Mencari Tuhan yang Hilang

Pagi-pagi Yai Salim sudah membara.

“Hei.. Bangun!! Kamu bukannya berangkat kuliah malah terus molor di kamar. Tidur jam berapa tadi malam, hah? Sudah sholat Subuh belum?”

Seperti biasa, lelaki kurus kering ini tak bergeming mendengar ada suara seperti sambaran petir tanpa hujan. Sedikit bergerak, itu pun hanya menggeser guling yang menimpa pahanya.

Melihat tidak ada respon, Yai Salim semakin jengkel. Bergegas ia ke kamar mandi mengambil segayung air dan..

Byurr!!!

Aku hanya terpana takjub dari atas meja menyaksikan pemuda ini bahkan tak bangun bahkan setelah tersiram air. Woi.. Dasar pemalas!

Yai Salim kehabisan akal. Waktu terus berlalu. Akhirnya ditinggalkannya pemuda residu zaman ini di kamarnya yang rapi seperti tempat pembuangan akhir.

“Terserah kamu mau jadi apa!”, Yai Salim merutuk.

***

“Anton bukannya malas, nyai.. Cuma Anton sudah capek setiap hari dimarahin. Ngerjakan ini salah, itu salah, sepertinya Anton gak ada bagus-bagusnya..

Anton juga nggak mau terus-terusan begini. Sudah melamar kerja kesana kemari, tapi belum ada hasil. Ini sudah hampir setahun Anton gak tau harus ngapain. Mau usaha apa juga nggak ada modal.

Anton juga minder kalau ketemu teman-teman. Semua sudah bekerja, berpenghasilan, dan bahkan ada yang sudah menikah. Hhhh…”

Pemuda ini terisak-isak dalam semilir angin sore. Suara sumbang bercampur pilek, desau angin, dan aroma mekar kamboja rasanya semakin menambah kelam suasana. Aku hanya bisa mendengar dari balik tas sambil memikirkan, betapa gelisah perasaan Anton.

“Nak sudah menjelang malam. Pulanglah.. Mbah mau membersihkan rumputnya dan ingin segera pulang juga..”

“Iya mbah. Ini sekalian nitip 5000 mbah, buat belikan air mawar. Tolong nanti sekalian dikasih ya mbak..”

Mbah Sarto mengangguk. Anton mengusap air matanya, merapikan bajunya, dan segera meninggalkan tempat bersemayamnya kenangan, cinta, dan masa lalu.

***

“Kamu nggak pulang, Ton?”

“Nggak mas. Di rumah gak ada yang dikerjakan. Males pulang.”

“Kamu sudah sholat belum?”

Anton menggeleng.

“Sholat dulu sana. Ini kunci kamar mandi tempat wudhu. Jangan lupa dikunci lagi, sering banyak orang buang air sembarangan gak disiram kalau sudah tengah malam.”

Anton berjalan gontai. Diletakkannya tas di pintu samping mimbar. Aku hanya bisa memandang dari kejauhan. Andai aku bisa memeluknya..

Sekitar lima belas menit kemudian anak ini kembali.

“Mas Hasan, aku sudah sholat. Numpang tidur disini malem ini boleh ya?”

“Lho kenapa kok nggak pulang?”

“Capek mas, Yai Salim marah-marah terus..”

Mas Hasan terdiam. Sejenak ia menghadap notebook, lalu ditutupnya. Mas Hasan beranjak dari kursi dan menuju ke lemari.

“Kamu sudah makan? Ayo makan sama mas. Ini ada jajanan pasar, tadi dikasih sama jamaah. Kalau mau minum, itu dispenser sudah mas nyalakan juga. Tapi itu cuma air panas sama air biasa, nggak ada air dinginnya.”

“Nah ini mas yang ditunggu.. hehehe..”

Dua anak manusia ini makan dengan nikmat. Mungkin zaman sudah mengajarinya bahwa kebahagiaan itu bukan lagi tentang makan apa, tapi tentang bagaimana. Meski hanya sepotong pisang goreng, combro, dan singkong rebus, kadar kenikmatannya melebihi dari makannya orang di gedung-gedung restoran yang sering makan bersisa atas nama table manner.

“Anton..”, ujar Mas Hasan membuka topik baru.

“Kamu ada masalah apa sama Yai Salim?”

Anton terdiam sejenak.

“Nggak ada apa-apa mas. Biasa aja, Yai Salim sering marah kalau aku nganggur di rumah. Nyari kerjaan sulit mas.. Aku sudah putus asa. Harus kemana lagi masukkan lamaran kerja..”

Sekarang giliran Mas Hasan yang terdiam.

“Kenapa kamu nggak buka usaha sendiri aja?”

“Mau usaha apa? Dimana-mana butuh modal mas..”

“Banyak. Kamu aja yang mungkin nggak tau. Hari ini kamu bisa bisnis dari rumah, lewat sosial media, internet. Coba kamu tanya temen-temenmu di Facebook, mungkin mereka sudah ada yang mulai berbisnis duluan.”

Anton hanya diam sambil mengunyah potongan terakhir pisang gorengnya. Mungkin sambil membayangkan betapa ngerinya ia membuka Facebook dan melihat teman-temannya sibuk memamerkan kesuksesan pekerjaan dan anak-anak mereka.

“Sebentar, kalau mas lihat, masalahmu bukan itu sih kayaknya.. Mas kenal kamu sejak lama. Kamu berprestasi dan cerdas. Tapi sepertinya ada satu yang kurang..”

“Apa mas?”

“Kapan kamu terakhir sholat Tahajud?”

Anton tak menjawab dan tampak tak ingin menjawab,

“Seminggu lalu Yai Salim sebetulnya sempat ngobrol sama mas cukup lama. Beliau menceritakan tentang kamu, Ton. Yai Salim resah kamu berubah. Yai Salim merawat kamu sejak kecil, sejak kamu diambil dari panti asuhan, tidak untuk seperti sekarang..”

Mas Hasan mengambil cangkir di sampingnya dan berdiri menuju ke arah dispenser.

“Ini kamu minum dulu nanti keselek..”

Anton mengulurkan tangannya dan masih dalam diam. Tersentak.

“Yai Salim sebetulnya tidak pernah mempermasalahkan tentang pekerjaanmu. Yang beliau permasalahkan adalah tentang iman. Sejak kamu lulus sampai sekarang, Yai Salim bilang kalau kamu sudah gak pernah lagi berjamaah ke masjid, sholat tepat waktu, bahkan seringkali sholat isya di waktu subuh dan sholat subuh menjelang dhuhur..”

Anton kelihatan mulai gelisah. Dipeluknya kedua lututnya sambil bersandar di pilar kayu.

“Rejeki itu Allah yang punya, Anton. Segalanya. Seutuhnya. Ini ilmu paling mendasar tentang rezeki, kata Pak Kyai. Mas bukannya ingin menggurui, tapi mas ingin berbagi ilmu yang dulu pernah mas dapat waktu mondok di pesantren.

Dulu.. Pak Kyai sering bilang kalau ilmu hidup di dunia itu ada 2, syukur dan sabar. Tanpa syukur, kesabaran hanya akan berakhir pada kesombongan. Tanpa sabar, kesyukuran hanya akan menjadi fatamorgana. Bagian dari kesabaran adalah tidak pernah euforia menghadapi gejolak dunia dan tetap ingat bahwa tujuan akhir kita memberi manfaat sebesar amanah Allah untuk dipertanggungjawabkan di hari akhir.

Menjadi apapun itu tidak pernah dipaksakan dalam agama kita. “Menjadi apa” hanya masalah pilihan pengabdian. Ada yang menjadi pedagang, menjadi birokrat, menjadi dokter, nelayan, petani, dan segala macamnya.

Jadi logikanya nggak nyambung kalau kamu merasakan himpitan kehidupan, lalu lupa bahwa pemilik segala di bumi ini adalah Allah dan tugas kita hanya tinggal ikhtiar. Bukannya malah semakin merapat kepada Allah malah semakin entah kemana. Itu namanya tiada syukur dan sabar sama sekali dalam jiwa kita..”

Anton mulai menerawang. Aku masih ingat satu setengah yang lalu sebelum lulus Anton masih ikut jadi panitia pengajian akbar di kampusnya.

“Coba kamu lihat kembali ke dalam dirimu sendiri. Bersyukurlah Allah memberi ujian dengan himpitan, karena ujian yang lebih berat adalah kelapangan. Coba nikmati setiap himpitan yang kita alami dengan kesabaran demi kesabaran. Mungkin Allah ingin kita menjadi matang dalam kehidupan. Mungkin Allah malah ingin kamu jadi pebisnis. Kan kalau dilihat-lihat itu biografi orang sukses dalam bisnis, susah semua kan awalnya? Hehehe..”

“Mas Hasan.. Mas bener. Aku sudah terlalu disibukkan dengan ketakutan akan masa depan..”

“Nah itu yang mas maksudkan. Tidak pantas kita ini takut akan masa depan sementara kita memiliki senjata yang diberi oleh berupa pengetahuan tentang syukur dan sabar. Kamu tidak bisa melarikan diri dari dunia dengan tidur dan begadang. Lebih parah lagi kalau kamu disibukkan dengan meratap dan menyendiri. Mendekatlah kepada Allah Azza wa jalla dengan berjalan, Allah akan mendekat kepadamu dengan berlari..”

Anton menundukkan kepalanya, wajahnya tersembunyi di balik kedua lututnya. Suaranya bergetar. Punggungnya naik turun. Tangannya mendekap erat tungkai, dan.. terdengarlah isak lirih..

Mas Hasan bergeser merapat ke tubuh Anton. Dipeluknya orang yang sudah dianggapnya sebagai adik itu dari samping. Ruangan terasa makin hangat di bawah temaram lampu 5 watt.

“Ya sudah.. Kamu istirahat aja dulu sekarang. Itu kasur gulung pake aja. Nanti malam mas bangunkan, kita sholat tahajud bareng.. Sudah.. Nggak apa-apa.. Kita sekarang berubah, rezeki iman itu jauh lebih baik dari rezeki apapun..”

Anton mengangguk, menyeka air matanya, dan menarik nafas panjang.

“Makasih Mas Hasan..” Dipeluk kembali sahabatnya dalam iman itu. Mas Hasan hanya tersenyum sambil menepuk ringan bahu dan punggung adiknya.

Sejenak kemudian Anton tampak bergegas keluar.

“Eh, Kamu mau kemana?”

“Mau wudhu dulu mas!” Kata Anton sambil berlari kecil keluar dari bilik takmir.

Sekembalinya, tampak Anton membawa sesuatu. Digelarnya sajadah, ia duduk dan membuka sesuatu yang ternyata Quran, yang diambilnya dari lemari dekat tempat wudhu.

Dan hari ini ternyata adalah hari kebahagiaanku. Setelah sekian lama sejak entah kapan, Anton kembali memakaiku untuk sebuah perubahan. Betapa sebuah hidayah dan iman sangat mahal harganya. Tak semua jiwa dapat terselamatkan dari badai dan arus kehidupan seperti ini. Ia datang hanya kepada jiwa-jiwa yang siap berubah dan menjadi pribadi yang lebih tangguh, kuat, dan tenang menantang zaman.

Diletakkannya aku diantara kedua matanya. Dibukanya halaman pertama dari kitab yang agung itu. Dan terdengarlah.. “Bismillahirrahmanirrahim…”

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam…

Selamat Datang

Selamat Datang.

“Be the change that you wish to see in the world.”  – Mahatma Gandhi -

Seorang pejalan hidup yang baik selalu mempersiapkan. Mulai dari hendak kemana ia melangkah, hingga bersama siapa ia berjalan. Kadang kita sering melupakan, mengapa kita berjalan.

Sedikit kata dan makna disini, mungkin bisa membuat kita ingat itu semua.

Selamat mengembara dalam samudra kata saya.

Salam hangat,

Army Tetirah.

#2 Kalkulus

Sampailah aku di kelas. Cukup surprise juga melihat wajah-wajah membara dan mata yang berkilat-kilat dari setiap manusia yang duduk di kelas ini. Aku pikir, aku akan bertemu orang-orang yang ketawa haha-hihi di sudut kelas atau bergerombol diluar saat guru belum tiba – seperti masa SMA dulu. Namun kali ini tidak. Tampak barisan wajah-wajah yang seolah akan meraih IP-4 semua. Jujur aku terintimidasi. Muka-muka yang seperti lapar dan siap menerkam setiap lembar halaman buku kuliah. Entah faham entah tidak, wajah-wajah ini nampak serius sekali membaca dan menenteng buku putih nan sakral yang termasyhur itu. Bagian depannya tertulis huruf kapital tegas : KALKULUS. Di tepi bagian bawah tertulis siapa komposer barisan melodi angka-angka dan kalimat -kalimat matematika di dalamnya : Edwin J. Purcell. Nanti kau akan tahu, Purcell, adalah idola bagi mahasiswa teladan. Namun ianya juga bencana bagi mahasiswa gadungan.

Beberapa menit sebelum bapak dosen masuk, Purcell dan Calvin-Klein ini sepertinya sejajar dalam hal mode bagi mahasiswa baru. Ibarat pelengkap trend dan mode berpakaian yang paling mutakhir, belum lengkap jika hanya mengenakan kacamata Oakley, baju kaos polos Giordano, celana jeans belel, dan sepatu Nike atau Adidas, jika belum menenteng maha karya seni Pak Purcell. Nemun seiring berjalannya waktu, Purcell perlahan-lahan menjadi nama yang paling dikutuk, khususnya bagi para mahasiswa ITB yang kebetulan secara tak sengaja benar semua jawaban SPMB-nya. Aku tak main-main, jangan dirimu cepat bangga masuk ITB. Jangan-jangan jatah keberuntunganmu sudah kau habiskan untuk masuk, dan tinggal jatah deritamu yang harus kau nikmati dalam deraian peluh dan air mata selama 6 tahun ke depan untuk bisa lolos dengan selamat. Nanti, nanti ada saatnya aku akan bercerita tentang kutukan paling sempurna bagi Purcell, manusia pencipta buku Kalkulus dan Geometri Analitik bagi mahasiswa tingkat awal seperti kami ini.

Oya, ruangan kelas kami ini cukup unik. Gedung kelas ini mirip tempat duduk bioskop. Makin ke belakang, makin meninggi. Sehingga setiap mahasiswa yang mencoba untuk meletakkan kepalanya di meja akibat malamnya sibuk main Football Manager pasti akan segera tertangkap mata. Beberapa dosen yang cukup ekstrim sering memanfaatkan posisi kursi tribun ini untuk menjerat mahasiswa-mahasiswa yang tak bisa diharapkan. Ini salah satu momen yang paling ekstrim yang pernah saya rasakan di beberapa tahun mendatang: Continue reading

#1 Mahasiswa Baru

Bangunan itu nampak tua. Besar. Berwibawa.  Tudungnya melancip-lancip dari bahan organik. Hitam kusam gelap. Di bagian tepinya tampak seperti ijuk melambai-lambai, berderet memanjang menghiasi seluruh tepian gentengnya. Pilar-pilar tersusun rapi menyisihi koridor pejalan kaki. Di sampingnya padang hijau membentang luas dengan tulisan “Dilarang menginjak rumput”. Ini gedung tua, menir-menir Belanda pernah main bola dan main kelereng disini. Pak Presiden Soekarno pernah begadang sambil ngopi, atau bahkan mungkin pernah merayu salah seorang mahasiswi disini. Pun, mereka yang bersepatu lars tinggi juga pernah menghentak-hentak tanahnya, dan menghantamkan senapannya di rusuk dan kepala penghuninya. Ini gedung tua penyimpan sejarah peradaban manusia, banyak kisah cinta lahir disini, tak sedikit juga yang menghadap Ilahi ketika masih menjadi penghuni disini. Ini gedung istimewa, tak pernah jelas kapan lahirnya, kadang tahun 1920, kadang tahun 1958, tergantung suka-suka penghuninya. Ini gedung, sebagian orang sedih dan miris jika mendengar namanya, terutama yang sudah terlalu lama melapuk tak lulus-lulus. Sebagian yang lain berkebalikannya, saking bangganya, dari ujung rambut hingga ujung kaki dihiasi produk kokesma. Sebut saja topi, tas, kaos, celana, jaket, sepatu, pin. Bahkan buku tulis dan ballpoint-nya. Untung saja kokesma tak menjual celana dalam. Mungkin kalau dijual, akan habis dibeli juga. Gedung ini sering disebut : ITB.

Ya, ini hari pertama aku akan memasuki secara resmi gedung nan megah itu. Teringat masa-masa lalu dimana aku begitu inginnya menjadi bagian dari sejarahnya. Sejak ketika aku menyadari bahwa dari gedung ini pernah lahir banyak pemimpin bangsa, maka aku bertekad bulat sebulat-bulatnya untuk masuk. Tapi yang jelas bukan hanya masuk gedung saja lho, tukang gorengan juga sering kalau hanya masuk. Maksudku, aku bertekad untuk bisa menjadi bagian dari 3000 mahasiswa baru yang diterima oleh gedung ini setiap tahunnya. Dan hari ini, Alhamdulillah, takdir itu milikku.

Dulu aku sering aku berkhayal-khayal sendiri, betapa indahnya jika aku masuk menjadi mahasiswa disana. Namun di kemudian hari setelah aku renung-renungkan, ini tergolong dari lima penyakit yang harus dijauhi, kawan. Aku terus terang saja. Karena ketika sudah masuk menjadi bagian gedung ini, khayalanmu akan buyar seketika. Yang tersisa sebagian besar adalah deraan 99 rintangan dan 33 ujian demi mencari angka keramat dan lembar suci. Begitu banyak mahasiwa yang masuk membusungkan dada, bergaya karena dia raja di sekolahnya. Setelah masuk di gedung perkabungan ini, teman-temannya terpaksa harus mengheningkan cipta karena ianya syahid diatas kertas ujian kimia tanpa ampun. Ini aku sebut ia telah menderita lost-world syndrome. Mereka ini seperti orang yang  jalan adem-ayem, tiba-tiba… Dhuar!! Ia ditabrak dari belakang karena salah memilih jalan, ternyata ia sedang bersepeda fixie di jalur busway. Dikira tanah ini masih tanah jajahannya yang ia masih bisa berhaha-hihi. Padahal disini sudah bersemayam raja-raja bumi yang tak kenal ampun. Apalagi nanti kau akan kuceritakan, sebuah kerajaan kecil yang melegenda, yang doyan menghukumi para mahasiswa penderita lost-world syndrome. Continue reading

#3 Tragedi Hwang Ho

“Ilham…!! Kamu bawa kompor listrik ya?!!”

Tiba-tiba suara seperti nenek sihir menggelegar bak petir di malam hari itu, sedikit mengolengkan panciku yang masih mengepul-ngepulkan uapnya. Bagiku, kadang-kadang uap tersebut seringkali terlihat seperti tangan manusia tengah tertangkup, seolah-olah sedang menghormati Anders Celcius dan Daniel Fahreinheit yang telah berjasa menisbahkan angka-angka yang dapat meloncat setiap ia kegerahan.

Gawat.

Tanpa pikir panjang, kumatikan kompor dan langsung kutindihkan saja tumpukan baju kotor yang menggunung di sampingnya persis. Bluk! Sempurna, tak kelihatan. Dan tiba-tiba nenek sihir itu seketika muncul meraksasa di hadapanku. Sepertinya ia punya indera keenam yang mampu melihat setiap gerak-gerik anak kosnya yang tak sesuai aturan.

“Mana kompor listrikmu?!!”

“Nggak ada, bu. Tuh.. ga ada..”

“Itu kata Bik Puji?! Katanya tadi kamu diam-diam ambil panci dibawa keatas..”

“Ah nggak bu.. itu mungkin perasaan Bik Puji aja..”

Pandangan ibu kos menyelidik.

“Awas ya kalau ketahuan masak…!”

Aku diam saja menunduk. Si nenek sihir keluar. Aku tersenyum penuh kemenangan. Yes..!!

Sesaat. Gila.

Tercium bau hangus.

Dan benar, Kawan-kawan. Bajuku gosong dan berasap dimana-mana!

“Ilhaammmm………….!!!!!”

***

Jo podo nelongso..

Jamane jaman rekoso..

Urip pancen angel..

Kudune ra usah ngomel..

Ati kudu tentrem..

Nyambut gawe karo seneng..

Ulat ojo peteng..

Nek dikongkon yo sing temen..

La’o podo konco..

ati kerep loro..

ra gelem rekoso..

mbudidoyo..

Pancen kabeh podo, pingin urip mulyo

Wiwitan rekoso..

pancen nyoto..

(koes plus)

Continue reading

#001 It’s all About Bucks

Sebuah pohon akasia malam itu tegak berdiri seperti benteng. Besar menjulang, bersaing tinggi dengan pohon beton di sampingnya yang tak mau kalah memancarkan keangkuhan. Sebuah bangunan hotel tak bersudut bermandi cahaya temaram menyapa perjalananku memasuki kawasan bisnis ternama di kota kembang ini.

Dua orang satpam memberi hormat dan memeragakan isyarat kepadaku untuk berhenti sejenak dan menjalankan prosedur keamanan kawasan tersebut. Yah, formalitas saja menurutku. Setelahnya, mobilku langsung meluncur menuju area parkir lantai 3.

Area bisnis ini memiliki boulevard dan ruang publik yang sangat luas. Biasanya di area tengah, sering dipakai untuk konser, launching produk, atau lomba berbagai macam kegiatan.Kadang break dance, kadang modern dance, atau festival musik eropa, launching community program, kompetisi grup band, dan banyak lagi.

Pusat perbelanjaan berada di bagian timur dengan desain elegan, simpel, dan memukau. Jika ingin berwisata kuliner, kau bisa memasuki pusat perbelanjaan dari sisi kiri dan kanannya, karena disana, di sebelah selatan dan utaranya, semua bercerita tentang makanan. Masakan Jepang, Thailand, Cina, Indonesia, tenants makanan cepat saji, Starbucks Coffee, J-Co, bahkan hingga makanan-makanan kecil seperti stan gula-gula dan booth teh gelas  ada semua. Tak hanya berada di tepi utara dan selatan perbelanjaan, hingga ke barat area publik utama, stan makanan daerah pun bertebaran dengan berbagai konsep penyajian, termasuk restoran dengan harga selangit hingga makanan murah meriah.

Masuklah hingga ke lantai 3 dalam pusat perbelanjaan, salah satu bioskop yang paling besar di kota Bandung ada di sini. Dengan delapan teater yang aktif bersamaan, bioskop ini mampu menampung ribuan anak muda yang menghabiskan malam minggunya dengan menonton film. Karaoke dan pub? Jangan tanya. Dentum-dentum musiknya saja sudah bisa kau dengar lamat-lamat meski kau tak berada di dalamnya. Hotel? Di kawasan ini setidaknya sudah ada satu hotel yang di klaim sebagai hotel paling ramah lingkungan dan hemat energi. Belum yang di luar kawasan ini namun masih terjangkau dalam radius tak lebih dari 2 kilometer. Pokoknya, bisa dibilang, kawasan bisnis ini adalah salah satu sentra kegiatan yang paling aktif dan memberikan keuntungan ekonomi bagi pelaku bisnis industri kreatif dan pemerintah. Kami biasa menyebut kawasan bisnis ini dengan nama : Cihampelas Walk, yang memang terletak di Jalan Cihampelas Bandung.

Aku menyegera langkahku berjalan. Dari lantai tiga, aku harus memasuki department store terlebih dahulu untuk mencapai lift terdekat. Pas, lift sedang terbuka dengan segerombolan cewek-cewek ber-hot pants sambil haha-hihi asyik chatting dengan blackberry sambil sesekali bergosip tak jelas. Dengan tanpa tentengan kantong plastik besar-besar bermerk pakaian terkenal, aku tahu mereka pasti akan shopping semalaman sampai gedung pencakar dompet dan kartu ATM ini tutup. Aku langsung masuk. Masih tersisa aroma parfum berbagai merek yang hanya bisa kusimpulkan satu hal saja dari hal itu: pening alang kepalang. Segera kutekan tombol G. Pintu tertutup. Lift meluncur.

Ting.

Pintu lift terbuka. Langsung tampak dihadapanku seorang anak muda berpakaian kaos polos dengan jeans butut tampak masih asyik memeluk pacarnya sambil saling berpandangan penuh arti. Hah, seperti tidak ada tempat lain saja. Aku langsung menuju restoran internasional yang sudah tampak mengundang sejak lift itu terbuka.

By the way, restoran ini tak besar, namun cukup elegan. Suasana lampu temaram dengan cahaya lampu-lampu halogen yang membilas tiap meja satu demi satu. Lukisan-lukisan abstrak tampak di dindingnya dengan ukuran yang tak bisa disebut kecil..

Setiap pengunjungnya akan dijamu dengan meja bulat berkursi empat. Semua meja tampak seragam warna, coklat pekat plitur, dengan kursi berwarna selaras seirama. Pelayan-pelayannya tampak terlalu serius menurutku, hingga berjalan seperti robot saja. Mereka menggunakan topi khas yang aku pun tak tahu, bagaimana perancang mode pakaian restoran ini bisa menemukan bentuk ide topi seperti itu, gepeng seperti kantong kertas yang terlindas kaki.

Aku naik ke lantai dua. Dari pertengahan tangga, sudah kulihat seseorang yang telah menunggu dan memesan makanan.

“Selamat malam, pak..”, Sapaku. Aku langsung menarik kursi jati yang terletak persis di depannya.

“Malam, mas. Monggo duduk.. Maaf saya datang duluan, ya. Saya sudah pesankan makanannya” katanya sambil menyalamiku.

Aku mengedarkan pandang. Biasanya ia dengan istrinya. Tapi sepertinya kali ini ia sendiri.

“Sendiri?” Tanyaku.

“Iya, mas. Anak-anak di rumah ga ada yang nunggu. Pembantu pada pulang kampung semua.”

Aku pandang selintas lelaki itu. Seorang laki-laki berperawakan kecil kurus, bermuka segitiga dengan potongan rambut belah pinggir. Lelaki yang sudah 2 tahun aku bisnis bersama dengannya.

“Pelayan, minta menu!” Aku memanggil pelayan yang sedang berdiri terpekur di samping kasir. Si pelayan tampak tergesa-gesa mencari menu dan berjalan menuju ke meja kami.

“Tadi bapak ini pesan apa saja?”

Pelayan itu tampak memencet-mencet gadget berbentuk notes.

“Dua Bistecca di Fusione Piazza, dan Vino Rosso

“Vino Rosso?”

“Yak..”

“Ok. Saya tambah salad yang ini saja..” kataku sambil menunjuk satu buah gambar berwarna-warni kepada si pelayan.

“Baik pak. Segera, Italiano Insalata segera kami hadirkan”

Si pelayan bergegas pergi meninggalkan meja kami.

“Jadi bagaimana perkembangan terkait pembayaran Pak Yusuf?”, tanyaku menyambung pembicaraan.

Laki-laki muda usia itu diam sejenak. Ia mengambil tisu lalu menyeka mulutnya.

“Baik pak. Semua baik. Kemarin saya sudah bertemu lagi dengan beliau. Tapi dasar memang semua BUMN menengah sedang masa-masa suramnya sekarang. Pak Yusuf sudah bisa memastikan jadwal pembayaran minggu depan akanoverdue sekitar 2 bulan.”

Aku diam. Barisan nada Chopin, Waltz in A minor, mengalun indah, merendam telinga semua pengunjung restoran ini dalam euforia klasik abad pertengahan.

Sepotong daging merah yang dilelehi saus hangat di hadapan mataku tampak demikian menggoda. Kuambil sepotong. Kukunyah pelan-pelan.

“Pak..” aku memulai nada serius tanpa mimik dengan lawan bicaraku ini.

“Bapak tahu kan, apa yang akan terjadi kalau jadwal pembayaran overdue lebih dari 1 bulan?”

Aku lirik wajahnya sekilas.

“Iya, mas. Tapi memang kita mau apalagi. Pergantian direksi dan ditambah dengan adanya merger membuat kita hanya bisa menunggu. Lagipula saya dan akunting kita bu Vera sudah membuat beberapa strategi untuk mengatasi jadwal-jadwal expenses kita di bulan depan. Rasanya sedikit waktu yang kita beri kepada Pak Yusuf cukup realistis, mengingat perusahaannya sudah banyak memberi profit pada kita”

Aku mengambil tisu disamping piring. Kuusapkan di bibir dan samping pipiku yang sedikit kotor oleh saus steak.

“Oke. Saya bisa percayakan ke Pak Tony untuk masalah ini?”

“Sure. You can count on me.”

“Ok, I count on you. Let’s see then. Don’t forget. It’s all about this: Kill, or be killed.”

***

Bandung masih gerimis malam itu. Pun dengan hatiku. Ada jenak resah jiwa yang menggelayutiku sepertinya. Entah apa. Mungkin karena terlalu buramnya hati, tak mampu lagi ia membaca redup dan terangnya.

Aku berjalan kembali dari restoran Italia tadi menuju parkir mobil lantai tiga. Kususuri gelap malam menuju Honda Jazz hitam yang selalu menemani perjalananku malang melintang menderu malam dan siang. Aku masuki jazz kesayanganku. Kupantik starter. Kujalankan mobil meninggalkan malam gelap yang makin gulita. Ya, seperti hatiku.

Kriiing….!!

Sebuah suara nyaring menembus alam mimpiku.Seorang gadis muda belia yang tengah bercengkrama denganku tiba-tiba berganti dengan silaunya cahaya matahari menembus retina dan jerit alarm handphone yang menggetarkan dinding gendang telingaku.

Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit.

Gawatt..! Terlambat..!!!!

Hari ini sepertinya hari kesekian kalinya dimana aku tertidur kecapaian di waktu menjelang Subuh, kemudian bangun telat di 4 jam setelah itu. Sholat Subuh di waktu seperti hari ini sudah menjadi kebiasaan baruku. Ah, masih untung sholat, pikirku. Kuambil wudhu, shalat Subuh, lalu bergegas mengguyur tubuh dengan siraman air hangat. Setengah jam kemudian, aku sudah siap dengan pakaian casual dan aroma Terre de Hermes menyelimuti tubuh.

Dan pagi ini aku harus menghadap dosen untuk menyerahkan draf tugas akhir yang terbengkalai sejak 1 tahun lalu. Seharusnya, aku sudah harus lulus sejak dulu. Tapi entah kenapa, sudah satu tahun berselang rasanya aku tak kunjung nafsu untuk berjumpa dengan puluhan lembar kertas yang aku pun tak tahu apa isinya. Belum lagi kalau harus berjumpa dengan dosen pembimbing yang hobi berkelana ke ujung dunia, hingga lupa mungkin masih ada anak bimbingannya yang terseok-seok.

Menunda tugas akhir ternyata tak malah membuat bahagia. Detik demi detik yang berlalu tak terasa berkumpul, menggunung, bersiap untuk berubah menjadi raksasa DO seperti Rahwana yang dilahirkan Dewi Sukesi. Rahwana ini mengejar-ngejarku, setiap saat mengayunkan cakarnya dan menghancurkan keping-keping hidupku, satu demi satu. Aku selalu mencari akal untuk melawannya, namun semakin banyak akal yang kutemukan, tak membuat ia lemah, malah makin kuat. Oh, ternyata ia mengkonsumsi waktu lengangku. Artinya aku harus membuatnya takluk dengan mencuri makanan-makanannya. Jika ia tak makan barang sebulan pastilah lemah. Dalam kelemahan itu harusnya kuhunjamkan pisau sidang yang baru akan membuatnya mati ketika pimpinan sidang tugas akhir menyelamatiku atas gelar yang akan kusanding. Tapi itu kapan, ya Tuhan..??

Ah, sudahlah, toh ditikam Rahwana tak akan membuatku mati. Luka bisa sembuh. Mungkin aku bisa minta tolong pada Resi Wisrawa, ayah Rahwana untuk memenjara anaknya yang tak tahu budi pekerti ini. Tak lulus, bukan berarti mampus. Toh sekarang juga aku sudah bisa menikmati hasil usahaku sendiri.

Tak perlu makan pagi, aku langsung menuju parkir mobil kosan dan melesat menuju kampus yang aku sudah bosan menyebut-nyebut namanya.

Beberapa saat kemudian, tiba aku di muka pintu bertuliskan nama dengan gelar berderet.

Prof. Dr. H. Nur Tirto Wibisono

Tok..tok..tok..

Tak terdengar jawaban.

Aku kembali mengetuk sambil menyapa.

“Assalamualaikumm…, pak prof..”

Tiba-tiba terdengar suara berat dari dalam ruangan.

“Waalaikumsalam..masuk.”

Aku membuka pintu kayu jati coklat berat itu.Sepertinya ruangan ini beserta propertinya tak mengalami pergantian sejak puluhan tahun silam. Gagang pintunya saja berderit-derit dan berwarna kuning kusam. Ruangan di dalamnya bau buku lama yang seakan tak pernah disentuh tangan manusia. Lemari tua penuh debu-debu halus, dan meja kerja yang bertumpuk kertas, makin menambah kesan suramnya ruangan ini. Satu-satunya yang membuatku masih ingat bahwa saat ini adalah abad 21 adalah sebuah computer desktop yang tampak tengah membuka halaman Google.

“Kamu yang sms kemarin?”

“Betul pak..”

“Oke ada apa?”

“Ini pak, saya ingin melanjutkan tugas akhir saya yang kemarin sempat terbengkalai beberapa bulan.”

“Oh..oke. Mana proposalnya?”

“Ini pak.”

Tampak wajah professor itu mengkerut sambil membolak-balik halaman proposal yang aku pun sudah lupa kapan membuatnya. Tangannya tampak sibuk membuat coretan-coretan, lalu mengambil buku biru di sebelahnya.

“Hmm..Nak, sayang sekali.”

Aku berdetak. Ada apa??

“Tugas akhir ini sudah ada yang mengambil beberapa bulan lalu. Entah siapa saya lupa ini namanya, tapi masih ada proposalnya.”

Aku mencelos.

“Lho pak, dulu kata Bapak belum ada yang mengambil? Saya kan fokus pada inovasi dryer conventional yang selama ini banyak digunakan di dunia pertanian secara statis. Saya berusaha membuat rancangan dryer yang dinamis, sehinggaapplicable pada sarana transportasi yang ada serta dapat menghemat waktu serta energi pengeringan. Rancangan yang saya berikan kepada bapak beberapa waktu lalu kan sudah membuktikan, bahwa tugas akhir saya ini orisinal dan belum ada yang mengerjakan..” bantahku.

Aku tidak terima, meski sudah hampir satu tahun aku tinggalkan, tugas ini tidak boleh berubah. Proposalku sudah disahkan oleh Profesor Nur. Ini harus diperjuangkan!

“Lho, iya. Tapi sudah ada yang mengambilnya ternyata. Kamu kok ngeyel. Ini lho kalau ga percaya. Dia sudah lebih dulu datang sebelum kamu.”

Aku ambil proposal yang ditaruh professor di depanku. Aku baca, siapa orang yang telah mencuri ideku diam-diam dan mengambilnya kepada Professor Nur.

Draft Tugas Akhir

Perancangan Awal Sistem Pengeringan Bawang Merah dengan Pemanfaatan Udara Panas Lingkungan Pendingin Mesin sebagai Sumber Kalor

Oleh : Satria Tegar

Tak kulanjutkan membacanya. Ya, Tuhan. Entah aku ingin tertawa, atau sedih. Sementara sang professor masih berdehem-dehem dengan menikmati teh panas kesukaannya, tanpa menyadari, makhluk didepannya ini sudah ingin mengatakan,

Ya Ampun, Pak. Itu saya.. Maafkan saya sudah berbulan-bulan tak hadir, hingga kau lupa bahwa saya mahasiswa bimbinganmu..

Jangan biarkan Rahwana menikamku, Ya Tuhan..

***

#2 Berantem dan Diinterogasi

Kami masih di Bandara Soekarno Hatta, tengah mengantri di pintu imigrasi. Bersama kami, ada seorang professor, seorang polisi, dan beberapa karyawan swasta biasa.Sang polisi merupakan putra dari professor. Dan professor ini merupakan guru besar dari sebuah universitas kedokteran negeri yang terbesar di Surabaya: Universitas Airlangga.

Nampak beberapa orang mengantri di hadapanku. Tak terlalu banyak pastinya, dan tidak akan terlalu lama, hanya mengecek paspor, visa, lalu pembuatan kartu imigrasi yang harus kita isi dan ditunjukkan kembali saat pulang dari luar negeri.

Beres urusan imigrasi, kami menuju ke screening barang bawaan lagi. Ini dimaksudkan agar penumpang tidak membawa bahan berbahaya atau senjata tajam yang bisa menjadi ancaman bagi penerbangan yang akan dilakukan.

Satu demi satu kami memasukkan tas jinjing, koper kecil, atau plastik-plastik bawaan. Aku sendiri hanya membawa tas punggung dan satu tas jinjing yang berisi beberapa buku untuk mengisi waktu selama 8 jam berada di perjalanan.

“Maaf, bu tolong dibuka tasnya.”Kata petugas pemeriksaan kepada seseorang di belakangku.Aku menoleh, ternyata istri professor.

Ibu berjilbab merah muda itu membuka tas kecilnya. Tampak disana beberapa botol lotion, minyak wangi, dan bedak-bedak khas wanita.

Petugas bertubuh tambun itu melihat dan memilah-milah sambil membaca tulisan yang tercantum di botol tersebut.

“Bu, yang ini ga boleh di bawa masuk ya.”Kata petugas itu kepada ibu dengan nada tak bersahabat.

Sang anak tiba-tiba berkomentar,

“Kenapa pak? Ngga ngga, ngga akan kita jual di Arab kok lotionnya..”

Rupanya maksud komentar yang sedikit bercanda itu memantik sedikit silang pendapat.

“Mas, siapa yang bilang situ mau jual?! Ini peraturan, tidak boleh membawa cairan lebih dari 20 ml ke dalam pesawat!”

Trak..!!

Bapak bertubuh tambun berkumis tebal itu melempar botol tersebut tanpa kompromi ke dalam tempat sampah.

“Heh, pak, sampeyan jangan mentang-mentang ya! Ambil lagi itu botolnya..!! Jadi petugas jangan kurang ajar!!”

Rupanya sang anak emosi melihat petugas tersebut membuang botol lotion milik ibunya tanpa menyertakan kesopanan.

“Sampeyan siapa namanya?!! Berani seperti itu sama pelanggan. Ayo ambil lagi!!”

“Pak, ini sudah peraturan tidak boleh membawa cairan lebih dari 20 mL ke dalam pesawat!Bapak mau menentang peraturan?!”

“Lho, ngelawan ya?! Sampeyan apa ngga tau tata krama. Ngomong baik-baik kan bisa, ngga perlu asal lempar! Asal bapak tau, itu belinya pakai duit pak, duit ibu saya, bukan duit Bapak..!! Siapa namanya! Tak laporkan ke komandanmu!!”

Si anak tampak emosi tak tertahankan.Pak professor tampak tak enak hati.Lalu beliau menyela perdebatan sengit itu.

“Pak petugas, sampeyan kan bisa ngomong baik-baik, ngga perlu asal lempar seperti barang sendiri ke tempat sampah.Saya yang lihat juga emosi, kok sampeyan seperti ga punya tata krama.Gimana kalau itu obat penting istri saya?”

Petugas itu diam saja, seakan angin lalu semua pembicaraan yang sudah terjadi.Ia seperti tak menghiraukan kami bicara.

Sejurus kemudian, si anak berjalan cepat mendekat kepada si petugas lalu hendak dipukulkannya tas jinjingnya kepada pria berbaju biru tua itu.

“Hey..hey..!!! nak, nak!!” Si ibu mencegah dengan memegangi tubuhnya.Aku dan satu orang lagi juga ikut berusaha mencegah pak polisi yang sudah gelap mata itu.

“Sudah, nak. Sudah… Ini kita kan perjalanan ibadah. Sudah ndak apa-apa..Ibu bisa beli lagi kok.Lotion biasa itu, lotion murah. Sudah, ndak usah rame disini, malu sama jamaah umroh yang lain..”

Aku mengedarkan pandangan.Puluhan mata sudah menatap kami seakan sirkus di tengah bandara.

Sang anak melunak, ditunjuk-tunjuknya petugas itu.

“Awas sampeyan kayak gitu lagi. Tak laporkan nggak takut saya. Kalau anak buahku sudah tak gampar kamu, dasar petugas ngga tahu sopan santun..!!” digebraknya meja stainless di hadapan kami.

Aku menghela nafas. Yang lain curi-curi pandang memperhatikan saksama gerak-gerik anak professor yang masih merah mukanya menumpahkan amarah.

Sejenak, akhirnya kami semua meninggalkan pria tambun itu.Tampak si ibu berbicara dengan anak dan suaminya.Mungkin hanya mennyalurkan ketenangan, agar si anak melunak dan tak lagi emosi.Mereka bicara sambil jalan, sesekali tangan ibu menepuk-nepuk punggung anaknya. Alhamdulillah, tidak sampai terjadi baku hantam.

Fiuhhh…

Akhirnya, nampak dihadapan kami Pak Idris, pendamping rombongan dari travel, berlari tergopoh-gopoh dari ruang tunggu boarding menuju kepada beberapa orang termasuk saya yang masih berada di luar ruang tunggu.

“Bapak-bapak ibu-ibu, ayo segera masuk.Sudah mau boarding.Kalau ga masuk awal-awal nanti antrinya panjang. Monggo langsung aja masuk ruang tunggu..”

“Oke pak, ini sudah menuju semua ke dalam..” kataku mewakili beberapa orang yang masih ada diluar.

Perjalanan ini akan segera dimulai, ya Rabb.. Berikan keberkahan bagi kami semua dalam memenuhi panggilan-Mu ini..

™˜

Sembilan jam kemudian.

Dok!

Petugas imigrasi berkulit hitam negro itu membolak-balik dan menanda paspor seseorang di barisanku dengan stempel.

“Syukron.. “, katanya sambil tersenyum. Namun petugas itu diam saja.

Sekarang giliran seorang ibu yang berdiri persis didepanku untuk maju dan memenuhi apa yang diminta petugas berwajah sinis itu. Ibu ini satu rombongan denganku dan beberapa jamaah umrah yang lain.

“Paspor?”, Tanya petugas itu datar. Si ibu memberikan dua buah buku berwarna hijau dan kuning serta beberapa lembar kertas yang terselip diantaranya.

Sesaat kemudian petugas itu bertanya kepada si ibu dengan nada berubah.Kendala bahasa membuat situasi ini menjadi tidak mudah.Ia menunjuk-nunjuk paspor dan bertanya dengan gaya khas arab. Si ibu ketakutan dan gelagapan, menggeleng-geleng tampak tak paham.Naluri kemanusiaanku terpanggil.

“I am sorry, mister. What’s wrong?”

“La engglisi. Arabiyah?”

“um.. just a little. So, madza musykilah?”

Aku merecik-recik kosakata arab sekenanya, entah benar entah tidak. Sedikit bahasa tubuhnya kubaca. Orang itu lalu meracau dalam bahasa arab dan dialeknya yang akhirnya membuatku menyerah, tak paham dengan maksudnya. Sedikit kemampuan beradaptasi kugunakan.Aku berpikir keras membaca bahasa naturalnya. Ia menunjuk-nunjuk satu item dalam paspor yang akhirnya aku paham.

“Mahram?”Tanyaku pada petugas itu.Ia mengangguk.

Ya Tuhan.Perkara itu ternyata.Kutanyakan kepada ibu itu.

“Bu, orang arab ini minta paspor mahram yang tertulis di paspor ibu.Mana orangnya?”

“Hah? Mahram apa mas? Saya ngga tau apa-apa..”

Waduh gawat. Yang ditanya dan yang bertanya sama-sama tidak tahu rupanya. Aku eja perlahan tulisan dalam visanya. Ah, Amir Syarifuddin.

“Bu, ibu umroh sama pak Amir. Mana Pak Amir-nya?”

“Pak Amir siapa mas? Ibu ngga tahu, mas..”Tampak matanya mulai berair.Gugup dan tak menentu perasaannya.

“Mas, tolong.. Masak saya nanti ditinggal di bandara sendirian ga bisa masuk..Saya umroh Cuma berdua dengan anak saya, itu juga perempuan. Ga ada Pak Amir siapa itu..”

Situasi makin rumit.

Aku akhirnya ingat, mungkin travel ini membuat “fake connection” di visa agar semua jamaah perempuan yang umroh tanpa mahram, bisa masuk Saudi. Maksudnya, setiap perempuan jika ia umroh tanpa mahram, dalam visa ia “dimahramkan” dengan salah satu jamaah laki-laki yang ikut umrah dalam satu travel yang sama. Itulah model keimigrasian di Arab Saudi.Visitor laki-laki bisa jauh lebih mudah masuk Saudi Arabia ketimbang visitor perempuan, yang harus menggunakan mahram.

Kacau ini.Pendamping umrohnya malah sudah masuk duluan.

Tapi tak kurang akal, aku persilakan jamaah di belakangku untuk masuk duluan.

“Pak. Saya minta tolong, nanti kalau Bapak sudah masuk, tolong cari orang yang pakai baju batik sama seperti yang saya pakai ini, terus bilang ke mereka, kalau masih ada rombongan yang tertinggal di belakang. Sekalian bilangi juga, tolong orang yang bernama Amir Syarifudin untuk kesini..”

“Baik mas..” orang itu bersedia membantu.

Dan finally, ternyata benar.Sesosok tua tergopoh-gopoh kembali menuju ke arahku sambil membawa dokumen paspornya.

“Ada apa mas?”Tanya pria tua itu.

Tanpa banyak tanya kuminta paspornya.

“Pak, pinjam paspornya sebentar..”

Diberikannya padaku.Langsung kuserahkan kepada petugas imigrasi yang sudah cukup kesal tampaknya melihat jamaah umroh yang tak pergi-pergi dari depannya.

“Hadza Amir Syarifuddin..”Ujarku pada petugas imigrasi.

Sejenak diamat-amatinya kedua paspor itu. Tapi mungkin sudah terbunuh rasa bosan, ia pun langsung membubuhkan stempel ke paspor si ibu.

Dok!!

Tertulis disana : 28 Sya’ban 1431 H, yang tentunya dalam bahasa Arab. Seiring dengan itu, resmilah kami semua berada dalam bumi Saudi Arabia.Labbaikallahumma labbaik..!!!