Selamat Datang

Selamat Datang.

“Be the change that you wish to see in the world.”  - Mahatma Gandhi -

Seorang pejalan hidup yang baik selalu mempersiapkan. Mulai dari hendak kemana ia melangkah, hingga bersama siapa ia berjalan. Kadang kita sering melupakan, mengapa kita berjalan.

Sedikit kata dan makna disini, mungkin bisa membuat kita ingat itu semua.

Selamat mengembara dalam samudra kata saya.

Salam hangat,

Army Tetirah.

Inilah Alasan Mengapa Cerita Mas Gagah Saya Beginikan.. (Sad but TRUE)

Tulisan ini dikutip secara ASLI dari Bunda Helvy Tiana Rosa, pengarang novel legendaris Ketika Mas Gagah Pergi.

====

SAHABAT YANG BARU BERGABUNG, TOLONG BACA INI DULU YA

Jadi begini ceritanya…

September 1993 adalah bulan pertama Ketika Mas Gagah Pergi terbit sebagai cerita pendek di Majalah Annida (Gaya Baru). Bulan ini 21 tahun perjalanan KMGP, sebuah kisah yang telah terbit dalam bentuk buku dengan 25 kali cetak ulang. Buku yang habis 10.000 eksemplar sebelum dicetak sebagai buku dan diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Annida Pustaka, 1997.

Ah, tetiba saya tersadar betapa banyak orang yang selalu membincangkan dan berharap cerita ini difilmkan. Saya banyak bertemu para pembaca di dunia nyata dan maya yang berkata betapa cerita ini mampu mengubah mereka ke arah lebih baik. Bahkan banyak yang bilang KMGP menjadi jalan mereka menuju hidayah, banyak yang memutuskan memakai jilbab usai membaca KMGP.

“Aku baca berkali-kali dan selalu menangis, Mbak. Andaikan semua anak muda muslim membaca buku ini,” kata salah satu pembaca.

Habiburrahman ElShirazi bahkan mengatakan bahwa seharusnya KMGP menjadi salah satu bahan bacaan pembentuk karakter yang didistribusikan Depdikbud ke sekolah-sekolah.

Yo Nonaka, sosiolog dari Jepang menyatakan diantara hasil penelitiannya, ia menemukan bahwa sebagian besar mereka yang memutuskan mengenakan hijab di tahun 1990-an dan 2000-an, ternyata pernah membaca KMGP dan menganggap buku ini turut mempengaruhi mereka untuk lebih mengenal dan dekat pada Islam.

Sejak 2004 sudah ada beberapa PH yang “melamar” cerita ini. Ada PH yang prosesnya sudah berjalan kemana-mana sampai mengeluarkan soundtrack lebih dahulu, lalu tak jadi karena satu dan lain hal. Ada PH yang sudah bayar cerita ini. Penulisan skenario sudah dilakukan hingga draft 12. Namun meski sudah casting melibatkan lebih dari 1000 peserta dengan juri para aktor dan aktris kawakan – film ini urung diproduksi. Alhamdulillah kontrak berakhir dan kembali pada saya secara baik-baik. PH yang lain hampir tandatangan kontrak, namun mengambang, membiarkan saya menunggu. Katanya mereka belum punya investor. Kesimpulan saya KMGP tidak menjadi prioritas, maka saya tarik cerita ini dari meja mereka.

Di luar itu terlalu banyak hal dimana Mas Gagah “harus kalah” oleh keinginan pemilik modal. Saya dan Mas Fredy yang menulis skenario harus mengalah untuk pelan-pelan mengabaikan idealisme Mas Gagah versi buku saat dituangkan dalam skenario, saat penulis skenario diganti…. dan puncaknya, saat sutradara yang telah disepakati wafat. Tentu saya tak mungkin membiarkan seorang yang mengatakan “Kalau saya yang garap maka KMGP akan jadi cerita adik kakak biasa” — menjadi sutradara film ini.

Selama 10 tahun saya telah turut memberi harapan pada pembaca bahwa suatu hari nanti mereka akan melihat Mas Gagah dan Gita yang sosoknya telah mereka akrabi sejak lama, sebagaimana dalam buku. Nyatanya? Hingga kini belum terwujud.
Mengapa? Sekali lagi, bukan karena tak ada PH yang mau, tapi karena saya harus mempertahankan hal-hal prinsipil, yang merupakan ruh, spirit dalam KMGP. Dan itu sungguh tak mudah.

Jadi kini apa yang harus saya lakukan? Diam dan menunggu “lamaran” lagi? Menunggu PH yang tepat dan mendukung idealisme dalam buku ini datang? Kapan? Atau bilakah tiba masanya para tokoh muslim dengan harta berlimpah, mau memberi modal bagi terlaksananya film ini? Lalu dalam benak dan hati muncul pula pertanyaan, mengapa jalan Mas Gagah begitu terjal? Mengapa kisah lain dari penulis lain, begitu mudah difilmkan? Atau ada hikmah besar di balik terjalnya jalan Mas Gagah? Lalu…mungkinkah ada jalan lain yang tak biasa, yang Allah ingin saya tempuh untuk KMGP?

Kemarin, 1 September 2014, secara mendadak saya bertemu beberapa kawan. Kami sepakat untuk ikhtiar membuat film ini dengan crowd funding.

Crowd funding adalah pendanaan secara gotong royong untuk mewujudkan gagasan yang sama-sama disepakati. Cara ini makin populer digunakan di berbagai belahan dunia, untuk mewujudkan karya-karya yang dalam cara pandang konvensional dianggap tidak komersial.

Belakangan terbukti banyak produk/ layanan yang dibiayai secara gotong royong (crowd funding) justru berhasil secara komersial, sehingga makin banyak investor yang melihat jumlah dukungan sebagai indikator potensi keberhasilan komersial.

Nah jadi rencananya kami akan membuka rekening untuk film KMGP. Soal film kita ambil KMGP versi buku thn 2011/ KMGPdK yang lebih kontemporer, namun judul tetap KMGP. Nah nanti masyarakat yang menginginkan film ini terwujud bisa turut menyumbang (berapapun besarnya). Kita akan jalan dengan dukungan kawan-kawan yang mengerti bagaimana membuat film yang bagus dan laris, insya Allah.

Sebelum crowd funding ini jalan, saya butuh bantuan teman-teman untuk “menggelindingkan bola salju” agar target tercapai. Saya tahu kawan-kawan sibuk, saya juga tak akan mampu membayar “tim sosmed” yang ada di group ini. Saya hanya meraba-raba, berpikir teman-teman saya yang mana yang punya cita-cita sama dan mau mendukung. Maafkan saya bila saya salah dan sila kawan-kawan yang tak berkenan untuk balik kanan. Mohon maaf sekali lagi, ya…

Rencana saya MULAI 25 SEPT– 3 OKT kita akan lakukan penggalangan dana SERENTAK melalui rekening FLP yang akan dibuka dan beberapa rekening lembaga lainnya (nomor rekening menyusul ya). Insya Allah dana akan dikelola transparan dan diaudit. Kita butuh sedikitnya 100.000 orang serentak menyumbang via rekening itu dalam waktu seminggu. Jumlah uang yang terkumpul urusan belakangan. Yang penting jumlah orang yang mengirim uang ke rekening tersebut. Berapa saja jumlah uangnya. Seribu, lima ribu, dua puluh atau 50 ribu, 100 ribu, atau berapapun. Tapi 100 ribu orang yang terlibat di minggu pertama akan membuat KMGP dilirik oleh investor. Jadi itu ya sebabnya mengapa kita tekankan penggalangan dana dalam seminggu, meski setelahnya rekening tetap kita buka.

Nah untuk itu tentu harus ada persiapan matang, yang terutama saya harapkan kita atur di group ini. Karena itu bila kawan-kawan punya teman yang sangat suka dengan KMGP, ajak mereka bergabung. Selanjutnya saya harap, sementara ini SEMUA POSTINGAN HANYA UNTUK GROUP INI SAJA. Mohon tidak keluar isinya dari group #KMGPKita

Insya Allah akan segera kita atur langkah-langkahnya.
Untuk menjalankan ini kita akan dibantu sepenuhnya oleh kawan-kawan Forum Lingkar Pena, beberapa tokoh (semoga, sedang dilobby), dan beberapa kawan sineas serta Anda semua, kawan-kawan FB terbaik saya.

Dan bila ini berhasil, saya optimis kita akan bisa wujudkan film KMGP dengan spirit yang sama dengan buku-nya, insya Allah. Bukan itu saja, saya yakin jalan ini bisa menjadi alternatif bagi karya-karya bermutu lain untuk muncul ke permukaan tanpa harus tergantung pada penguasa atau pemilik modal tertentu.

Di samping itu saya juga mengusulkan agar seluruh keuntungan film ini (bila nanti berjalan dan mendapat banyak untung) disumbangkan untuk dua kepentingan. Yang pertama, bagi kegiatan literasi untuk kaum muda di negeri ini melalui FLP. Dan yang kedua, disumbangkan bagi gerakan kemerdekaan Palestina yang dipelopori para pemuda Gaza. Nanti bisa melalui ACT atau KNRP.

Demikian sedikit yang bisa saya infokan.
Saya mengundang kawan-kawan saya dari berbagai kalangan di sini. Kawan-kawan yang menyukai & mengerti makna penting seni budaya dalam kehidupan, yang peduli pada nilai-nilai Islam serta pada pembangunan karakter anak bangsa.

Terimakasih sudah sudi berada di barisan ini.
Suatu saat insya Allah saya akan balas semampu saya, kehadiran kawan-kawan di sini dengan keberadaan saya bersama kawan-kawan.
Bismillah…
bismillah…
Bismillah…

Tak ada yang tak mungkin bagiNya dan bagi kita yang percaya… :’)

Setidaknya, Tolong BAGIKAN (SHARE) dan LIKE tulisan ini kepada orang-orang yang Anda sayangi.

#SaveMasGagah

No rekening resmi Crowdfunding :

1. Bank Syariah Mandiri 7033101858 a.n Forum Lingkar Pena,
2. Bank Mandiri 1570087778883 a.n Forum Lingkar Pena.
3. BNI Syariah 0259296140 a.n Yayasan Lingkar Pena.

Format konfirmasi:
Nama Donatur (spasi) kota asal (spasi) Jumlah (spasi) Rekening Yg di tuju
Contoh: ARMY BANDUNG 1.000.000 BSM

Kirim ke : 085691746094

kmgp6

HELP Mas Gagah..

28 September 2014

02:00

A: Bre, gimana jadinya? Kenapa sih kita gak bikin pake Production House aja?

I: Aduh.. Bunda Helvy gak mau. Katanya kalo pake PH ceritanya bakal diedit lagi kayak pengalaman dulu-dulu.. Udah beberapa PH yang kita datengin. Semuanya sama. Maklum harus business oriented. Lu tau kan model film pocong dan sebagainya itu.. Yahh.. Begitulah

A: Gebleg. Jadi kumaha?

I: Ini kita mau crowdfunding aja. Siapa tau ada pembaca Mas Gagah yang mau ikut jadi SMG, Sahabat Mas Gagah. Bantuin 50,000 aja buat yang udah pernah baca. Tapi gw agak sangsi. Mungkin gak ya.

A: Hajar aja dulu bre kalo emang dah diputusin gitu. Gw bantuin deh. Masak cerita alay mulu di bioskop Indonesia.

I: Beneran nih? Oke kalo gitu.

===

Gw gak tau mesti ngapain, tapi yang bisa gw lakuin cuma bikin surat ini sampe ke elo. Sisanya terserah elo. Sukur-sukur mau ikut terlibat :D

Kalo gak bisa bantu 50,000, bantu 50 Juta juga gpp (azeekk..)

Jujur… Target kita 5M sampai film itu bisa muncul. Sekarang baru ada 13 Juta. Masih jauh kan? IYA, masih jauh BANGET. Nanti semua profit selebih itu akan masuk ke pengembangan yayasan literasi dan donasi ke Gaza. Ini hanya murni muncul dari dalam hati ingin membangkitkan industri perfilman positif Indonesia.

Bunda Helvy gak bisa sendirian. Beliau butuh kita semua.

#SaveMasGagah

Nih, langsung aja. HANYA transfer ke rekening berikut ini, tidak ke rekening yang lain :

1. Bank Syariah Mandiri 7033101858 a.n Forum Lingkar Pena,
2. Bank Mandiri 1570087778883 a.n Forum Lingkar Pena.
3. BNI Syariah 0259296140 a.n Yayasan Lingkar Pena.

Format konfirmasi:
Nama Donatur (spasi) kota asal (spasi) Jumlah (spasi) Rekening Yg di tuju
Contoh: BEJO BANDUNG 1000.000 BSM

Kirim ke : 085691746094

Airmata Saya Tak Terbendung Membaca Cerita Itu..

Kamu pasti akan merasakan hal yang sama seperti apa yang terjadi pada diri saya, saat pertama kali membaca cerita fenomenal Mas Gagah saat itu.

Kamu belum baca? Baca dulu deh disini (www.masgagah.com).

Atau kalau mau disini bisa download GRATIS. (Cie yang suka gratisan.. :))

Setelah membaca cerita singkat Mas Gagah, entah kenapa, ada perasaan yang membuncah, terharu, melelehkan jiwa. Andai di dunia ini semua laki-laki seperti Mas Gagah.

Ya. Andai saja.

Saya pernah bercita-cita cerita ini mengudara dan menjadi lakon-lakon di bioskop dekat rumah. Tapi melihat industri perfilman kita sekarang, sepertinya harapan itu sudah masuk ke liang kubur. Ingin rasanya marah melihat banyak cerita pocong-pocong horor dibumbui cerita porno yang malah laku.. Tapi itulah realitas film kita hari ini.

Kapan ya, cerita dengan segudang tawa, canda, tangis, haru, inspirasi, dan semangat bisa hadir lagi di perfilman kita? Langsung aja deh, kapan ya Mas Gagah ada di bioskop? Sampai kemudian saya tahu FAKTANYA kenapa kok Mas Gagah susah sekali dimulai pembuatannya sama PH di Indonesia.

Mas Gagah bisa KAPAN AJA tampil di bioskop. Masalah kita cuma 1: Kata orang production house, cerita Mas Gagah KATANYA bakal gak laku kalo gak “dipermak”. Iya, dipermak. Dipotong bagian-bagian yang gak menjual, ditambah adegan-adegan yang modern. Yaa.. Model-model FTV jaman sekarang lah.. Hahhh… Jadi MAKSUD LO?!

Untung kita punya Sang Bunda Helvy nan perkasa.

Bu Helvy bilang, idealisme cerita ini tidak akan luntur oleh rayuan para pembuat film itu. Demi pundi-pundi, cerita ingin diganti. Demi dollar, cerita ditukar. Duh teganya! Kita gak mau gitu aja ngikutin kemauan mereka. Tau gak sih mereka udah berapa ratus, ribu, bahkan juta orang yang HIDUPNYA BERUBAH setelah baca cerita Mas Gagah? Terus cerita mau diganti jadi nyerempet gak syar’i? Kita kayaknya udah punya pengalaman deh betapa cerita yang bagus terus jadi ALAY demi setumpuk harta?

Kita BISA CARI SENDIRI kok uang untuk bikin film itu. Gak perlu ngemis-ngemis ke PH.

Akhirnya saya riset kecil-kecilan. Dan ternyata hasilnya MENGEJUTKAN.

Dihitung-hitung, sudah ada 109,943 orang di seluruh Indonesia yang jadi sahabat Mas Gagah. Kamu pasti salah satunya.

Kalau SETIAP sahabat Mas Gagah ini mau menyisihkan uang jajan bulan ini hanya Rp 50,000 saja, kita TERNYATA BISA bikin film itu SENDIRI. YES! Nggak pake bantuan orang lain. Dari kita, oleh kita, dan untuk kita. YES! Mas Gagah itu dalam beberapa bulan ke depan bisa ada di bioskop kita.

Saya YAKIN kita pasti mampu.

50,000 = Makan 2 porsi di KFC

50,000 = 1 Jilbab di Rabbani/Shafira

50,000 = 1 tiket nonton malem minggu

50,000 = ? ==> Ketika Mas Gagah Pergi The Movie.

Misi kita cuma 1: ingin ada tontonan suguhan untuk generasi muda kita yang berkualitas, bermartabat, bermanfaat, dan bisa mengubah hidup. Mungkin dari adanya film Mas Gagah, akan ada beberapa ratus orang memutuskan untuk jadi laki-laki salih dan perempuan salihah.

Kita mulai dari Mas Gagah.

Salam cinta,

Relawan Ketika Mas Gagah Pergi.

NB:

1. Kita kepikiran untuk bikin merchandise untuk 1000 orang pertama yang udah bersedia terlibat dalam pembuatan film Mas Gagah. Gak tau apa. Tapi pasti asik deh :D

2. Kak, boleh gak transfernya Rp 500,000? *Boleh banget say, kamu nanti ada hadiah spesial dari kita. Belum tau apa juga tapinya. :D

3. Kak, tiket GRATIS! *Yaa.. Boleh deh, tapi nanti ada syaratnya ya. Belum tau juga, tapi yang jelas untuk 1000 orang pertama.

4. Kak, kok gak tau terus sih? *Yaa… Hm… Gak tau! Wkwkwk Semua masih RAHASIA*

5. Kak… *Aduh, udah transfer aja dulu ya, bantuin kakak gih udah dikejar deadline syutiiing..!! :v

***

Nih, langsung aja yaaaa. HANYA transfer ke rekening berikut ini, tidak ke rekening yang lain :

1. Bank Syariah Mandiri 7033101858 a.n Forum Lingkar Pena,
2. Bank Mandiri 1570087778883 a.n Forum Lingkar Pena.
3. BNI Syariah 0259296140 a.n Yayasan Lingkar Pena.

Format konfirmasi:
Nama Donatur (spasi) kota asal (spasi) Jumlah (spasi) Rekening Yg di tuju
Contoh: BEJO BANDUNG 1000.000 BSM

Kirim ke : 085691746094

#2 Kalkulus

Sampailah aku di kelas. Cukup surprise juga melihat wajah-wajah membara dan mata yang berkilat-kilat dari setiap manusia yang duduk di kelas ini. Aku pikir, aku akan bertemu orang-orang yang ketawa haha-hihi di sudut kelas atau bergerombol diluar saat guru belum tiba – seperti masa SMA dulu. Namun kali ini tidak. Tampak barisan wajah-wajah yang seolah akan meraih IP-4 semua. Jujur aku terintimidasi. Muka-muka yang seperti lapar dan siap menerkam setiap lembar halaman buku kuliah. Entah faham entah tidak, wajah-wajah ini nampak serius sekali membaca dan menenteng buku putih nan sakral yang termasyhur itu. Bagian depannya tertulis huruf kapital tegas : KALKULUS. Di tepi bagian bawah tertulis siapa komposer barisan melodi angka-angka dan kalimat -kalimat matematika di dalamnya : Edwin J. Purcell. Nanti kau akan tahu, Purcell, adalah idola bagi mahasiswa teladan. Namun ianya juga bencana bagi mahasiswa gadungan.

Beberapa menit sebelum bapak dosen masuk, Purcell dan Calvin-Klein ini sepertinya sejajar dalam hal mode bagi mahasiswa baru. Ibarat pelengkap trend dan mode berpakaian yang paling mutakhir, belum lengkap jika hanya mengenakan kacamata Oakley, baju kaos polos Giordano, celana jeans belel, dan sepatu Nike atau Adidas, jika belum menenteng maha karya seni Pak Purcell. Nemun seiring berjalannya waktu, Purcell perlahan-lahan menjadi nama yang paling dikutuk, khususnya bagi para mahasiswa ITB yang kebetulan secara tak sengaja benar semua jawaban SPMB-nya. Aku tak main-main, jangan dirimu cepat bangga masuk ITB. Jangan-jangan jatah keberuntunganmu sudah kau habiskan untuk masuk, dan tinggal jatah deritamu yang harus kau nikmati dalam deraian peluh dan air mata selama 6 tahun ke depan untuk bisa lolos dengan selamat. Nanti, nanti ada saatnya aku akan bercerita tentang kutukan paling sempurna bagi Purcell, manusia pencipta buku Kalkulus dan Geometri Analitik bagi mahasiswa tingkat awal seperti kami ini.

Oya, ruangan kelas kami ini cukup unik. Gedung kelas ini mirip tempat duduk bioskop. Makin ke belakang, makin meninggi. Sehingga setiap mahasiswa yang mencoba untuk meletakkan kepalanya di meja akibat malamnya sibuk main Football Manager pasti akan segera tertangkap mata. Beberapa dosen yang cukup ekstrim sering memanfaatkan posisi kursi tribun ini untuk menjerat mahasiswa-mahasiswa yang tak bisa diharapkan. Ini salah satu momen yang paling ekstrim yang pernah saya rasakan di beberapa tahun mendatang: Continue reading

#1 Mahasiswa Baru

Bangunan itu nampak tua. Besar. Berwibawa.  Tudungnya melancip-lancip dari bahan organik. Hitam kusam gelap. Di bagian tepinya tampak seperti ijuk melambai-lambai, berderet memanjang menghiasi seluruh tepian gentengnya. Pilar-pilar tersusun rapi menyisihi koridor pejalan kaki. Di sampingnya padang hijau membentang luas dengan tulisan “Dilarang menginjak rumput”. Ini gedung tua, menir-menir Belanda pernah main bola dan main kelereng disini. Pak Presiden Soekarno pernah begadang sambil ngopi, atau bahkan mungkin pernah merayu salah seorang mahasiswi disini. Pun, mereka yang bersepatu lars tinggi juga pernah menghentak-hentak tanahnya, dan menghantamkan senapannya di rusuk dan kepala penghuninya. Ini gedung tua penyimpan sejarah peradaban manusia, banyak kisah cinta lahir disini, tak sedikit juga yang menghadap Ilahi ketika masih menjadi penghuni disini. Ini gedung istimewa, tak pernah jelas kapan lahirnya, kadang tahun 1920, kadang tahun 1958, tergantung suka-suka penghuninya. Ini gedung, sebagian orang sedih dan miris jika mendengar namanya, terutama yang sudah terlalu lama melapuk tak lulus-lulus. Sebagian yang lain berkebalikannya, saking bangganya, dari ujung rambut hingga ujung kaki dihiasi produk kokesma. Sebut saja topi, tas, kaos, celana, jaket, sepatu, pin. Bahkan buku tulis dan ballpoint-nya. Untung saja kokesma tak menjual celana dalam. Mungkin kalau dijual, akan habis dibeli juga. Gedung ini sering disebut : ITB.

Ya, ini hari pertama aku akan memasuki secara resmi gedung nan megah itu. Teringat masa-masa lalu dimana aku begitu inginnya menjadi bagian dari sejarahnya. Sejak ketika aku menyadari bahwa dari gedung ini pernah lahir banyak pemimpin bangsa, maka aku bertekad bulat sebulat-bulatnya untuk masuk. Tapi yang jelas bukan hanya masuk gedung saja lho, tukang gorengan juga sering kalau hanya masuk. Maksudku, aku bertekad untuk bisa menjadi bagian dari 3000 mahasiswa baru yang diterima oleh gedung ini setiap tahunnya. Dan hari ini, Alhamdulillah, takdir itu milikku.

Dulu aku sering aku berkhayal-khayal sendiri, betapa indahnya jika aku masuk menjadi mahasiswa disana. Namun di kemudian hari setelah aku renung-renungkan, ini tergolong dari lima penyakit yang harus dijauhi, kawan. Aku terus terang saja. Karena ketika sudah masuk menjadi bagian gedung ini, khayalanmu akan buyar seketika. Yang tersisa sebagian besar adalah deraan 99 rintangan dan 33 ujian demi mencari angka keramat dan lembar suci. Begitu banyak mahasiwa yang masuk membusungkan dada, bergaya karena dia raja di sekolahnya. Setelah masuk di gedung perkabungan ini, teman-temannya terpaksa harus mengheningkan cipta karena ianya syahid diatas kertas ujian kimia tanpa ampun. Ini aku sebut ia telah menderita lost-world syndrome. Mereka ini seperti orang yang  jalan adem-ayem, tiba-tiba… Dhuar!! Ia ditabrak dari belakang karena salah memilih jalan, ternyata ia sedang bersepeda fixie di jalur busway. Dikira tanah ini masih tanah jajahannya yang ia masih bisa berhaha-hihi. Padahal disini sudah bersemayam raja-raja bumi yang tak kenal ampun. Apalagi nanti kau akan kuceritakan, sebuah kerajaan kecil yang melegenda, yang doyan menghukumi para mahasiswa penderita lost-world syndrome. Continue reading

#3 Tragedi Hwang Ho

“Ilham…!! Kamu bawa kompor listrik ya?!!”

Tiba-tiba suara seperti nenek sihir menggelegar bak petir di malam hari itu, sedikit mengolengkan panciku yang masih mengepul-ngepulkan uapnya. Bagiku, kadang-kadang uap tersebut seringkali terlihat seperti tangan manusia tengah tertangkup, seolah-olah sedang menghormati Anders Celcius dan Daniel Fahreinheit yang telah berjasa menisbahkan angka-angka yang dapat meloncat setiap ia kegerahan.

Gawat.

Tanpa pikir panjang, kumatikan kompor dan langsung kutindihkan saja tumpukan baju kotor yang menggunung di sampingnya persis. Bluk! Sempurna, tak kelihatan. Dan tiba-tiba nenek sihir itu seketika muncul meraksasa di hadapanku. Sepertinya ia punya indera keenam yang mampu melihat setiap gerak-gerik anak kosnya yang tak sesuai aturan.

“Mana kompor listrikmu?!!”

“Nggak ada, bu. Tuh.. ga ada..”

“Itu kata Bik Puji?! Katanya tadi kamu diam-diam ambil panci dibawa keatas..”

“Ah nggak bu.. itu mungkin perasaan Bik Puji aja..”

Pandangan ibu kos menyelidik.

“Awas ya kalau ketahuan masak…!”

Aku diam saja menunduk. Si nenek sihir keluar. Aku tersenyum penuh kemenangan. Yes..!!

Sesaat. Gila.

Tercium bau hangus.

Dan benar, Kawan-kawan. Bajuku gosong dan berasap dimana-mana!

“Ilhaammmm………….!!!!!”

***

Jo podo nelongso..

Jamane jaman rekoso..

Urip pancen angel..

Kudune ra usah ngomel..

Ati kudu tentrem..

Nyambut gawe karo seneng..

Ulat ojo peteng..

Nek dikongkon yo sing temen..

La’o podo konco..

ati kerep loro..

ra gelem rekoso..

mbudidoyo..

Pancen kabeh podo, pingin urip mulyo

Wiwitan rekoso..

pancen nyoto..

(koes plus)

Continue reading