggalkan pria tambun itu.Tampak si ibu berbicara dengan anak dan suaminya.Mungkin hanya mennyalurkan ketenangan, agar si anak melunak dan tak lagi emosi.Mereka bicara sambil jalan, sesekali tangan ibu menepuk-nepuk punggung anaknya. Alhamdulillah, tidak sampai terjadi baku hantam.

Fiuhhh…

Akhirnya, nampak dihadapan kami Pak Idris, pendamping rombongan dari travel, berlari tergopoh-gopoh dari ruang tunggu boarding menuju kepada beberapa orang termasuk saya yang masih berada di luar ruang tunggu.

“Bapak-bapak ibu-ibu, ayo segera masuk.Sudah mau boarding.Kalau ga masuk awal-awal nanti antrinya panjang. Monggo langsung aja masuk ruang tunggu..”

“Oke pak, ini sudah menuju semua ke dalam..” kataku mewakili beberapa orang yang masih ada diluar.

Perjalanan ini akan segera dimulai, ya Rabb.. Berikan keberkahan bagi kami semua dalam memenuhi panggilan-Mu ini..

™˜

Sembilan jam kemudian.

Dok!

Petugas imigrasi berkulit hitam negro itu membolak-balik dan menanda paspor seseorang di barisanku dengan stempel.

“Syukron.. “, katanya sambil tersenyum. Namun petugas itu diam saja.

Sekarang giliran seorang ibu yang berdiri persis didepanku untuk maju dan memenuhi apa yang diminta petugas berwajah sinis itu. Ibu ini satu rombongan denganku dan beberapa jamaah umrah yang lain.

“Paspor?”, Tanya petugas itu datar. Si ibu memberikan dua buah buku berwarna hijau dan kuning serta beberapa lembar kertas yang terselip diantaranya.

Sesaat kemudian petugas itu bertanya kepada si ibu dengan nada berubah.Kendala bahasa membuat situasi ini menjadi tidak mudah.Ia menunjuk-nunjuk paspor dan bertanya dengan gaya khas arab. Si ibu ketakutan dan gelagapan, menggeleng-geleng tampak tak paham.Naluri kemanusiaanku terpanggil.

“I am sorry, mister. What’s wrong?”

“La engglisi. Arabiyah?”

“um.. just a little. So, madza musykilah?”

Aku merecik-recik kosakata arab sekenanya, entah benar entah tidak. Sedikit bahasa tubuhnya kubaca. Orang itu lalu meracau dalam bahasa arab dan dialeknya yang akhirnya membuatku menyerah, tak paham dengan maksudnya. Sedikit kemampuan beradaptasi kugunakan.Aku berpikir keras membaca bahasa naturalnya. Ia menunjuk-nunjuk satu item dalam paspor yang akhirnya aku paham.

“Mahram?”Tanyaku pada petugas itu.Ia mengangguk.

Ya Tuhan.Perkara itu ternyata.Kutanyakan kepada ibu itu.

“Bu, orang arab ini minta paspor mahram yang tertulis di paspor ibu.Mana orangnya?”

“Hah? Mahram apa mas? Saya ngga tau apa-apa..”

Waduh gawat. Yang ditanya dan yang bertanya sama-sama tidak tahu rupanya. Aku eja perlahan tulisan dalam visanya. Ah, Amir Syarifuddin.

“Bu, ibu umroh sama pak Amir. Mana Pak Amir-nya?”

“Pak Amir siapa mas? Ibu ngga tahu, mas..”Tampak matanya mulai berair.Gugup dan tak menentu perasaannya.

“Mas, tolong.. Masak saya nanti ditinggal di bandara sendirian ga bisa masuk..Saya umroh Cuma berdua dengan anak saya, itu juga perempuan. Ga ada Pak Amir siapa itu..”

Situasi makin rumit.

Aku akhirnya ingat, mungkin travel ini membuat “fake connection” di visa agar semua jamaah perempuan yang umroh tanpa mahram, bisa masuk Saudi. Maksudnya, setiap perempuan jika ia umroh tanpa mahram, dalam visa ia “dimahramkan” dengan salah satu jamaah laki-laki yang ikut umrah dalam satu travel yang sama. Itulah model keimigrasian di Arab Saudi.Visitor laki-laki bisa jauh lebih mudah masuk Saudi Arabia ketimbang visitor perempuan, yang harus menggunakan mahram.

Kacau ini.Pendamping umrohnya malah sudah masuk duluan.

Tapi tak kurang akal, aku persilakan jamaah di belakangku untuk masuk duluan.

“Pak. Saya minta tolong, nanti kalau Bapak sudah masuk, tolong cari orang yang pakai baju batik sama seperti yang saya pakai ini, terus bilang ke mereka, kalau masih ada rombongan yang tertinggal di belakang. Sekalian bilangi juga, tolong orang yang bernama Amir Syarifudin untuk kesini..”

“Baik mas..” orang itu bersedia membantu.

Dan finally, ternyata benar.Sesosok tua tergopoh-gopoh kembali menuju ke arahku sambil membawa dokumen paspornya.

“Ada apa mas?”Tanya pria tua itu.

Tanpa banyak tanya kuminta paspornya.

“Pak, pinjam paspornya sebentar..”

Diberikannya padaku.Langsung kuserahkan kepada petugas imigrasi yang sudah cukup kesal tampaknya melihat jamaah umroh yang tak pergi-pergi dari depannya.

“Hadza Amir Syarifuddin..”Ujarku pada petugas imigrasi.

Sejenak diamat-amatinya kedua paspor itu. Tapi mungkin sudah terbunuh rasa bosan, ia pun langsung membubuhkan stempel ke paspor si ibu.

Dok!!

Tertulis disana : 28 Sya’ban 1431 H, yang tentunya dalam bahasa Arab. Seiring dengan itu, resmilah kami semua berada dalam bumi Saudi Arabia.Labbaikallahumma labbaik..!!!

#1 Sim salabim!

“Kriiiiinnnggg…..”

“Ya Assalamualaikum.. “

Suara di seberang telepon menjawab,

“Waalaikumsalam.Dengan Mas Army?”

“Ya, benar. Dengan travel umrah ya?”

“Iya. Ini mau konfirmasi, mas, jadi fix berangkat umroh tanggal 9 Agustus? Kalau fix, kami mau segera issue tiket dan mengurus visanya. Soalnya sudah mepet sekali.. Beberapa hari lagi kantor kedutaan Arab Saudi sudah tidak melayani pembuatan visa umrah..”

Aku melirik jam tangan. Sudah akhir Juli ternyata.

“Bismillah. Jadi mbak. Besok semua dokumen insya Allah dikirimkan ke Surabaya. Ini masih ada yang harus diurus di Bandung.. Emm..Apa aja? Foto berwarna 4×6 sama scan paspor aja kan?”

“Alhamdulillah. Iya, itu saja. Tambah satu lagi NPWP kalau ada..”

“Sip. Ada mbak. Sudah itu aja ya?”

“Iya. Nanti kirim lewat email aja ya.. Ya sudah, gitu aja mas Army. Mudah-mudahan diperlancar urusannya.”

“Iya, terima kasih, mbak. Oke, Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam..”

Klik.

™˜Cuaca Bandung sore hari itu masih tak bosan bergerimis ria. Namun para penjual makanan, es shanghai, roti bakar, dan bakso Solo di sekitar tempat tinggalku masih tetap saja sibuk dengan dagangannya masing-masing, seakan tak kenal dengan selimut yang hangat dan secangkir kopi panas. Maklum, mungkin semua orang sudah mulai berjuang semenjak sebelum Ramadhan untuk menumpuk tabungan mudik di menjelang lebaran nanti. Ahh.. Ramadhan yang sebentar lagi menjelang. Selalu menimbulkan kesan tersendiri bagi umat muslim di seluruh penjuru Indonesia. Tak terkecuali juga diriku, seorang muslim rata-rata jebolan institut negeri di kota Kembang ini.

Duapuluh tiga kali sudah aku menjalani Ramadhan di tiga kota, yakni Madiun, Surabaya, dan Bandung, lengkap dengan seluruh ritme kehidupannya, kecuali di Madiun. Bukan karena apa-apa, karena usiaku masih tak lebih dari 2 tahun ketika meninggalkan kota tenang itu. Satu-satunya kenangan hanyalah foto dengan wajah datar bersama satu orang perempuan cantik anak tetangga yang sudah lebih besar dariku beserta sebuah boneka jerapah yang tingginya melebihi kami berdua. Katanya dulu foto itu diambil saat Ramadhan.

Lain dengan Surabaya. Setiap Ramadhan selalu memberiku kenangan yang mendalam. Mulai dari mengaji di masjid setiap ba’da tarawih dengan semua teman sekampung, sepakbola sebelum sahur, main sembunyi-sembunyian jam 12 malam, cerita-cerita hantu kala berdesak-desakan dengan kawan-kawan saat tidur di masjid sambil menunggu jadwal “kelothekan”, hingga lari terbirit-birit ketakutan ke rumah masing-masing karena mercon yang digulung sendiri hingga menyerupai gentong kecil tak hanya sukses membangunkan orang untuk sahur, tapi juga berhasil memecahkan kaca tetangga tak jauh dari rumah. Sampai tiga hari setelah itu kami tak berani muncul di masjid untuk sekedar ngaji atau mencuri jatah nasi berbuka penjaga masjid yang kemarin-kemarin sering kami lakukan.

Dulu juga, saat Ramadhan kampung kami sering mengikuti lomba mengaji qiroat dan tartil Qur’an tingkat kecamatan.Ada juga lomba cerdas cermat, qasidahan, dll. Beberapa kali aku pernah menyumbangkan medali, piala, dan piagam untuk hiasan masjid kami yang dulu tak sebagus seperti sekarang. Rasanya Ramadhan di kampungku selalu meriah. Kami, anak-anak kecil seperti saya dan beberapa teman-teman yang lain, begitu menikmati. Ramadhan is ours. Lebaran? Lebih-lebih. Keliling kampung, mengumpulkan uang lebaran, banyak-banyakan dengan teman-teman, bahkan hingga “nggondok” kalau dapat yang paling sedikit daripada yang lain. Yaa, bukan cuma anggota DPR saja yang doyan duit, anak kecil juga ternyata.

Seiring berjalannya waktu, ketika usia sudah menginjak SMP dan SMA, aku lebih sering menghabiskan Ramadhan di sekolah dengan mengikuti banyak kegiatan, mulai dari pesantren kilat, hingga lomba-lomba antar sekolah. Kegiatannya berkembang mulai dari mencatat setiap ceramah tarawih dalam buku LKS Ramadhan yang pada akhir ceramah kami berebutan untuk minta tanda-tangan khatibnya hingga terjebak di Purwodadi bersama empat kawanku karena mobil yang kami kendarai dalam rangka survey lokasi wisata Ramadhan mogok. Hehehe.. Rasanya lucu kalau mengenang hal-hal itu.

Ketika kuliah di Bandung rasanya tak kalah romantis juga. Kami pernah iktikaf di masjid Habiburrahman, yang ujung-ujungnya malah sakit. Berangkat malam hari di malam-malam ganjil, kami bertekad untuk merobohkan malam dengan sujud-sujud panjang dan derasan Qur’an. Namun malang tak dapat ditolak, hujan mendera kami selama perjalanan menuju masjid. Jadilah kami bagai kucing sakit terpuruk di sudut masjid dengan bersin silih berganti menggenapi orkes binatang malam bersama jangkrik, kodok, dan nyamuk.

Pernah juga kami sengaja mengadakan perjalanan Ramadhan, bahkan aku pernah menikmati kemping Ramadhan di Sumedang sekitar tahun lalu, tepatnya di pesantren Ustad Habib. Di pesantren itu, setiap pagi kami harus berjibaku dengan bukit. Melintasi jalanan terjal di pagi hari sebelum matahari tak malu muncul ternyata bukan pekerjaan mudah. Terlebih lagi bagi kami orang kota yang belum terbiasa hidup di desa. Tapi, itu semua penuh kenikmatan.

Bagiku, bulan suci Ramadhan harus berkesan mendalam, agar membuatku selalu ingat, bahwa Ramadhan pernah menyapa dengan hangat, memberi kesempatan bagi pecinta malam, dan aku harus mengisinya dengan ibadah-ibadah terbaik.

Tapi, itu terjadi terakhir dua tahun yang lalu.

Hari ini? Hari ini aku merasa kehilangan diriku selama hampir dua tahun. Terasa kekeruhan luar biasa dalam jiwa, kepenatan tak kunjung usai, dan kegalauan dalam menapaki jalan hidup. Aku merasa merindukan Tuhan luar biasa setelah dua tahun jelas-jelas kutinggalkan. Masalah demi masalah mendera, seakan Allah Rabbul Izzati ingin mendekapku dengan mesra namun ku meronta. Kali ini, kerinduan sudah membuncah, meluap menganak sungai di sela pori-pori. Aku ingin pergi kepada Tuhan.

Aku masih terpekur dalam diam. Dalam hati aku berpikir mendalam, rasanya Ramadhan kali ini aku harus membuat sebuah lompatan keimanan. Setelah jatuh dalam titik terendah absolut, aku ingin merasakan lagi halawatul iman, lezatnya iman, yang mungkin, entah itu atau bukan, sudah pernah sedikit kucicipi. Dalam keheningan kontemplasi, Tuhan mengelus-elus dadaku dengan kalimah-kalimah yang aku sudah tak ingat lagi, surah apa dan ayat berapa, mungkin saking kotornya diri ini. Rasanya dadaku ingin meledak. Menggelegak dalam gelombang tangis dan rindu, yang akhirnya kuputuskan, aku harus segera melakukan pertaubatan di negeri Rasulullah SAW.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda,” Satu umrah sampai umrah yang lain menjadi kafarah (penghapus dosa yang dikerjakan) di antara keduanya.” (Hadits Riwayat Muttafaq ‘alaih, Misykat)

Kuangkat lagi telepon genggamku.

“Halo.. Assalamu’alaikum, sama mbak yang tadi?”

“Iya.. Ada apa mas Army? Sudah dikirim?”

“Oh, belum mbak, cuma mau ngasihtau saja, saya inginnya satu bulan disana. Tapi tidak usah nambah hotel dan biaya lain, ga ada uangnya..”

“Oh gitu? Bisa, mas.Tapi nanti diurus di Mekkah saja ya tiketnya. Soalnya sudah terlanjur di issued. Lha terus nanti tinggal dimana?”

“Yaa.. Ada lah mbak banyak temen kok disana. Tidur di masjid juga gak apa-apa..”

Tiba-tiba ada rasa yang demikian luas menyergap di ujung kalimatku.

“Oo.. ya sudah kalo gitu. Mudah-mudahan berkah. Senangnya bisa umroh disana sebulan..”

“Iya, mbak amiin.. Mudah-mudahan lancar. Terima kasih lagi mbak, Assalamu’alaikum..”

“Waalaikumsalam..”